Diding Boneng: Dari Lawan Warkop DKI hingga Mbah Buyut yang Memukau
Didin Boneng & Titis Bulan ©istimewa
Kapanlagi.com - Nama Diding Boneng tentu nggak asing di telinga kita. Mendengar nama ini mungkin langsung mengingatkan kita pada sosok antagonis yang kerap beradu akting dengan trio Warkop DKI. Namun, di balik nama panggungnya yang ikonik, tersimpan kisah panjang dan inspiratif dari seorang Zainal Abidin Zetta, aktor senior yang telah menghiasi layar lebar Indonesia sejak tahun 1973.
Perjalanan kariernya, dari panggung teater hingga film-film terbaru, menunjukkan keuletan dan adaptasi seorang seniman sejati.
Dari Teater Hingga Warkop DKI
Advertisement
Diding Boneng. (Istimewa)
Jauh sebelum dikenal sebagai Diding Boneng, Zainal Abidin Zetta memulai kariernya di dunia teater pada tahun 1973. Debutnya di layar lebar terjadi pada tahun 1980 lewat film "Tiga Dara Mencari Cinta". Namun, namanya melejit setelah ia bergabung dalam beberapa film Warkop DKI, di mana ia kerap memerankan karakter antagonis yang menghibur.
Nama "Boneng" sendiri, yang kini melekat erat dengan namanya, sebenarnya berasal dari sebuah peran dalam sinetron. Selama kurang lebih 5 tahun, ia menjadi bagian dari kesuksesan film-film komedi ikonik tersebut.
Peran yang Mengubah Perspektif
Diding Boneng di Film KKN di Desa Penari. (Dok. MD Entertainment)
Setelah vakum cukup lama dari dunia hiburan, Diding Boneng kembali muncul dengan peran yang mengejutkan dan penuh tantangan. Dalam film "KKN di Desa Penari" (2022) dan sekuelnya "Badarawuhi di Desa Penari", ia memerankan tokoh Mbah Buyut. Peran ini menuntutnya untuk menguasai dialek Jawa, sebuah tantangan yang ia hadapi dengan penuh dedikasi. Kembalinya Diding Boneng ke layar lebar ini membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang bagi seorang seniman untuk terus berkarya dan bereksplorasi.
Filosofi Humor yang Mendalam
Diding Boneng juga dikenal karena pandangannya tentang komedi. Baginya, humor yang baik adalah humor yang tidak menyakiti dan menghargai penonton. Ia menekankan pentingnya etika dan tanggung jawab dalam menyampaikan humor. Hal ini mencerminkan kepribadiannya yang bijak dan berwawasan luas.
Filmografi yang Memukau
Selain film-film Warkop DKI dan "KKN di Desa Penari", Diding Boneng juga membintangi sejumlah film lain yang tak kalah menarik. Beberapa di antaranya adalah "Bisa Naik Bisa Turun" (1992), "Forgotten Rules" (1991), dan "Dancing Village: The Curse Begins" (2024). Film-film ini menunjukkan range aktingnya yang luas dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai genre.
Mengajar Teater: Hobi yang Menjadi Pekerjaan
Di usia 74 tahun (2024), Diding Boneng mengakui bahwa ia tidak memiliki penghasilan tetap. Meskipun pernah merasakan kejayaan dan kelimpahan harta, ia kini hidup sederhana. Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan bahwa nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya tidak selalu diukur dari materi. Ia tetap rendah hati dan menikmati setiap momen dalam hidupnya.
Kehidupan sehari-hari Diding Boneng kini lebih terfokus pada kegiatan mengajar teater. Ia aktif berinteraksi dengan murid-muridnya, berbagi pengalaman, dan menularkan kecintaannya pada seni peran. Aktivitas ini juga membuatnya tetap terhubung dengan lingkungan sosial, sehingga ia tidak merasa kesepian. Meskipun hidup sederhana, ia merasa cukup dan tetap produktif dalam berkarya dan mengajar.
Kisah Diding Boneng mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemewahan materi. Ia membuktikan bahwa hidup sederhana bisa dijalani dengan damai dan penuh makna. Dengan pilihannya, ia mampu fokus pada hal-hal yang memberinya kebahagiaan, yaitu keluarga dan mengajar teater. Kisahnya menginspirasi kita untuk selalu mengevaluasi prioritas hidup dan menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan.
(Vidi Aldiano meninggal dunia setelah 6 tahun berjuang lawan kanker.)
(kpl/Gil)
Advertisement
