Kapanlagi.com - Puasa di bulan Rabiul Awal menjadi salah satu amalan yang banyak dicari umat Islam menjelang dan selama bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ibadah ini tergolong puasa sunnah yang pelaksanaannya fleksibel dan tidak mengikat.
Bulan Rabiul Awal dikenal penuh keberkahan karena menyimpan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Tidak heran bila banyak Muslim ingin memperbanyak ibadah, termasuk berpuasa, pada bulan istimewa ini.
Meski dianjurkan, puasa di bulan Rabiul Awal tetap perlu dipahami dasar hukum dan ketentuannya. Pemahaman yang benar akan membuat ibadah lebih terarah dan bernilai di sisi Allah SWT.
Advertisement
Mengutip Muslim Aid, nama "Rabiul Awal" berarti "musim semi pertama", dan bulan ini menjadi penanda tiga peristiwa besar dalam kehidupan Rasulullah SAW, yaitu kelahiran, hijrah, sekaligus wafatnya beliau.
Puasa di bulan Rabiul Awal adalah ibadah puasa sunnah yang dikerjakan selama berlangsungnya bulan ketiga dalam penanggalan Hijriah. Puasa ini bukan jenis puasa baru, melainkan puasa-puasa sunnah yang memang sudah dituntunkan Rasulullah SAW dan kebetulan jatuh pada bulan tersebut.
Rabiul Awal termasuk salah satu dari dua belas bulan dalam kalender Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa. Bulan ini paling dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sehingga banyak umat Islam menjadikannya momen untuk memperbanyak amal saleh.
Mengenai tanggal kelahiran beliau, para ulama memiliki beberapa pendapat. Ibnu Katsir, dikutip dari Islamic Relief, menyatakan, "Dikatakan bahwa beliau dilahirkan pada tanggal dua belas bulan tersebut. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Ishaq."
Karena tidak ada puasa wajib yang ditetapkan khusus pada bulan ini, puasa di bulan Rabiul Awal sepenuhnya bersifat sunnah. Pelaksanaannya mengikuti puasa sunnah yang lazim, seperti puasa Senin-Kamis maupun puasa pertengahan bulan, dan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW kerap menjadi pengingat untuk menghidupkan sunnah beliau.
Baca juga: makna dan keutamaan 12 bulan Hijriah
Secara umum, hukum puasa di bulan Rabiul Awal adalah sunnah. Artinya, ibadah ini sangat dianjurkan namun tidak wajib, sehingga orang yang meninggalkannya pun tidak berdosa.
Dasar utama puasa ini sebenarnya bukan karena bulannya, melainkan karena mengikuti sunnah puasa harian Rasulullah SAW. Ketika ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjelaskan bahwa Senin adalah hari kelahiran dan hari diturunkannya wahyu kepadanya.
"Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku." (HR Muslim)
Merujuk IslamOnline, tidak ada amalan ritual khusus dan tidak ada keutamaan tambahan untuk berpuasa pada tanggal 12 Rabiul Awal secara spesifik dibandingkan hari lainnya. Para ulama juga mengingatkan agar tidak mengkhususkan puasa pada hari Jumat saja, sehingga bila tanggal yang diniatkan bertepatan dengan Jumat sebaiknya digandeng dengan sehari sebelum atau sesudahnya. Meski begitu, memperbanyak puasa sunnah pada bulan mulia tetap tergolong amal yang baik.
Poin penting lainnya, puasa sunnah sebaiknya tidak mendahului kewajiban. Jika seseorang masih memiliki utang qadha puasa Ramadan, mendahulukan kewajiban tersebut jauh lebih utama, sebab anjuran puasa sunnah di bulan-bulan tertentu berlaku selama tidak mengganggu kewajiban dan kondisi kesehatan.
Baca juga: amalan sunnah dan keutamaan bulan Muharram
Ada beberapa pilihan puasa sunnah yang bisa dikerjakan sepanjang bulan ini sesuai kemampuan masing-masing. Sebagaimana disampaikan Kementerian Agama melalui kemenag.go.id, berpuasa termasuk salah satu amalan sunnah yang dianjurkan di bulan Rabiul Awal, di samping memperbanyak shalawat, memperingati Maulid Nabi, serta bersedekah.
Baca juga: keutamaan puasa Senin Kamis dan ragam bacaan niat puasa.
Keutamaan puasa di bulan Rabiul Awal pada dasarnya mengalir dari keutamaan puasa sunnah itu sendiri, ditambah kemuliaan waktu pelaksanaannya. Berikut sejumlah keutamaan yang bisa diraih.
Selain dimensi spiritual, puasa juga memberi manfaat kesehatan yang telah diteliti secara ilmiah. Mark Mattson, ahli saraf dari Johns Hopkins yang meneliti puasa selama 25 tahun, dikutip dari Johns Hopkins Medicine, menjelaskan, "Jika seseorang makan tiga kali sehari ditambah camilan dan tidak berolahraga, maka setiap kali makan tubuhnya hanya membakar kalori itu dan tidak membakar cadangan lemaknya."
"Amal-amal diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku ingin amalku diperlihatkan saat aku sedang berpuasa." (HR Tirmidzi)
Secara teknis, tata cara puasa di bulan Rabiul Awal tidak berbeda dengan puasa sunnah lainnya. Yang membedakan hanyalah niat sesuai jenis puasa yang dikerjakan. Berikut panduan ringkasnya.
Selain berpuasa, bulan ini juga tepat untuk memperbanyak amalan pendamping, seperti memperbanyak shalawat, mempelajari sirah, serta bersedekah dan menyantuni anak yatim mengingat Nabi sendiri lahir sebagai yatim. Anda dapat menyisipkan kata mutiara Maulid Nabi dan ucapan penuh makna di hari kelahiran Rasulullah sebagai pengingat kebaikan. Di Nusantara, bulan ini juga dikenal lewat penamaan bulan Mulud dalam kalender Jawa, sebagaimana disebutkan dalam berbagai panduan nama-nama bulan Hijriah dan Masehi.
Tidak ada puasa wajib atau puasa yang dikhususkan hanya untuk bulan ini. Yang dianjurkan adalah puasa sunnah umum seperti Senin-Kamis dan Ayyamul Bidh yang kebetulan jatuh pada bulan Rabiul Awal.
Boleh berpuasa sunnah pada tanggal itu, tetapi tidak ada dalil yang memberi keutamaan khusus untuk tanggal 12. Jika bertepatan dengan hari Senin, puasanya mengikuti sunnah puasa Senin, bukan karena tanggalnya.
Puasa Senin-Kamis mengikuti hari Senin dan Kamis, sedangkan Ayyamul Bidh jatuh pada tanggal 13, 14, dan 15. Awal bulan Rabiul Awal sendiri ditentukan melalui rukyatul hilal sehingga tanggal masehinya dapat berbeda setiap tahun.
Pada akhirnya, puasa di bulan Rabiul Awal adalah kesempatan baik untuk menghidupkan sunnah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selama diniatkan ikhlas, dilakukan sesuai kemampuan, dan tidak melalaikan kewajiban, ibadah ini dapat menjadi ladang pahala sekaligus wujud cinta kepada Rasulullah SAW.
Daftar Referensi
(kpl/cel)