Kapanlagi.com - Bulan Dzulhijjah adalah salah satu periode paling sakral dalam kalender Islam, dan banyak umat Muslim belum menyadari bahwa 10 hari pertamanya bahkan lebih utama dibandingkan hari-hari di bulan Ramadan. Memahami keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah menjadi langkah awal agar kita tidak melewatkan kesempatan emas ini begitu saja.
Allah SWT telah menjadikan waktu tidaklah sama; ada bulan dan hari yang lebih mulia dibandingkan lainnya, sehingga pahala amal kebaikan dilipatgandakan sebagai rahmat bagi hamba-Nya. Keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah terletak pada berkumpulnya berbagai ibadah utama yang tidak ditemukan pada waktu lain sepanjang tahun.
Dilansir dari Islamic Relief Australia, sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan waktu berkumpulnya ibadah-ibadah agung seperti shalat, puasa, sedekah, dan haji — sesuatu yang tidak terjadi pada periode lain dalam setahun.
Puasa Arafah Menghapus Dosa Dua Tahun, Dalil, Keutamaan, dan Tata Cara LengkapnyaAdvertisement
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah merujuk pada periode 1 hingga 10 dari bulan ke-12 dalam kalender Hijriah, yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Dzulhijjah sendiri termasuk salah satu dari empat bulan haram bersama Muharram, Rajab, dan Dzulqadah — bulan-bulan yang Allah muliakan di dalam Al-Quran dan melarang perbuatan zalim di dalamnya.
Dzulhijjah merupakan salah satu dari empat bulan suci yang dipilih Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda bahwa setahun terdapat 12 bulan, di antaranya empat bulan haram — tiga berturut-turut yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar (HR. Bukhari). Pada sepuluh hari awalnya, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak segala bentuk amal saleh karena ganjarannya sangat besar.
Sebagaimana disampaikan Yaqeen Institute, keistimewaan 10 hari pertama Dzulhijjah terletak pada peluang untuk bertobat dengan tulus, mendekatkan diri kepada Allah, dan menggabungkan berbagai bentuk ibadah dengan cara yang tidak mungkin dilakukan di waktu lain sepanjang tahun. Inilah yang membedakan periode ini dari momen-momen ibadah lainnya.
Amalan Penghapus Dosa di Hari Arafah Lengkap Dalil, Doa, dan Panduan PuasanyaPara ulama menyepakati bahwa hari-hari pada 10 awal Dzulhijjah lebih utama daripada 10 hari terakhir Ramadan, meskipun malam-malam Ramadan memiliki keunggulan tersendiri karena adanya Lailatul Qadr. Dengan demikian, periode ini layak mendapatkan perhatian serius dari setiap Muslim yang ingin meraih keridhaan Allah SWT.
Baca juga: Urutan Ibadah Haji Lengkap dari Awal hingga Akhir
Berdasarkan penjelasan dari IslamQA, Allah SWT bersumpah demi sepuluh hari ini dalam Al-Quran, dan sumpah Allah atas sesuatu menunjukkan betapa penting dan besarnya manfaat yang terkandung di dalamnya. Allah berfirman, "Demi fajar, dan malam yang sepuluh" (QS. Al-Fajr: 1-2). Berikut lafal ayat tersebut dalam bahasa Arab:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan ulama lainnya dari generasi awal maupun akhir menyatakan bahwa ayat ini merujuk pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Ibn Kathir, dikutip dari IslamQA, menegaskan, "Ini adalah pendapat yang benar" (Tafsir Ibn Kathir, 8/413).
