Perbedaan Anime Shounen, Seinen dan Shoujo Beserta Contohnya Masing-masing
Perbedaan anime Shounen, Seinen dan Shoujo (Credit: Istimewa)
Kapanlagi.com - Buat kamu yang sering nonton anime, istilah shounen, seinen, dan shoujo pasti sudah tidak asing. Ketiganya sering dipakai untuk mengelompokkan anime, tapi masih banyak yang salah paham dan mengira itu adalah genre. Padahal, shounen, seinen, dan shoujo sebenarnya lebih ke target demografi penonton, bukan jenis cerita.
Meski begitu, masing masing punya ciri khas yang cukup jelas dan mudah dikenali. Supaya tidak bingung lagi, berikut penjelasan perbedaan anime shounen, seinen, dan shoujo lengkap dengan contoh anime populernya.
Advertisement
1. Anime Shounen
Shounen ditujukan untuk penonton laki laki usia remaja, biasanya sekitar 12 sampai 18 tahun. Ciri paling khas dari anime shounen adalah cerita penuh semangat, aksi, dan tema perjuangan. Tokoh utamanya sering digambarkan sebagai karakter yang awalnya lemah, lalu berkembang lewat latihan keras, persahabatan, dan tekad pantang menyerah.
Plot shounen biasanya berfokus pada pertarungan, kompetisi, atau petualangan panjang. Nilai yang sering diangkat adalah kerja keras, mimpi besar, dan kekuatan persahabatan. Karena sifatnya yang universal, anime shounen juga banyak dinikmati oleh penonton dari berbagai usia dan gender.
Contoh anime shounen: Naruto, One Piece, Bleach, Dragon Ball, My Hero Academia, dan Demon Slayer.
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
2. Anime Seinen
Berbeda dengan shounen, seinen ditujukan untuk penonton dewasa, umumnya usia 18 tahun ke atas. Ceritanya lebih kompleks, gelap, dan realistis. Tema yang diangkat sering berkaitan dengan psikologi, politik, moral abu abu, hingga kekerasan yang lebih eksplisit.
Karakter dalam anime seinen jarang hitam putih. Tokohnya bisa membuat keputusan salah, mengalami konflik batin berat, dan menghadapi konsekuensi yang tidak selalu berakhir bahagia. Alurnya cenderung lebih lambat dan mendalam, mengajak penonton untuk berpikir dan merenung.
Contoh anime seinen: Attack on Titan, Death Note, Tokyo Ghoul, Berserk, Monster, Psycho Pass, dan Vinland Saga.
3. Anime Shoujo
Shoujo menargetkan penonton perempuan remaja. Fokus utamanya biasanya pada hubungan antar karakter, perasaan, dan perkembangan emosi. Romance memang jadi elemen yang paling sering muncul, tapi shoujo juga bisa mengangkat persahabatan, keluarga, dan pencarian jati diri.
Gaya visual shoujo cenderung lembut dan ekspresif, dengan penekanan pada emosi karakter. Konfliknya lebih banyak bersifat personal dan emosional dibanding fisik. Meski terkesan ringan, banyak anime shoujo yang punya cerita menyentuh dan relatable.
Contoh anime shoujo: Sailor Moon, Fruits Basket, Cardcaptor Sakura, Ao Haru Ride, Nana, dan Kimi ni Todoke.
4. Kesimpulan
Perbedaan utama antara anime shounen, seinen, dan shoujo terletak pada target penonton dan pendekatan ceritanya, bukan sekadar gaya gambar atau genre. Shounen identik dengan semangat dan aksi, seinen lebih dewasa dan kompleks, sementara shoujo menonjolkan emosi dan hubungan antar karakter.
Meski begitu, tidak ada aturan baku soal siapa boleh menonton apa. Banyak anime shounen dinikmati penonton dewasa, dan tidak sedikit anime shoujo atau seinen yang disukai semua kalangan. Pada akhirnya, yang paling penting adalah cerita dan pengalaman menonton yang kamu dapatkan.
Konten anime lain yang nggak kalah menarik!
- Doraemon Resmi Berhenti Tayang di RCTI Setelah Hampir 40 Tahun Menemani
- Sinopsis Anime Dad is a hero, Mom is a spirit, I’m a reincarnator dan Link Nonton Sub Indo
- Odd Taxi Itu Anime Apa Sih dan Kenapa Wajib Banget Kamu Tonton
- Penjelasan Ending anime Attack on Titan yang Sangat Antimainstream dan Picu Perdebatan Penonton
- 5 Fakta Menarik dari Anime Aggretsuko yang Relate Banget untuk Pekerja Kantoran
(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)
(kpl/jpg)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba
