7 Live Action Adaptasi Anime Terburuk, Dianggap Fail dan Dibanjiri Kritikan
Sederet Live Action paling fail (Credit: Istimewa)
Kapanlagi.com - Adaptasi anime ke live action memang godaan besar. Sumber ceritanya kuat, fanbase-nya gede, dan potensinya luar biasa. Beberapa live action telah mendapatkan respon positif, seperti One Piece hingga Gintama. Tapi.. ya nggak semua proyek live action itu jaminan berhasil.
Beberapa live action yang diadaptasi dari anime malah beakhir jadi contoh klasik 'mending nggak usah diproduksi deh'. Nah kali ini kita bahas tentang deretan live action yang dianggap fail dan dikritik karena eksekusinya dinilai kurang maksimal.
Advertisement
1. Dragonball Evolution (2009)
Film ini mencoba mengadaptasi Dragon Ball secara longgar. Goku digambarkan sebagai remaja SMA yang berusaha menghadapi kekuatan jahat Piccolo sambil mencari Dragon Ball. Ceritanya memakai elemen dasar dari seri asli, tapi dibuat sangat berbeda; versi 'Hollywood teen action' yang berusaha modern.
Walhasil, fans kompak bilang film ini hampir nggak ada rasa Dragon Ball sama sekali. Karakter berubah total, lore-nya disederhanakan sampai kehilangan identitas, dan efek visualnya terasa murahan untuk ukuran film besar. Banyak dialog kaku, adegan berantem kurang impactful, dan desain Piccolo yang bikin orang bingung ini villain apa alien random. Bahkan penulis skenarionya sendiri pernah minta maaf ke fans.
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
2. Death Note (Netflix, 2017)
Adaptasi ini memindahkan setting Death Note dari Jepang ke Amerika. Light Turner menemukan buku kematian dan mulai menggunakannya untuk 'membersihkan dunia'. L berada di pihak berlawanan, tapi arah ceritanya dibuat lebih serampangan dan penuh romansa remaja yang nggak ada di versi asli.
Masalah paling besar: karakterisasinya melenceng jauh. Light Yagami yang aslinya jenius manipulatif malah terlihat impulsif dan gampang panik. L juga berubah jadi terlalu emosional. Chemistry antar karakter kurang, pacing terburu-buru, dan banyak perubahan plot dianggap nggak perlu. Beberapa fans menyebut adaptasi ini seperti 'fanfic dengan budget Hollywood'.
3. Attack on Titan (Live Action Jepang, 2015–2016)
Dua film live action Jepang ini berusaha mengadaptasi arc awal Attack on Titan: manusia hidup di balik tembok raksasa untuk menghindari Titan, lalu Eren, Mikasa, dan Armin berjuang melawan teror tersebut. Namun banyak detail dunia diubah, mulai dari hubungan antar karakter sampai latar ceritanya.
Akan tetapi, efek visual Titan dinilai kurang meyakinkan, terutama dibanding ekspektasi fans terhadap visual anime yang sangat intens. Karakter-karakter berubah drastis, misalnya Mikasa dan Eren yang kehilangan dinamika aslinya. Beberapa fans mengeluh bahwa filmnya terasa lebih seperti monster movie generik daripada cerita kompleks tentang kebebasan, trauma, dan politik seperti versi anime/manga.
4. Fullmetal Alchemist (Netflix/Jepang, 2017 & 2022)
Mengikuti cerita Edward dan Alphonse Elric yang mencari Batu Bertuah setelah eksperimen alkimia yang gagal membuat tubuh mereka hancur. Film mencoba memadatkan banyak arc penting dalam satu-dua film, termasuk menghadirkan karakter-karakter seperti Mustang, Hughes, dan Homunculus.
Walaupun kostumnya bagus dan usaha studio terlihat, film ini dinilai terlalu memaksakan cerita kompleks FMA ke durasi yang sempit. Alurnya jadi terburu-buru, interaksi karakter terasa dangkal, dan beberapa adegan ikonik kurang emosinya. CGI Alphonse sebenarnya cukup oke, tapi efek lain, terutama Homunculus sering terlihat tidak mulus.
5. Tokyo Ghoul (2017–2019)
Mengadaptasi arc awal Tokyo Ghoul, live action ini mengikuti Ken Kaneki yang berubah menjadi setengah ghoul setelah insiden dengan Rize. Konflik antara dunia manusia dan ghoul coba dihadirkan lewat pertarungan dan drama personal.
Walau cast-nya lumayan pas, banyak fans merasa tone ceritanya terlalu 'aman'. Kegelapan dan nuansa psikologis dari manga-anime tidak sepenuhnya tersampaikan. CGI kagune (senjata organik para ghoul) terlihat kaku, dan pacing cerita kurang mengalir. Hasil akhirnya lebih terasa seperti adaptasi yang kurang berani mengambil risiko.
6. Bleach (2018)
Adaptasi ini mencakup arc 'Substitute Shinigami' ketika Ichigo Kurosaki mendapat kekuatan Soul Reaper dari Rukia dan melawan Hollow yang menyerang kota.
Sebetulnya ini bukan adaptasi terburuk, tapi tetap dikritik karena kurang menangkap skala dunia Bleach yang epik. Pertarungan terasa 'kecil', efek Hollow terlihat kurang natural, dan backstory karakter jadi dangkal. Bagi sebagian fans, film ini 'lumayan' tapi tetap jauh di bawah ekspektasi serial besar seperti Bleach.
7. The Last Airbender (2010) – Adaptasi Avatar: The Last Airbender
(Bukan anime Jepang, tapi sering dianggap bagian dari diskusi karena vibe-nya sangat anime dan menjadi contoh adaptasi yang gagal total.)
Mengadaptasi Book 1, Aang yang kembali setelah seratus tahun dan berusaha menghentikan Fire Nation sambil belajar elemen-elemen lain.
Aktingnya dinilai kaku, dialog berat dan tidak natural, serta visual bending yang lambat dan kurang keren. Banyak nama karakter salah penyebutan, kostum dan kultur ikut berubah tanpa alasan, dan alurnya terasa seperti ringkasan 20 episode yang diperas jadi film 90 menit.
Jangan ketinggalan baca yang ini juga!
- Sinopsis Anime The Apothecary Diaries, Fakta Menarik dan Link Nonton Sub Indo
- Rekomendasi Anime Mirip Chiikawa yang Menggemaskan, Cocok Untuk Ditonton Segala Usia
- 5 Rekomendasi Anime Mirip Slam Dunk yang Bertema Basket dan Ceritanya Bikin Ketagihan
- Rekomendasi Anime Bertema Zombie yang Seru dan Menegangkan
(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)
(kpl/jpg)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba
