DNI Dibuka Bagi Sektor Usaha Film, Budaya Lokal Terjajah Asing?

Rabu, 10 Februari 2016 00:22 Penulis: Guntur Merdekawan
DNI Dibuka Bagi Sektor Usaha Film, Budaya Lokal Terjajah Asing? Pekerja Kreatif Film Indonesia © KapanLagi.com®/Budy Santoso
Kapanlagi.com - Niat pemerintah merevisi Daftar Negatif Investasi (DNI) agar dibuka bagi sektor usaha film menuai pro dan kontra. Muncul anggapan bila dibukanya keran investasi asing ini bakal menginvasi budaya lokal.

Pendapat berbeda disampaikan oleh para Pekerja Kreatif Film Indonesia yang berasal dari berbagai asosiasi. Salah satunya produser Lala Timothy yang mengatakan dengan dibukanya DNI maka perfilman lokal bakal lebih berkembang.

"Mari kita lihat pembukaan DNI ini dari sisi positif agar industri film Indonesia lebih berkembang, bukan dilihat dari kacamata bahwa bangsa asing akan menjajah kita. Kita bisa ambil contoh Vietnam. Secara infrastruktur film Indonesia lebih baik, tapi setelah mereka membuka investasi asing untuk industri film empat tahun lalu, sekarang industri film di sana naik 200%. Produksi film lokalnya naik 100%," jelas Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) saat menggelar jumpa pers di PPHUI, kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (9/2).

Joko Anwar dan Raline Shah, dua sosok yang dukugn bantuan investasi asing © KapanLagi.com®/Budy SantosoJoko Anwar dan Raline Shah, dua sosok yang dukugn bantuan investasi asing © KapanLagi.com®/Budy Santoso

Masih menurut Lala, dengan dibukanya keran investasi asing, maka akan ada timpal balik berupa perbaikan pra-sarana serta kualitas dari sisi filmmaker itu sendiri. "Banyak yang bilang film kita jelek karena tidak banyak sekolah film. Dengan adanya ini akan menjembatani masalah tersebut dalam hal transfer teknologi dan knowledge," imbuhnya.

Tak hanya itu, penanaman modal ini bisa membawa pengaruh terhadap penambahan jumlah layar di titik-titik tak terjamah. Maka wacana mendapatkan 20 juta penonton bisa terealisasi dalam beberapa tahun ke depan apabila layar lebar bisa meningkat antara 3000 hingga 5000. Mengingat saat ini jumlah total bioskop yang ada di Tanah Air hanya 1117 saja.

"Untuk ekshibitor, arah investasi asing akan digunakan menambah layar di daerah-daerah yang belum mendapat akses bioskop. Dengan dicabutnya DNI adalah kesempatan baru film Indonesia untuk bisa berkembang dan tumbuh," tegas sutradara Angga Dwimas Sasongko.

(kpl/abs/gtr)

Reporter:

Adi Abbas Nugroho


REKOMENDASI
TRENDING