Cara Menggunakan Tampon yang Benar dan Aman untuk Pemula
Kekurangan dan Risiko Penggunaan Tampon (h)
Kapanlagi.com - Tampon merupakan alternatif produk sanitasi menstruasi yang semakin populer di kalangan wanita aktif. Berbentuk silinder kecil dan terbuat dari bahan katun atau rayon, tampon dimasukkan ke dalam vagina untuk menyerap darah haid dari dalam.[1] Memahami cara menggunakan tampon dengan tepat sangat penting agar proses pemakaiannya nyaman dan aman.
Berbeda dengan pembalut yang ditempelkan pada celana dalam, tampon bekerja dengan menyumbat sekaligus menyerap darah menstruasi agar tidak keluar dari lubang vagina.[2] Pada ujung tampon terdapat benang penarik yang berfungsi untuk mengeluarkan tampon setelah digunakan. Produk ini tersedia dalam berbagai ukuran daya serap yang bisa disesuaikan dengan volume aliran menstruasi.
Bagi pemula, cara menggunakan tampon mungkin terasa menakutkan pada awalnya. Namun, dengan panduan yang tepat dan sedikit latihan, proses pemasangan tampon bisa dilakukan dengan mudah.[3] Tampon sangat cocok digunakan saat berenang, berolahraga, atau melakukan aktivitas fisik lainnya tanpa khawatir kebocoran.
Advertisement
Menurut Healthline, tampon merupakan produk kesehatan wanita yang aman digunakan selama mengikuti petunjuk pemakaian dengan benar dan menggantinya secara rutin setiap 4 hingga 8 jam.[4]
1. 1. Cara Menggunakan Tampon dengan Persiapan yang Tepat
Sebelum mulai memasang tampon, persiapan yang matang sangat diperlukan agar prosesnya berjalan lancar. Cara menggunakan tampon yang benar dimulai dari langkah-langkah persiapan berikut ini.[1]
Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir: Kebersihan tangan adalah hal paling penting sebelum menyentuh tampon. Tangan yang kotor dapat membawa bakteri ke area vagina yang sensitif terhadap infeksi.[2]
Pilih tampon yang masih tersegel: Gunakan tampon yang baru dari kemasan yang masih tertutup rapat. Hindari memakai tampon yang sudah terbuka karena bisa jadi sudah tidak steril.[2]
Pilih ukuran daya serap yang sesuai: Untuk penggunaan pertama kali, disarankan memilih tampon berukuran reguler yang lebih mudah dan nyaman digunakan.[5]
Periksa kekuatan benang penarik: Sebelum digunakan, tarik benang pada ujung tampon untuk memastikan benang tersebut cukup kuat dan tidak mudah terlepas.[2]
2. 2. Cara Menggunakan Tampon dengan Posisi Tubuh yang Nyaman
Menemukan posisi tubuh yang tepat adalah kunci keberhasilan dalam cara menggunakan tampon, terutama bagi pemula. Tubuh yang rileks akan membuat proses pemasangan jauh lebih mudah.[3]
Pilih posisi yang paling nyaman: Kamu bisa memilih posisi jongkok, duduk di toilet dengan lutut terbuka, atau berdiri dengan satu kaki diangkat ke atas kursi toilet.[6]
Rilekskan tubuh sepenuhnya: Atur napas agar tubuh terasa lebih santai. Ketegangan pada otot vagina akan membuat proses pemasangan menjadi sulit dan tidak nyaman.[7]
Buka kaki dengan lebar yang cukup: Posisi kaki yang terbuka lebar akan memudahkan akses ke area vagina saat memasukkan tampon.[7]
Menurut Hello Sehat, beberapa wanita memilih posisi jongkok sambil mengangkat sebelah kaki dan menahannya pada tembok atau bangku sebagai posisi yang paling nyaman saat memasang tampon.[2]
3. 3. Cara Menggunakan Tampon dengan Memasukkannya ke Vagina
Langkah pemasangan merupakan inti dari cara menggunakan tampon. Proses ini memerlukan ketelitian dan kesabaran, terutama bagi yang baru pertama kali mencoba.[3]
Buka bibir vagina dengan satu tangan: Gunakan satu tangan untuk membuka labia vagina agar lubang vagina terlihat jelas dan tampon lebih mudah dimasukkan.[2]
Pegang tampon dengan tangan yang dominan: Pastikan posisi benang tampon menjuntai ke bagian bawah, bukan ke atas.[8]
Masukkan tampon secara perlahan: Arahkan ujung tampon ke dalam vagina pada sudut sekitar 45 derajat. Dorong secara lembut hingga tampon masuk sepenuhnya.[6]
Gunakan aplikator jika tersedia: Jika tampon dilengkapi aplikator, geser bagian aplikator yang halus ke dalam vagina, lalu dorong plunger untuk melepaskan tampon di dalamnya.[6]
Pastikan tampon tidak terasa mengganjal: Tampon yang terpasang dengan benar seharusnya tidak terasa sama sekali. Jika masih terasa, keluarkan dan coba lagi dengan tampon baru.[3]
4. 4. Cara Menggunakan Tampon dan Memastikan Benang Tetap di Luar
Setelah tampon berhasil dimasukkan, ada langkah penting yang tidak boleh dilewatkan. Cara menggunakan tampon yang benar mengharuskan benang penarik tetap berada di luar vagina agar proses pelepasan nantinya mudah dilakukan.[2]
Dorong tampon hingga masuk sempurna: Gunakan jari telunjuk untuk memastikan seluruh bagian tampon telah masuk ke dalam vagina dengan posisi yang tepat.[2]
Pastikan benang menggantung di luar: Periksa bahwa ujung benang tampon tetap berada di luar vagina. Benang ini akan digunakan untuk menarik tampon saat ingin dilepas.[3]
Tarik aplikator keluar dengan lembut: Jika menggunakan tampon dengan aplikator, tarik aplikator keluar dari vagina setelah tampon terpasang, lalu buang aplikator ke tempat sampah.[6]
Cuci tangan kembali: Setelah selesai memasang tampon, cuci tangan dengan sabun dan air bersih untuk menjaga kebersihan.[1]
5. 5. Cara Menggunakan Tampon dan Mengetahui Waktu Penggantian
Mengetahui kapan harus mengganti tampon sama pentingnya dengan memahami cara menggunakan tampon itu sendiri. Penggantian yang tepat waktu akan mencegah risiko kesehatan yang tidak diinginkan.[3]
Ganti tampon setiap 4 hingga 8 jam: Jangan pernah menggunakan satu tampon lebih dari 8 jam, bahkan saat tidur. Penggunaan yang terlalu lama berisiko menyebabkan infeksi.[4]
Perhatikan tanda tampon sudah penuh: Jika tampon mulai bergeser atau terasa keluar, kemungkinan tampon sudah penuh dan harus segera diganti.[5]
Cek kondisi benang secara berkala: Jika tali tampon mulai berubah warna menjadi merah atau coklat, itu pertanda tampon perlu diganti dengan yang baru.[5]
Gunakan pengingat atau alarm: Karena tampon tidak terasa saat dipakai, banyak wanita lupa menggantinya. Pasang alarm di ponsel sebagai pengingat waktu penggantian.[7]
Menurut Halodoc, tampon bisa dipakai selama kurang lebih 8 jam tergantung pada aktivitas dan volume darah yang keluar, namun disarankan untuk menggantinya lebih sering jika aliran darah sedang deras.[3]
6. 6. Cara Melepas Tampon dengan Benar
Proses melepas tampon jauh lebih mudah dibandingkan memasangnya. Berikut langkah-langkah yang perlu diikuti agar cara menggunakan tampon dari awal hingga akhir berjalan dengan aman.[2]
Cari posisi yang nyaman: Posisikan tubuh seperti saat hendak memasukkan tampon, yaitu dengan berjongkok atau duduk sambil mengangkat salah satu kaki.[2]
Temukan benang tampon: Cari benang tampon yang berada di bagian luar vagina.[2]
Tarik benang dengan lembut: Sambil menarik napas, tarik benang tersebut secara perlahan dan lurus hingga tampon keluar sepenuhnya. Jangan menarik secara miring karena akan menyebabkan ketidaknyamanan.[5]
Mengejan jika tampon sulit keluar: Jika tampon tidak langsung keluar, cobalah untuk sedikit mengejan agar tampon terdorong ke arah luar.[2]
Bungkus dan buang tampon bekas: Bungkus tampon bekas dengan tisu atau pembungkusnya, lalu buang ke tempat sampah. Jangan membuang tampon ke dalam toilet karena dapat menyebabkan penyumbatan.[6]
7. 7. Cara Menggunakan Tampon dengan Aman untuk Mencegah Risiko TSS
Salah satu risiko yang sering dikaitkan dengan penggunaan tampon adalah toxic shock syndrome (TSS). Memahami cara menggunakan tampon yang aman akan membantu meminimalkan risiko ini.[1]
Gunakan tampon dengan daya serap terendah yang sesuai: Jangan menggunakan tampon super atau ultra jika aliran darah tidak terlalu banyak. Pilih daya serap yang sesuai dengan volume menstruasi.[1]
