Hanung Bramantyo Berharap Film Bisa Masuk di Kurikulum Sekolah

Senin, 27 Maret 2017 11:52 Penulis: Fitrah Ardiyanti
Hanung Bramantyo Berharap Film Bisa Masuk di Kurikulum Sekolah Hanung Bramantyo/©KapanLagi.com®/Bayu Herdianto

Kapanlagi.com - Hanung Bramantyo dikenal sebagai seorang sutradara yang kritis menyoroti beragam masalah industri perfilman tanah air. Sebelumnya, suami Zaskia Adya Mecca ini menyoroti tentang kurangnya jumlah layar bioskop di tanah air. Dibandingkan dengan Bollywood dan Korea Selatan, jumlah layar bioskop kita sangat tertinggal jauh.

"Di India, ada lebih dari 4000 layar. Korea Selatan penduduknya 30 juta aja punya 4000 layar, kita yang penduduknya 250 juta cuma punya 1000 layar. Buat saya itu menyedihkan, mestinya kita punya 10 ribu layar," ujarnya saat ditemui di acara media gathering peluncuran Trailer dan Soundtrack KARTINI, Djakarta Theatre XXI, Thamrin, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Terdengar pula selentingan jika Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) akan membantu permodalan film-film tanah air. Namun, Hanung menolaknya dengan keras karena tersebut bukanlah sebuah solusi.

Hanung: "Film adalah subyetivitas yang diciptakan."/©KapanLagi.com®/Agus ApriyantoHanung: "Film adalah subyetivitas yang diciptakan."/©KapanLagi.com®/Agus Apriyanto

"Kalau pun iya, saya orang yang enggak setuju dengan hal itu karena membuat film itu sebetulnya pasti sudah memiliki modal. Yang dibutuhkan adalah sebetulnya fasilitas-fasilitas seperti yang saya sebutkan tadi (jumlah layar dan IBOS), seperti sekolah," jelasnya.

Ayah empat anak ini mengharapkan bahwa film bisa masuk dalam kurikulum sekolah, layaknya mata pelajaran sastra yang diselipkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mengapa?

"Saya tahu SITI NURBAYA, TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK itu bukan karena film Sunil Soraya tapi karena adanya mata pelajaran sastra di sekolah. Sementara film kan gak ada. Seandainya film sudah masuk kurikulum, saya yakin orang-orang tidak akan semudah ini terfitnah oleh selebaran-selebaran, Youtube, (broadcast) yang ada di Blackberry, segala macam. Wah ini menistai ini, mengapa orang bisa semudah itu (terprovokasi)? Karena mereka tidak sadar bahwa itu adalah editan. Sebuah subyektivitas yang diciptakan. Mereka menganggap apa yang bergerak di dalam gambar adalah realitas," terangnya.

"Giliran kita membaca novel, walaupun kita terhanyut, kita sadar bahwa itu hanya fiksi. Karena kita di sekolah diajarkan sastra sedangkan film enggak. Apa yang tertuang di layar baik itu tv ataupun film itu kita selalu menganggapnya sebagai objek. Itu salah. Film itu mau dokumenter atau lainnya adalah subyektivitas yang diciptakan. Sehingga kalau ada orang yang tidak suka dengan sebuah film itu harus menciptakan film lain atau mengkritisi film tersebut karena itu dilihat dari subyektivitas. Berbeda dengan media, media harus cover both sides," tandasnya.

(kpl/far/tch)

Reporter:

Fikri Alfi Rosyadi


REKOMENDASI
TRENDING