Tuai Kontroversi, Sutradara 'SURAT DARI PRAHA' Ajak Nonton Gratis

Kamis, 04 Februari 2016 16:52 Penulis: Natanael Sepaya
Tuai Kontroversi, Sutradara 'SURAT DARI PRAHA' Ajak Nonton Gratis Angga Dwimas Sasongko © Kapanlagi
Kapanlagi.com - Film SURAT DARI PRAHA sempat menuai kontroversi. Sebuah petisi bahkan sempat dibuat sebagai bentuk protes atas dugaan plagiasi film tersebut dari buku dengan judul yang sama karya Dosen Yusri Fajar.

Untuk menjawab kegundahan tersebut, sutradara Angga Dwimas Sasongko pun menggratiskan pemutaran Surat dari Praha di Malang Town Square untuk Kamis (04/02) pada jam putar pertama dan terakhir. Hal ini dilakukannya untuk memberi kesempatan kepada siapa pun untuk menikmati filmnya dulu, lantas membandingkannya dengan versi cerpen.

Apa hikmah yang didapat dari peristiwa ini? Angga berharap semua orang bisa melihat semua masalah dari sudut pandang yang proporsional.

Angga Dwimas Sasongko © KapanlagiAngga Dwimas Sasongko © Kapanlagi

"Kami memang luput karena versi cerpennya susah dicari. Namun penting bagi kita semua untuk melihat masalah dengan proporsional. Banyak yang menuduh di socmed. Padahal tuduhan keras semacam itu harus dibuktikan dulu lewat hukum. Harus ada dasar hukumnya. Penting bagi kita juga untuk melihat SURAT DARI PRAHA baik versi film dan cerpen dengan semangat yang sama. Kita melihat bahwa pak Yusri punya semangat yang sama dalam mengangkat cerita eksil 65. Pastinya nanti ada komunikasi berlanjut dengan pak Yusri. Kita sudah sepakat menemukan solusi konstruktif, tidak lagi berpolemik di media. Kita tunggu pernyataan resmi dari Pak Yusri," ungkapnya.

Angga juga berpendapat bahwa SURAT DARI PRAHA adalah film yang agak 'sulit.' Hal ini disebabkan karena setting cerita yang berhubungan dengan sejarah politik Indonesia pada waktu itu.

"Lewat cerita. kami ingin membuka semuanya. Sehingga para korban 65 bisa melakukan rekonsiliasi. Tidak mudah memasukkan tiga kata ini dalam dialog film: "Soeharto", "Orde Baru", dan "Komunis", karena narasi sejarah yang selama ini kita dengar dibangun dengan unsur teror dan kekerasan. Kita tidak boleh takut akan hal itu. Para korban sudah tua, harus ada yang menyuarakan cerita mereka. Lewat film, kami yakin bisa menyuarakannya tanpa kemudian menjadi subversif. Kita tahu bersama bahwa peristiwa sejarah menjadi blackmark sejarah Indonesia," tutupnya.

(kpl/dka/ntn/frs)

Reporter:

Mahardi Eka


REKOMENDASI
TRENDING