Jangan gunakan tampon lebih dari 8 jam: Rutin mengganti tampon sangat penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri berlebih yang dapat menyebabkan TSS.[9]
Bergantian dengan pembalut: Pertimbangkan untuk menggunakan tampon saat beraktivitas di siang hari dan beralih ke pembalut saat tidur malam.[1]
Hindari menggunakan dua tampon sekaligus: Memakai dua tampon bersamaan sangat berbahaya dan dapat menyebabkan infeksi serius.[1]
Kenali gejala TSS: Waspadai gejala seperti demam tinggi mendadak, muntah, diare, nyeri otot, dan ruam kemerahan. Jika mengalami gejala tersebut, segera lepas tampon dan hubungi dokter.[9]
Menurut Alodokter, rutin mengganti tampon sangat penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri berlebih yang dapat menyebabkan sindrom syok toksik, yaitu kondisi langka yang bisa berakibat fatal.[9]
8. Kelebihan Menggunakan Tampon Saat Menstruasi
Tampon memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya menjadi pilihan favorit banyak wanita di seluruh dunia. Berikut beberapa kelebihan tampon yang perlu diketahui sebelum memutuskan untuk menggunakannya.[3]
Ukuran kecil dan mudah dibawa: Tampon berukuran sangat kompak, panjangnya tidak lebih dari 3 hingga 5 cm, sehingga bisa dimasukkan ke dalam saku atau dompet dengan mudah.[2]
Cocok untuk berenang saat haid: Tampon adalah pilihan terbaik jika ingin berenang selama menstruasi karena menyerap darah dari dalam dan tidak menyerap air kolam.[3]
Tidak terlihat dari luar: Saat menggunakan pakaian ketat seperti celana legging atau rok pensil, tampon tidak akan terlihat sehingga penampilan tetap terjaga.[2]
Bebas bau tidak sedap: Tampon menyerap darah sebelum terpapar udara, sehingga membantu mengurangi risiko bau yang tidak diinginkan selama menstruasi.[3]
Mendukung aktivitas fisik: Tampon dirancang agar tetap tersangga oleh otot-otot vagina sehingga tidak mudah bergeser, cocok untuk wanita yang aktif berolahraga.[2]
Perlindungan hingga 8 jam: Beberapa jenis tampon bisa memberikan perlindungan cukup lama, sehingga tidak perlu terlalu sering menggantinya.[3]
9. Kekurangan dan Risiko Penggunaan Tampon
Di balik berbagai kelebihannya, tampon juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu dipertimbangkan. Memahami risiko ini akan membantu kamu menggunakan tampon dengan lebih bijak dan aman.
Salah satu kekurangan utama tampon adalah proses pemasangannya yang lebih rumit dibandingkan pembalut biasa. Bagi pemula, memasukkan tampon ke dalam vagina bisa terasa tidak nyaman dan memerlukan beberapa kali percobaan sebelum terbiasa.[3] Selain itu, tampon juga dapat menyerap kelembapan alami vagina sehingga berpotensi menyebabkan kekeringan dan iritasi jika digunakan terlalu lama.[3]
Risiko toxic shock syndrome (TSS) menjadi kekhawatiran utama dalam penggunaan tampon. TSS adalah kondisi langka yang terjadi akibat bakteri masuk ke dalam tubuh melalui aliran darah. Meskipun angka kejadiannya cenderung rendah, penting untuk selalu mengganti tampon secara teratur dan tidak menggunakannya melebihi waktu yang dianjurkan.[2]
Studi yang diterbitkan dalam Frontiers in Reproductive Health menemukan bahwa pemakaian tampon dapat memicu iritasi yang ditandai dengan rasa terbakar, perih, dan gatal. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk tidak menggunakan tampon semalaman dan memilih daya serap yang sesuai dengan kebutuhan.[3]
Tampon juga memiliki dampak terhadap lingkungan karena banyak produk yang terbuat dari bahan sintetis dan tidak mudah terurai. Untuk mengurangi dampak lingkungan, pertimbangkan untuk menggunakan tampon yang terbuat dari serat alami atau memilih alternatif yang lebih ramah lingkungan.[3]
10. Mitos Seputar Penggunaan Tampon yang Perlu Diluruskan
Banyak mitos beredar seputar penggunaan tampon yang membuat sebagian wanita enggan mencobanya. Berikut beberapa mitos umum beserta fakta yang sebenarnya agar kamu tidak ragu dalam memahami cara menggunakan tampon.
