Ide Film 'SURAT DARI PRAHA' Sudah Ada Sejak 2005

Selasa, 09 Februari 2016 11:52 Penulis: Rahmi Safitri
Ide Film 'SURAT DARI PRAHA' Sudah Ada Sejak 2005 Surat Dari Praha © Visinema Pictures
Kapanlagi.com - Film SURAT DARI PRAHA beberapa saat ini menjadi perbincangan publik karena sempat ada tuduhan adanya kasus plagiarisme. Dosen dan novelis, Yusri Fajar, menganggap kalau film arahan Angga Dwimas Sasongko ini menjiplak hasil karyanya. Angga pun menjelaskan kalau antara film yang dibuatnya dengan novel karya Yusri sama sekali berbeda. Dia pun menceritakan awal mula bagaimana dirinya mendapat ide membuat film SURAT DARI PRAHA.

Semenjak SMA, Angga kenal dengan Farisha Latjuba yang dipanggilnya Bang Echa. Sering menginap di rumah Echa, mereka pun berdiskusi untuk membuat film. Kebetulan Echa pernah sekolah di Praha dan bikin film pendek berjudul KELAYABAN yang bercerita tentang orang-orang eksil di kota tersebut sebagai tugas akhir. Angga juga punya teman bernama Felix yang kakeknya seorang eksil di Amsterdam. Felix punya cerita eksil dari sudut pandang makanan yang melatarbelakangi alasan kenapa keluarganya membuat restoran dengan masakan-masakan Indonesia yang bikin kangen.

"Jadi ini bukan ide baru lagi sebenarnya. Pada 2005 saya lihat filmnya (KELAYABAN), ini cerita kok menarik ya? Saya juga suka politik. Di rumah saja ada banyak banget buku sejarah. Tahun 2011, saat saya mengerjakan CAHAYA DARI TIMUR, saya merasa setiap hari mengerjakan CDT akhirnya saya bilang ke Ipank (penulis skenario), 'Pank ini disisihkan dulu deh, kita kerjakan yang lain'," cerita Angga saat ditemui di Hotel Tugu, Malang, beberapa saat lalu.

Angga dapat ide setelah nonton film KELAYABAN © KapanLagi.com®/Budy SantosoAngga dapat ide setelah nonton film KELAYABAN © KapanLagi.com®/Budy Santoso

"Saya kasih gambaran dalam cerita pendek lalu kita Praha. Pada waktu di Praha, kita hidup dengan orang-orang ini (Angga menyebutnya om-om eksil, yang juga bermain dalam filmnya). Karakter orang-orang ini yang akhirnya menjadi inspirasi tokoh Jaya," lanjutnya.

Tahun lalu saat syuting berlangsung tiba-tiba ada pemberitaan kalau filmnya memiliki kesamaan dengan sebuah cerpen. Karena merasa sebagai orang yang berkecimpung di dunia seni, Angga langsung mengirim orang dan kuasa hukum ke Malang untuk klarifikasi. Yusri Fajar bilang bahwa bukunya hanya ada satu kopi di Kaskus dan itu milik temannya. Angga mengaku dia yang membeli buku tersebut. Dia bilang boleh tanya tentang alamat pembelian buku tersebut yang dikirimkan ke kantornya.

"Ipank kirim lewat foto ke saya. Saya juga pusing. Waduh gimana ya? Proyek film ini tidak sederhana. Tidak semudah itu ganti judul. Harus ada persetujuan dari banyak pihak dan prosesnya panjang banget. Tidak ctrl+shift lalu del gitu aja. Nah ketika kita telaah secara hukum, tidak ada yang salah dengan langkah-langkah kita. Kalau dalam koridor hukum kita tidak salah, lantas mengapa kita merasa bersalah?" pungkasnya.

(kpl/dka/pit)

Reporter:

Mahardi Eka


REKOMENDASI
TRENDING