Manfaat Puasa Arafah yang Luar Biasa beserta Dalil, Niat, dan Amalan PendampingnyaDalil lainnya berasal dari hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِيْ أَياَّمُ اْلعُشْرِ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ
"Tidak ada hari yang amal saleh lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah)." Para sahabat bertanya, "Apakah lebih baik daripada jihad fi sabilillah?" Beliau bersabda, "Iya, lebih baik daripada jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwanya kemudian tidak pernah kembali lagi." (HR. Bukhari)
Ibn Hajar al-Asqalani, dikutip dari Islamic Relief Australia, menyatakan, "Alasan paling jelas mengapa sepuluh hari Dzulhijjah begitu istimewa adalah karena berkumpulnya ibadah-ibadah utama pada periode ini — shalat, puasa, sedekah, dan haji." Beliau menegaskan bahwa tidak ada periode lain yang memadukan semua ibadah agung ini secara bersamaan.
Terdapat banyak keistimewaan yang melekat pada periode ini, menjadikannya ladang pahala yang tidak boleh dilewatkan. Sebagaimana dilaporkan MuslimSG, Allah SWT tidak menjadikan semua hari dalam setahun memiliki nilai yang sama; Dia mengutamakan dan memberkahi hari-hari tertentu agar umat Islam terdorong untuk memperbanyak amal kebaikan di waktu-waktu tersebut. Berikut tujuh keutamaan utamanya:
Allah SWT bersumpah demi 10 hari pertama Dzulhijjah dalam Surah Al-Fajr ayat 1-2, dan sumpah Allah atas sesuatu menandakan betapa tinggi nilai serta manfaat yang terkandung di dalamnya. Ini menjadi bukti langsung dari Al-Quran tentang keagungan periode ini.
Kebaikan yang dilakukan pada 10 hari pertama Dzulhijjah melampaui amal kebaikan yang dilakukan di hari-hari lain sepanjang tahun, bahkan lebih utama daripada jihad, kecuali bagi seseorang yang mengorbankan jiwa dan hartanya di jalan Allah tanpa kembali lagi.
Puasa Arafah Menghapus Dosa Dua Tahun, Dalil, Keutamaan, dan Tata Cara LengkapnyaPada tanggal 9 Dzulhijjah, Allah SWT menurunkan wahyu terakhir yang menyempurnakan agama Islam, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Maidah ayat 3: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku telah meridhai Islam sebagai agama bagi kalian."
Salah satu alasan utama keistimewaan 10 hari ini adalah keberadaan Hari Arafah — hari terbesar dalam ibadah haji, hari pengampunan dosa, pembebasan dari neraka, dan dikabulkannya doa. Bagi yang tidak sedang melaksanakan haji, puasa di hari ini sangat dianjurkan.
Menurut hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi, berpuasa pada salah satu dari 10 hari Dzulhijjah setara dengan puasa satu tahun penuh, dan melaksanakan shalat tahajud pada salah satu malamnya setara dengan beribadah di Malam Lailatul Qadr.
Dzulhijjah menyaksikan dua peristiwa besar — ibadah haji dan perayaan Idul Adha — yang keduanya menjadi bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Penyembelihan hewan kurban meneladani kepatuhan Nabi Ibrahim AS atas perintah Allah.
Bagi yang merasa belum optimal beribadah selama Ramadan, 10 hari pertama Dzulhijjah menawarkan peluang kedua untuk meraih pahala berlimpah, pengampunan dosa, dan peningkatan ketakwaan.
Baca juga: Puasa Sunnah yang Dianjurkan Rasulullah Menjelang Idul Adha
Periode 10 hari pertama Dzulhijjah bukan sekadar waktu untuk menunggu datangnya Idul Adha, melainkan ladang amal yang harus dimanfaatkan secara maksimal. Umat Islam dianjurkan untuk berpuasa pada hari ke-1 hingga ke-9, memperbanyak dzikir dan takbir sejak hari pertama, meningkatkan bacaan Al-Quran, memberikan sedekah, serta mempersiapkan kurban sebelum Idul Adha tiba. Berikut amalan-amalan utamanya:
Disunnahkan mengucapkan takbir (Allahu Akbar), tahmid (Alhamdulillah), tahlil (La ilaha illallah), dan tasbih (Subhanallah) selama 10 hari pertama Dzulhijjah dengan suara keras di masjid, rumah, jalan, dan setiap tempat yang diperbolehkan untuk berdzikir. Berikut lafal takbir yang dianjurkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Amalan Penghapus Dosa di Hari Arafah Lengkap Dalil, Doa, dan Panduan PuasanyaAllahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar. Allahu Akbar wa lillaahil hamd.
Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah."
Nabi SAW biasa berpuasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah, hari Asyura, serta tiga hari setiap bulan (HR. Abu Dawud). Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah memiliki keutamaan istimewa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً
"Puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun — setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (HR. Muslim)
Banyak umat Islam yang menargetkan untuk menyelesaikan bacaan Al-Quran selama Dzulhijjah, atau setidaknya membaca jauh lebih banyak dari biasanya tanpa tekanan untuk mencapai target tertentu — yang terpenting adalah membaca dengan niat yang tulus.
Sedekah pada 10 hari ini memiliki bobot pahala yang luar biasa, baik berupa donasi langsung kepada yang membutuhkan, bantuan kepada anak yatim, janda, maupun korban bencana. Sedekah di hari-hari ini sangat kuat dampak spiritualnya karena pahala dilipatgandakan oleh Allah SWT.
Mulai tanggal 8 Dzulhijjah, umat Islam dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Makkah untuk melaksanakan haji — rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan sekali seumur hidup bagi yang mampu secara fisik, emosional, dan finansial. Bagi yang belum berkesempatan, tetaplah mengisi hari-hari ini dengan amalan lain. Mengacu pada Islamic Relief Worldwide, pahala setiap amal kebaikan yang dilakukan pada 10 hari ini dilipatgandakan, sehingga barang siapa tidak mampu menunaikan haji hendaknya memanfaatkan waktu yang diberkahi ini untuk memperbanyak amal saleh.
Memohon ampunan Allah dan merendahkan diri di hadapan-Nya melalui doa dan shalat malam merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah. Menghidupkan malam-malam 10 hari Dzulhijjah dengan qiyamul lail menjadi cara efektif untuk meraih kedekatan kepada-Nya.
Ibn Rajab, dikutip dari Life With Allah, menyatakan, "Raihlah keuntungan besar dengan memanfaatkan kesempatan berbuat kebaikan di hari-hari agung Dzulhijjah, karena hari-hari ini tak tergantikan dan tak ternilai harganya." Musim ibadah ini membawa banyak manfaat, termasuk kesempatan memperbaiki kesalahan dan menutupi kekurangan amal yang mungkin terlewatkan sebelumnya.
Kurban adalah amalan khas dari 10 hari Dzulhijjah — penyembelihan hewan pada Idul Adha sebagai bentuk penghormatan terhadap kepatuhan Nabi Ibrahim AS dan sebagai cara nyata untuk berbagi daging kepada keluarga, teman, dan mereka yang membutuhkan. Hukum berkurban menurut mayoritas ulama adalah sunnah muakkadah bagi yang mampu.
Baca juga: Bacaan Niat Puasa Idul Adha dan Penjelasan Lengkapnya
Orang yang berniat menyembelih hewan kurban disunnahkan untuk tidak memotong rambut dan kuku sejak awal 10 hari Dzulhijjah hingga selesai menyembelih kurbannya. Adab ini berdasarkan hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian melihat hilal Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian hendak berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya" (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa'i).
Seperti yang diberitakan IslamQA, hikmah di balik larangan ini adalah agar orang yang hendak berkurban menyerupai orang yang sedang berihram dalam sebagian aspek ritual haji, dan agar ia mendekatkan diri kepada Allah melalui niat kurbannya. Ia meninggalkan rambut dan kukunya hingga waktu penyembelihan, dengan harapan Allah menyelamatkan seluruh tubuhnya dari api neraka.