Mitos: Tampon bisa hilang di dalam vagina — Faktanya, saluran vagina hanya sekitar tiga hingga lima inci dan ujungnya adalah serviks yang mustahil dilewati tampon. Tidak ada hubungan antara vagina dan rongga perut, sehingga tampon tidak mungkin hilang di dalam tubuh.[1]
Mitos: Tampon membuat vagina kering — Tampon memang dapat menyerap sebagian kelembapan vagina, namun bukan penyebab utama vagina kering. Perubahan hormon, kebiasaan douching berlebihan, dan faktor lainnya lebih berpengaruh.[1]
Mitos: Tampon merobek selaput dara — Selaput dara memiliki bukaan pada bagian tengahnya dan bersifat elastis sehingga bisa meregang. Sangat kecil kemungkinannya selaput dara robek ketika memakai tampon.[2]
Mitos: Keperawanan hilang karena tampon — Hilangnya keperawanan hanya terjadi jika vagina dipenetrasi oleh penis saat berhubungan seks, bukan karena memasukkan benda seperti tampon.[2]
Mitos: Tidak perlu ganti tampon setelah buang air kecil — Meskipun saluran urine dan vagina berbeda, menurut Healthline, tali tampon yang basah karena urine bisa menjadi jalur bagi bakteri untuk masuk ke vagina.[1]
11. Tampon vs Pembalut, Mana yang Lebih Baik?
Memilih antara tampon dan pembalut sebenarnya tergantung pada kebutuhan, kenyamanan, dan aktivitas yang dilakukan selama menstruasi. Kedua produk ini memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing yang perlu dipertimbangkan.
Pembalut lebih cocok untuk wanita yang mudah lupa mengganti produk menstruasi karena ukurannya yang besar selalu mengingatkan bahwa sedang haid. Pembalut juga lebih praktis digunakan, tidak memiliki risiko TSS, dan tersedia dalam berbagai ukuran untuk penggunaan siang maupun malam hari.[2] Namun, pembalut tidak bisa digunakan untuk berenang dan mudah bergeser saat melakukan aktivitas berat.
Tampon lebih cocok untuk wanita yang aktif bergerak karena dirancang agar tetap tersangga oleh otot vagina dan tidak mudah bergeser. Tampon juga menjadi satu-satunya pilihan jika ingin berenang saat menstruasi dan tidak akan terlihat dari luar meskipun mengenakan pakaian ketat.[2]
Menurut Klikdokter, penggunaan tampon banyak dipilih oleh wanita dengan mobilitas tinggi seperti travel vlogger, model, instruktur olahraga, dan atlet renang.[8] Solusi terbaik adalah menggunakan keduanya secara bergantian sesuai kebutuhan, misalnya tampon saat beraktivitas di siang hari dan pembalut saat tidur malam.
12. Tips Aman Menggunakan Tampon untuk Pemula
Bagi yang baru pertama kali mencoba, berikut beberapa tips penting agar cara menggunakan tampon terasa lebih mudah dan aman. Tips ini akan membantu pemula melewati pengalaman pertama dengan lebih percaya diri.
