Beasts of No Nation
Drama War

Beasts of No Nation

2015 137 menit TV-MA
8.5/10
Rating 7.7/10
Sutradara
Cary Joji Fukunaga
Penulis Skenario
Cary Joji Fukunaga Uzodinma Iweala
Studio
Red Crown Productions The Princess Grace Foundation Participant

Agu (Abraham Attah) adalah seorang anak laki laki yang hidup di sebuah desa kecil di Afrika Barat. Hidupnya sederhana dan dipenuhi rutinitas yang akrab. Ia bermain dengan teman teman sebayanya, membantu ibunya, dan belajar di sekolah dengan seragam rapi. Di rumah, Agu tumbuh dalam keluarga yang hangat bersama ayah, ibu, dan saudara perempuannya. Dunia yang ia kenal masih tentang permainan, tawa, dan mimpi masa depan yang polos. Namun semua itu perlahan runtuh ketika konflik bersenjata mulai mendekati desa mereka.

Perang sipil datang tanpa peringatan yang jelas. Tentara pemerintah dan kelompok pemberontak saling berebut wilayah, meninggalkan ketakutan dan kehancuran di setiap tempat yang mereka lewati. Desa Agu berubah menjadi zona berbahaya dalam waktu singkat. Suara tembakan menggantikan suara anak anak bermain. Ketika kekacauan memuncak, Agu terpisah dari keluarganya. Dalam situasi panik dan kebingungan, ia harus berlari menyelamatkan diri tanpa tahu apakah orang orang yang ia cintai masih hidup.

Dalam pelariannya, Agu bertemu dengan sekelompok anak bersenjata yang dipimpin oleh sosok karismatik namun menakutkan bernama Commandant (Idris Elba). Commandant adalah pemimpin kelompok pemberontak yang memanfaatkan anak anak sebagai tentara. Ia berbicara tentang kekuatan, kehormatan, dan balas dendam, kata kata yang terdengar meyakinkan bagi anak anak yang kehilangan segalanya. Agu yang kelelahan, ketakutan, dan sendirian tidak memiliki pilihan lain selain bergabung.

Transformasi Agu dimulai secara perlahan namun kejam. Dari seorang anak yang tidak pernah memegang senjata, ia dipaksa belajar menggunakan senapan. Rasa takut dan jijik pada kekerasan bercampur dengan dorongan untuk bertahan hidup. Commandant dan para komandan lainnya terus menanamkan ide bahwa membunuh adalah bagian dari perjuangan. Agu diberi identitas baru sebagai tentara kecil, seolah masa kecilnya dihapus begitu saja.

Di kamp pemberontak, Agu bertemu dengan anak anak lain yang mengalami nasib serupa. Ada Strika, anak yang lebih pendiam dan terlihat sudah lama terbiasa dengan kekerasan. Kehadiran Strika memberi gambaran masa depan yang mungkin menanti Agu jika ia terus berada di dunia ini. Persahabatan mereka terbentuk dalam situasi ekstrem, di mana rasa aman digantikan oleh kewaspadaan setiap saat.

Commandant memainkan peran seperti ayah sekaligus algojo. Ia bisa bersikap hangat dan melindungi, tetapi juga sangat kejam ketika merasa dilanggar. Ia memanfaatkan rasa kehilangan Agu dan anak anak lain untuk membangun loyalitas mutlak. Setiap perintah harus dijalankan tanpa pertanyaan. Kekerasan tidak lagi dianggap sebagai pilihan, melainkan kewajiban. Agu mulai kehilangan batas antara benar dan salah.

Perjalanan militer mereka dipenuhi penyerangan, penjarahan, dan kekejaman yang memaksa Agu menghadapi sisi tergelap manusia. Setiap aksi meninggalkan luka batin yang semakin dalam. Rasa bersalah, takut, dan marah bercampur menjadi satu. Agu sering teringat pada ibunya dan kehidupan lamanya. Kenangan itu menjadi satu satunya pengingat bahwa ia pernah menjadi anak biasa.

Seiring waktu, kondisi mental Agu semakin rapuh. Ia mulai merasakan konflik batin yang berat. Di satu sisi, ia ingin bertahan hidup dan melindungi dirinya dari hukuman. Di sisi lain, nuraninya menolak kekerasan yang ia lakukan. Perang tidak hanya menghancurkan tubuh, tetapi juga identitas dan kemanusiaan. Agu terjebak dalam siklus perintah dan ketakutan yang sulit diputus.

Ketegangan dalam kelompok meningkat ketika dinamika kekuasaan mulai berubah. Commandant menghadapi tekanan dari pihak lain dan mulai kehilangan kendali. Kekacauan internal memperburuk situasi. Anak anak tentara menjadi korban dari ambisi orang dewasa yang haus kekuasaan. Agu menyaksikan bagaimana loyalitas yang dibangun dengan kekerasan pada akhirnya melahirkan pengkhianatan dan kehancuran.

Dalam situasi yang semakin tidak stabil, Agu dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Bertahan berarti terus kehilangan dirinya sendiri. Melarikan diri berarti menghadapi dunia luar yang tidak pasti. Trauma yang ia alami membuat setiap keputusan terasa berat. Namun di balik semua itu, masih ada sisa harapan kecil untuk kembali menjadi manusia yang utuh.

Perjalanan Agu tidak berhenti pada pertempuran fisik. Perjuangan terbesarnya adalah menghadapi luka batin yang ditinggalkan perang. Ia harus belajar menerima apa yang telah terjadi tanpa membiarkannya sepenuhnya mendefinisikan dirinya. Dunia pascaperang tidak serta merta menawarkan pemulihan. Rasa bersalah dan kehilangan tetap membekas.

Kisah ini memperlihatkan perang dari sudut pandang anak yang dipaksa tumbuh terlalu cepat. Tanpa glorifikasi, cerita bergerak mengikuti kehancuran masa kecil, manipulasi kekuasaan, dan upaya bertahan hidup di tengah kekacauan. Agu bukan pahlawan, tetapi korban dari sistem yang kejam. Perjalanannya menjadi pengingat bahwa di balik konflik bersenjata, ada generasi yang hancur sebelum sempat bermimpi.

Ketika perang merampas segalanya dari seorang anak, masih adakah ruang bagi harapan dan pemulihan di masa depan?

Penulis Artikel: Anastashia Gabriel

Abraham Attah Agu
Emmanuel Affadzi Dike
Ricky Adelayitar Village Constable
Andrew Adote Ecomod 2nd Lieutenant
Vera Nyarkoah Antwi Little Sister
Ama K. Abebrese Mother
Kobina Amissah-Sam Father
Francis Weddey Big Brother
Fred Nii Amugi Pastor
John Arthur Angry Bush Taxi Driver

Jadwal Film