The Tinder Swindler
Crime Documentary

The Tinder Swindler

2022 114 menit TV-MA
Rating 7.1/10
Rating 7.8/10
Sutradara
Felicity Morris
Penulis Skenario
Felicity Morris
Studio
RAW AGC Studios Gaspin Media

Shimon Hayut adalah seorang pria asal Israel yang dikenal karena pesonanya yang luar biasa dan gaya hidup glamor yang menipu banyak orang. Lahir dengan nama asli tersebut, ia kemudian mulai menjalani kehidupan ganda di Eropa, memperkenalkan dirinya sebagai Simon Leviev, putra dari pengusaha berlian ternama asal Israel, Lev Leviev.

Dengan identitas palsu itu, Simon berhasil menembus lingkaran sosial kelas atas dan membuat banyak orang percaya bahwa ia adalah pewaris sah dari kerajaan bisnis berlian yang sangat berpengaruh. Di balik citra menawannya, Simon ternyata menjalankan operasi penipuan yang terencana rapi dan berbahaya.

Menggunakan aplikasi kencan Tinder sebagai pintu masuk, Simon dengan mudah menarik perhatian para perempuan dari berbagai negara. Dengan penampilan meyakinkan, gaya bicara yang sopan, dan foto-foto yang menunjukkan kemewahan, ia membangun citra sebagai pria kaya raya yang sedang mencari cinta sejati di tengah kesibukan bisnis keluarganya.
Para perempuan yang berkenalan dengannya dibawa ke dunia yang penuh kemewahan. Mereka diajak makan malam di restoran bintang lima, menginap di hotel mewah, bahkan terbang dengan jet pribadi ke berbagai kota besar Eropa. Semua itu ia lakukan dengan uang hasil penipuannya terhadap korban sebelumnya, menciptakan lingkaran kebohongan yang terus berputar tanpa henti.
Setelah berhasil membangun kepercayaan dan menimbulkan rasa cinta dari para korban, Simon akan memulai tahap berikutnya dari modus penipuannya. Ia menciptakan kisah palsu yang sama kepada setiap perempuan. Ia mengaku tengah menjadi sasaran musuh bisnis yang berbahaya.
Ia akan mengirimkan foto-foto palsu yang memperlihatkan dirinya terluka atau diserang, dengan narasi bahwa pengawalnya terluka parah demi menyelamatkannya. Dengan kepanikan yang dibuat- buat, Simon meminta bantuan finansial dari para korban karena situasi darurat itu disebut membuat seluruh rekening dan kartu kreditnya diblokir demi alasan keamanan.
Perempuan-perempuan yang sudah terlanjur percaya pada Simon pun dengan rela membantu. Mereka meminjam uang dalam jumlah besar, bahkan ada yang sampai mengajukan pinjaman bank atau membuat kartu kredit baru demi menyelamatkan pria yang mereka yakini sebagai kekasih sejati.
Simon menggunakan hasil dari pinjaman itu untuk terus mempertahankan citra mewahnya di hadapan korban lain, menjadikannya semacam skema Ponzi yang berputar di atas kebohongan, cinta palsu, dan manipulasi psikologis yang halus. Ia tahu betul bagaimana memainkan perasaan manusia, terutama ketika seseorang sedang jatuh cinta dan ingin dipercaya sepenuhnya.
Namun, yang membuat Simon begitu sulit untuk dilacak bukan hanya karena kepintarannya dalam berbohong, melainkan juga cara ia memanipulasi teknologi dan dokumen. Ketika para korban mulai menagih uang mereka, Simon akan berpura-pura mengembalikan sebagian pinjaman dengan menunjukkan bukti transfer palsu yang telah dipalsukan secara profesional.
Nominal besar terlihat di layar, dan para korban pun sempat merasa lega, percaya bahwa uang mereka akan segera kembali. Namun, waktu terus berjalan dan uang itu tak pernah benar- benar masuk ke rekening mereka. Saat kecurigaan mulai muncul, Simon menghilang begitu saja tanpa jejak. Nomor teleponnya sudah tak aktif, media sosialnya dihapus, dan identitas barunya sudah siap digunakan untuk menjerat korban berikutnya.
Di balik setiap kebohongan yang ia ciptakan, Simon meninggalkan jejak luka emosional dan finansial yang mendalam bagi para korbannya. Banyak dari perempuan yang ia tipu harus menanggung utang ratusan ribu dolar dan mengalami trauma berat karena dikhianati oleh seseorang yang mereka anggap tulus. Beberapa dari mereka bahkan berjuang untuk memulihkan hidup setelah kenyataan pahit itu terungkap. Simon sendiri tampaknya selalu selangkah lebih maju. Ia terus berpindah kota, mengganti identitas, dan memanfaatkan celah hukum di berbagai negara agar tak mudah ditangkap.
Namun, di balik topeng keanggunan dan kecerdasannya, perlahan-lahan jaringan kebohongannya mulai retak. Para korban mulai saling terhubung melalui internet, membagikan pengalaman mereka, dan bekerja sama untuk membongkar kebenaran tentang siapa sebenarnya pria yang mereka cintai itu. Semakin banyak bukti terkumpul, semakin jelas bahwa Simon bukan sekadar penipu biasa, melainkan seorang manipulator ulung yang memanfaatkan cinta dan kepercayaan manusia sebagai senjata paling mematikan.
Ketika publik mulai mengetahui aksinya, media internasional pun ikut menyorot kisahnya. Wajah Simon terpampang di berbagai berita, membuatnya menjadi buronan lintas negara. Namun, seperti bayangan yang selalu melarikan diri dari cahaya, keberadaannya tetap sulit dipastikan. Di satu sisi, ia adalah simbol dari bagaimana seseorang bisa menggunakan pesona dan teknologi untuk menciptakan dunia kebohongan yang tampak begitu nyata. Di sisi lain, ia adalah cerminan dari sisi gelap manusia yang tega memanfaatkan perasaan orang lain demi kekuasaan dan uang.
Sampai kapan Simon bisa terus memainkan peran itu tanpa terperangkap oleh kebohongan yang ia ciptakan sendiri? Akankah roda nasib yang ia putar dengan tipu daya akhirnya berbalik arah dan menelannya hidup-hidup?
Penulis artikel: Abdilla Monica Permata B.
Cecilie Fjellhu00f8y Self
Ayleen Charlotte Self
Karan Pugal Simon Leviev
Erlend Ofte Arntsen Self
Natalie Remu00f8e Hansen Self
Pernilla Sju00f6holm Self
Kristoffer Kumar Self