Mulai dengan ukuran reguler: Pilih tampon berukuran reguler dengan aplikator untuk memudahkan proses pemasangan pertama kali.[7]
Gunakan sedikit pelumas di ujung tampon: Jika mengalami kesulitan, oleskan sedikit pelumas berbahan dasar air di ujung tampon untuk memudahkan pemasangan.[1]
Jangan tegang saat memasang: Ketegangan membuat dinding vagina menjadi kaku dan sensitif. Tarik napas dalam-dalam dan rilekskan tubuh sebelum memasukkan tampon.[7]
Cuci tangan sebelum dan sesudah: Selalu jaga kebersihan tangan untuk mencegah infeksi saluran kemih dan infeksi vagina.[1]
Ganti tampon setiap 4 hingga 8 jam: Jangan pernah meninggalkan tampon lebih dari 8 jam di dalam vagina.[9]
Hindari penggunaan tampon saat tidur malam: Jika tetap ingin menggunakannya saat tidur, pasang alarm setiap beberapa jam agar bangun untuk menggantinya.[2]
Jangan ragu bertanya: Jika mengalami kesulitan, jangan ragu untuk bertanya pada orang terdekat yang sudah berpengalaman menggunakan tampon atau berkonsultasi dengan dokter.[1]
13. Ukuran dan Jenis Tampon yang Tersedia
Memilih ukuran tampon yang tepat sangat penting untuk kenyamanan dan efektivitas penggunaannya. Tampon tersedia dalam beberapa tingkat daya serap yang bisa disesuaikan dengan volume aliran menstruasi setiap wanita.
Light: Daya serap hingga 6 gram, cocok untuk hari-hari terakhir menstruasi dengan aliran darah yang sangat ringan.[7]
Reguler: Daya serap 6 hingga 9 gram, pilihan terbaik untuk pemula dan aliran darah normal.[7]
Super: Daya serap 9 hingga 12 gram, untuk hari-hari dengan aliran darah yang cukup deras.[7]
Super Plus: Daya serap 11 hingga 15 gram, untuk aliran darah yang sangat deras.[7]
Ultra: Daya serap 15 hingga 18 gram, untuk aliran darah yang sangat banyak.[7]
Selain perbedaan daya serap, tampon juga tersedia dalam dua jenis berdasarkan cara pemasangannya, yaitu tampon dengan aplikator dan tampon tanpa aplikator yang dimasukkan menggunakan jari. Tampon dengan aplikator umumnya lebih direkomendasikan untuk pemula karena lebih mudah digunakan.[6]
Baca juga: Rahasia Masa Subur Wanita dan Cara Mengenali Tanda-Tandanya
14. Kapan Sebaiknya Tidak Menggunakan Tampon
Meskipun tampon merupakan produk yang aman, ada beberapa kondisi di mana penggunaannya sebaiknya dihindari. Mengetahui batasan ini penting agar cara menggunakan tampon tetap memberikan manfaat tanpa menimbulkan masalah kesehatan.
Tampon sebaiknya tidak digunakan saat tidur malam dalam waktu lama karena risiko melebihi batas waktu 8 jam. Jika tetap ingin menggunakannya, pastikan untuk memasang alarm agar bisa bangun dan menggantinya tepat waktu.[2] Selain itu, hindari penggunaan tampon saat mengalami infeksi vagina atau sedang dalam pengobatan menggunakan obat vaginal karena tampon dapat menyerap obat dan mengurangi efektivitas pengobatan.
Wanita yang baru saja melahirkan juga disarankan untuk tidak menggunakan tampon hingga mendapat persetujuan dari dokter. Hal ini karena area vagina masih dalam proses pemulihan dan lebih rentan terhadap infeksi. Jika mengalami gejala tidak biasa seperti demam, nyeri hebat, atau keputihan berbau saat menggunakan tampon, segera lepas tampon dan konsultasikan dengan dokter.[2]
Menurut Alodokter, jika mengalami keluhan akibat pemakaian tampon seperti ruam kemerahan dan gatal di vagina, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat penanganan yang sesuai.[9]
15. FAQ
Apakah cara menggunakan tampon itu menyakitkan?
Menggunakan tampon seharusnya tidak menyakitkan jika dilakukan dengan benar. Kuncinya adalah memastikan tubuh dalam keadaan rileks saat memasukkan tampon dan memilih ukuran yang sesuai. Jika terasa sakit, keluarkan tampon dan coba lagi dengan posisi yang lebih nyaman.[2]
Berapa lama tampon boleh digunakan?
