Collateral Beauty
Drama Romance

Collateral Beauty

2016 97 menit PG-13
7.5/10
Rating 6.8/10
Sutradara
David Frankel
Penulis Skenario
Allan Loeb
Studio
New Line Cinema Village Roadshow Pictures Anonymous Content

Howard (Will Smith) pernah berada di puncak hidupnya. Ia dikenal sebagai sosok kreatif, visioner, dan penuh semangat yang membangun sebuah perusahaan periklanan besar bersama sahabat sahabatnya. Kehidupan Howard dipenuhi ide, tawa, dan keyakinan bahwa segala sesuatu bisa dihadapi dengan optimisme. Namun semua itu runtuh ketika tragedi besar menghantam hidupnya. Sejak kehilangan putrinya, Howard perlahan menarik diri dari dunia. Ia berhenti berbicara, berhenti terhubung dengan orang orang di sekitarnya, dan membiarkan hidupnya berjalan tanpa arah yang jelas.

Hari hari Howard kini diisi dengan rutinitas kosong. Ia berjalan tanpa tujuan di kota New York, berdiri di tempat tempat umum hanya untuk mengamati orang lain menjalani hidup. Di kantor, Howard nyaris tidak pernah terlibat lagi dalam pengambilan keputusan. Ia duduk diam, membuat bangunan domino yang kemudian ia runtuhkan sendiri. Sikapnya membuat rekan rekan kerjanya khawatir, bukan hanya secara personal, tetapi juga profesional. Perusahaan yang dulu ia bangun dengan penuh cinta kini berada di ambang kehancuran karena ketidakhadirannya sebagai pemimpin.

Tiga rekan terdekat Howard yakni Whit (Edward Norton), Claire (Kate Winslet), dan Simon (Michael Pena) mencoba memahami kondisi Howard. Masing masing juga memiliki masalah pribadi yang tidak kalah berat. Whit menghadapi tekanan dalam kehidupan keluarganya, Claire bergulat dengan rasa sepi dan kerinduan akan peran sebagai ibu, sementara Simon menyimpan rahasia besar tentang kesehatannya. Meski sama sama terluka, mereka tetap berusaha menyelamatkan perusahaan dan juga Howard.

Dalam keheningannya, Howard mulai menulis surat. Namun surat surat itu bukan ditujukan kepada manusia. Ia menulis kepada Cinta, Waktu, dan Kematian. Dalam surat surat tersebut, Howard meluapkan kemarahan, kebingungan, dan rasa kehilangan yang selama ini ia pendam. Ia mempertanyakan mengapa cinta bisa begitu menyakitkan, mengapa waktu terasa begitu kejam, dan mengapa kematian datang tanpa peringatan. Surat surat itu menjadi satu satunya cara Howard berkomunikasi dengan dunia.

Tanpa disadari Howard, surat surat tersebut mulai mendapat balasan dalam bentuk yang tak pernah ia bayangkan. Cinta hadir melalui seorang perempuan bernama Madeline (Naomie Harris) yang berbicara tentang hubungan, rasa terikat, dan keberanian untuk mencintai meski berisiko kehilangan. Waktu hadir lewat sosok bernama Raffi (Jacob Latimore) yang mengajaknya memahami bahwa waktu tidak selalu berjalan lurus seperti yang diharapkan. Kematian muncul sebagai Brigitte (Helen Mirren), sosok tenang dan penuh empati yang mengajak Howard menghadapi kenyataan paling pahit dalam hidupnya.

Pertemuan pertemuan ini mengguncang dunia Howard. Ia tidak tahu apakah yang ia alami nyata atau hanya proyeksi dari pikirannya yang terluka. Namun setiap percakapan meninggalkan bekas yang dalam. Perlahan, Howard mulai mempertanyakan kembali sikapnya terhadap hidup. Ia dipaksa untuk melihat bahwa rasa sakitnya bukan satu satunya di dunia, dan bahwa kehilangan tidak selalu berarti akhir dari segalanya.

Sementara itu, Whit, Claire, dan Simon diam diam merancang rencana untuk menyelamatkan perusahaan dengan cara yang berisiko. Mereka melibatkan seorang konsultan bernama Sally Price (Ann Dowd) untuk membuktikan bahwa Howard tidak lagi layak memimpin. Rencana ini dilandasi niat campur aduk antara kepedulian dan kepentingan. Mereka mencintai Howard sebagai sahabat, tetapi juga takut kehilangan semua yang telah mereka bangun bersama.

Rencana tersebut semakin rumit ketika batas antara manipulasi dan empati mulai kabur. Interaksi Howard dengan Cinta, Waktu, dan Kematian memunculkan perubahan kecil namun berarti dalam dirinya. Ia mulai memperhatikan hal hal sederhana, mendengarkan orang lain, dan merasakan emosi yang selama ini ia tekan. Setiap langkah kecil itu memperlihatkan bahwa Howard belum sepenuhnya hilang, hanya tersesat dalam duka yang terlalu dalam.

Howard akhirnya dihadapkan pada kebenaran yang menyakitkan, baik tentang dirinya sendiri maupun orang orang di sekitarnya. Ia harus menerima bahwa kesedihan tidak bisa dihindari atau dihapus begitu saja. Duka harus dihadapi, dirasakan, dan dilewati. Dalam proses itu, Howard mulai melihat keindahan kecil yang tersembunyi di balik rasa kehilangan. Senyum orang asing, tawa anak kecil, dan kenangan tentang putrinya yang tidak lagi hanya membawa luka, tetapi juga rasa syukur.

Perjalanan emosional ini tidak hanya mengubah Howard, tetapi juga orang orang di sekelilingnya. Whit, Claire, dan Simon dipaksa bercermin pada luka mereka sendiri. Mereka menyadari bahwa selama ini mereka juga bersembunyi dari rasa takut masing masing. Hubungan mereka dengan Howard pun diuji, apakah masih dilandasi kejujuran atau hanya kepentingan semata.

Di titik tertentu, Howard harus membuat pilihan. Ia bisa terus hidup dalam bayang bayang kehilangan atau membuka diri kembali pada dunia dengan segala risikonya. Jawaban atas surat suratnya mungkin tidak datang dalam bentuk yang ia harapkan, tetapi cukup untuk membuatnya memahami bahwa cinta, waktu, dan kematian saling terhubung dalam kehidupan manusia. Dari situlah muncul sebuah kesadaran bahwa bahkan di tengah kehancuran, selalu ada keindahan yang terselip, menunggu untuk disadari.

Apakah Howard mampu benar benar menerima kepergian putrinya dan menemukan makna baru dalam hidup yang pernah ia tinggalkan?

Penulis Artikel: Anastashia Gabriel

Will Smith Howard
Edward Norton Whit
Kate Winslet Claire
Michael Peu00f1a Simon
Helen Mirren Brigitte
Naomie Harris Madeline
Keira Knightley Amy
Jacob Latimore Raffi
Ann Dowd Sally Price
Liza Colu00f3n-Zayas Trevor's Mom

Jadwal Film