Perlu dicatat bahwa adab ini berlaku bagi orang yang meniatkan diri untuk berkurban, bukan bagi seluruh anggota keluarganya. Anggota keluarga dari orang yang berkurban tetap diperbolehkan memotong rambut dan kuku seperti biasa. Adab ini juga tidak membatasi aktivitas lain seperti mandi, memakai wewangian, atau menjalani kehidupan normal sehari-hari. Penyembelihan kurban sendiri dapat dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah (Idul Adha) hingga berakhirnya hari tasyrik pada tanggal 13 Dzulhijjah.
Bacaan Dzikir 10 Hari Pertama Dzulhijjah Lengkap Arab Latin dan ArtinyaMayoritas ulama dari Mazhab Maliki, Syafi'i, dan Hanbali berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah muakkadah, mengacu pada praktik Nabi Muhammad SAW yang senantiasa berkurban setiap tahun tanpa mewajibkan umatnya secara mutlak. Bagi yang belum mampu berkurban, sedekah dalam bentuk lain tetap bernilai besar di sisi Allah SWT pada hari-hari mulia ini.
Baca juga: Pengertian Haji Wada dan Sejarah Haji Perpisahan Nabi Muhammad SAW
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah periode tanggal 1 hingga 10 dari bulan ke-12 dalam kalender Hijriah. Periode ini mencakup rangkaian ibadah besar seperti ibadah haji, Hari Arafah, dan perayaan Idul Adha.
Allah SWT bersumpah demi hari-hari ini dalam Al-Quran untuk memuliakan dan meninggikan kedudukannya, dan hari-hari ini merupakan waktu terbaik untuk beramal saleh karena tidak ada waktu yang lebih utama untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah.
Para ulama menyatakan bahwa hari-hari pada 10 awal Dzulhijjah lebih utama daripada 10 hari terakhir Ramadan. Namun, malam-malam Ramadan tetap memiliki keunggulan tersendiri karena adanya Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan.
Keutamaan Puasa Arafah Beserta Dalil, Niat, dan Amalan Sunnah yang DianjurkanNabi SAW bersabda bahwa puasa pada Hari Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang (HR. Muslim). Puasa ini sangat dianjurkan bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
Setelah puasa Arafah berakhir, umat Islam menyambut Hari Raya Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah, dan Islam melarang pelaksanaan puasa dalam bentuk apa pun pada hari ini karena merupakan hari raya umat Islam yang ditandai dengan ibadah kurban dan shalat Id. Larangan ini berlanjut selama hari-hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah).
Bagi yang tidak mampu pergi haji, hendaknya memanfaatkan waktu yang diberkahi ini untuk memperbanyak amal saleh seperti bersedekah, menghormati orang tua, menyambung silaturahmi, dan menyeru kepada kebaikan. Selain itu, berpuasa, berdzikir, membaca Al-Quran, dan menghadiri shalat Idul Adha juga menjadi amalan yang sangat besar pahalanya.
Takbir dimulai sejak masuknya bulan Dzulhijjah (takbir mutlak) dan berlangsung hingga akhir hari tasyrik (13 Dzulhijjah), sedangkan takbir muqayyad dibaca setelah shalat berjamaah dari Subuh hari Arafah sampai Ashar hari tasyrik terakhir. Takbir merupakan salah satu amalan yang paling ditekankan di hari-hari mulia ini.
Memasuki 10 hari pertama Dzulhijjah, setiap Muslim memiliki kesempatan yang sama untuk meraih keberkahan dan ampunan dari Allah SWT. Tidak ada alasan untuk melewatkan periode istimewa ini, baik bagi yang sedang menunaikan haji maupun yang beribadah di rumah masing-masing. Semoga Allah SWT memberi kekuatan dan taufik-Nya agar kita dapat mengisi sepuluh hari pertama Dzulhijjah dengan amal-amal saleh yang diterima sebagai pemberat timbangan kebaikan di hari yang mulia nanti.
Daftar Referensi
(kpl/fed)