Tampon sebaiknya diganti setiap 4 hingga 8 jam. Jangan pernah menggunakan tampon lebih dari 8 jam karena berisiko menyebabkan infeksi dan toxic shock syndrome. Jika aliran darah sedang deras, ganti tampon lebih sering dari waktu tersebut.[3]
Apakah tampon bisa digunakan untuk berenang?
Ya, tampon adalah pilihan terbaik untuk berenang saat menstruasi. Tampon menyerap darah dari dalam vagina sehingga tidak ada risiko bocor ke air kolam. Pastikan menggunakan tampon baru sebelum berenang dan menggantinya segera setelah selesai.[3]
Apakah cara menggunakan tampon bisa merobek selaput dara?
Selaput dara memiliki bukaan alami di bagian tengahnya dan bersifat elastis sehingga bisa meregang. Sangat kecil kemungkinannya selaput dara robek akibat penggunaan tampon. Keperawanan hanya hilang melalui hubungan seksual, bukan karena memasukkan tampon.[2]
Apakah tampon bisa hilang di dalam vagina?
Tidak, tampon tidak bisa hilang di dalam vagina. Saluran vagina memiliki panjang terbatas dan ujungnya adalah serviks yang tidak mungkin dilewati tampon. Jika benang tampon sulit ditemukan, gunakan jari yang bersih untuk mencarinya atau segera ke dokter.[1]
Apakah remaja boleh menggunakan tampon?
Ya, remaja boleh menggunakan tampon asalkan memahami cara menggunakan tampon yang benar dan mengikuti petunjuk pemakaian. Disarankan untuk memulai dengan ukuran reguler atau light dan menggunakan tampon dengan aplikator agar lebih mudah.[3]
Apa yang harus dilakukan jika tampon terasa tidak nyaman?
Jika tampon terasa mengganjal atau tidak nyaman, kemungkinan posisinya belum tepat. Keluarkan tampon tersebut dan coba lagi dengan yang baru. Tampon yang terpasang dengan benar seharusnya tidak terasa sama sekali karena berada di bagian vagina yang memiliki sedikit ujung saraf.[2]
Itulah panduan lengkap cara menggunakan tampon yang benar dan aman. Selalu utamakan kebersihan dan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika mengalami keluhan selama penggunaan tampon. Dengan pemahaman yang tepat, tampon bisa menjadi pilihan produk menstruasi yang nyaman dan mendukung aktivitas sehari-hari.
Daftar Referensi
- Orami. Cara Memakai Tampon yang Aman dan Benar, Jangan Sampai Salah! Diakses pada 10 Maret 2026, dari https://www.orami.co.id/magazine/tampon
- Hello Sehat. Cara Pakai Tampon yang Benar Plus Semua Informasi Penting Tentangnya. Diakses pada 10 Maret 2026, dari https://hellosehat.com/wanita/menstruasi/tahap-cara-pakai-tampon/
- Halodoc. Perlu Tahu, Ini 5 Kelebihan dan Kekurangan Tampon. Diakses pada 10 Maret 2026, dari https://www.halodoc.com/artikel/perlu-tahu-ini-5-kelebihan-dan-kekurangan-tampon
- Healthline. Tampons vs. Pads: The Ultimate Showdown. Diakses pada 10 Maret 2026, dari https://www.healthline.com/health/tampons-vs-pads
- Medical News Today. How to Use Tampons. Diakses pada 10 Maret 2026, dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/how-to-put-in-a-tampon
- Good Doctor. Simak Panduan Lengkap Cara Pakainya. Diakses pada 10 Maret 2026, dari https://www.gooddoctor.co.id/hidup-sehat/wanita/tampon-untuk-haid/
- HonestDocs. Mengenal Tampon dan Cara Menggunakannya. Diakses pada 10 Maret 2026, dari https://www.honestdocs.id/mengenal-tampon-dan-cara-menggunakannya
- KlikDokter. 4 Cara Memakai Tampon yang Aman dan Tepat. Diakses pada 10 Maret 2026, dari https://www.klikdokter.com/gaya-hidup/perawatan-wanita/jangan-keliru-ini-cara-pakai-tampon-yang-tepat
- Alodokter. Tampon atau Pembalut, Pilih Sesuai Kebutuhan. Diakses pada 10 Maret 2026, dari https://www.alodokter.com/tampon-atau-pembalut-pilih-sesuai-kebutuhan
(kpl/fds)
Advertisement