Harapan Filmmaker di Hari Film Nasional

Harapan Filmmaker di Hari Film Nasional
Foto: Shutterstock

Kapanlagi.com - 30 Maret bukanlah tanggal yang asing bagi insan perfilman Indonesia. Karena pada tanggal ini diperingati Hari Film Nasional yang ditetapkan sejak tahun 1962 oleh Konferensi Kerja Dewan Film Nasional dan Organisasi Perfilman.
Kenapa sih dipilih 30 Maret? Karena pada tanggal tersebut sutradara Usmar Ismail melakukan pengambilan gambar perdana film DARAH DAN DOAĀ yang dinilai sebagai film Indonesia pertama bercirikan Indonesia, yang segala lininya diprakarsai oleh orang Indonesia sendiri.
Beberapa tahun pun berlalu. Semangat film tak luntur dimakan usia, malah semakin kuat dari generasi ke generasi. Lalu apa harapan insan film muda berikut terhadap perfilman Indonesia di masa depan? Simak ulasan lengkapnya!

1. Ian Salim: 'Harus Bisa Seperti Thailand'

Foto: Pribadi

Ian Salim adalah sutradara yang dikenal lewat film pendek bertajuk YOURS TRULYĀ yang ia garap bersama sang istri, Elvira Kusno. Menurut pria berkacamata ini perfilman Indonesia harus bisa seperti Thailand. Kenapa?

"Film-film yang diproduksi tuh variatif dan nyaris semuanya berhasil di bidangnya, baik yang artsy maupun komersil. Thailand didukung solid oleh pemerintah dan penontonnya. Miris banget membandingkan dengan perfilman Indonesia," ungkapnya saat dihubungiĀ KapanLagi.comĀ®.

Lalu apa harapan bagi film Indonesia di masa yang akan datang?

"Makin banyak yang mendunia seperti THE RAID, MODUS ANOMALI. Tidak banyak ba-bi-bu, melihat celah, kerja keras, lalu berhasil. Dan tidak terjebak dengan tema yang stereotype, juga rajin ubek-ubek konsep. Indonesia punya banyak potensi khususnya, menurut saya, di genre fantastik," tutup sutradara yang terlibat dalam antologi FISFIC ini.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

2. Lala Timothy: 'Industri Film Masih Berjuang'

Foto: Kabar Film

Lala TimothyĀ adalah kakak dari aktris cantikĀ Marsha Timothy. Produser filmĀ PINTU TERLARANGĀ danĀ MODUS ANOMALIĀ ini mempunyai pandangan tersendiri mengenai perkembangan film Indonesia.

"Industri film Indonesia masih terus berjuang untuk bisaĀ survive. Semua pihak dalam industri film ini, baikĀ filmmaker-nya atau perusahaan pendukung industri ini, masih terus mencari formula yang tepat agar bisa terus berkarya dan bersaing dengan film-film dari negara lain. Kreatifitas terus diasah, demikian juga teknikalitas.Ā Production companyĀ pun terus mengembangkan strategi untuk mengakali biaya produksi dan distribusi," papar Lala saat kepadaĀ KapanLagi.comĀ®.

Lalu apa harapan bagi perfilman Indonesia selanjutnya?

"Dukungan dari pemerintah untuk pembangunan infrastruktur dan perangkat kebijaksanaan keuangan dan perpajakan dalam mendukung perkembangan industri film. Lebih banyak lagi sekolah film dan lebih banyak lagi film Indonesia yang berjaya di dunia global," pungkasnya.

3. Billy Christian: 'Mengepakkan Sayap ke Luar Negeri'

Foto: handout

Billy Christian mengawali karir dengan film pendek bertajuk KILLERĀ pada tahun 1999. Menurut Billy, perkembangan perfilman Indonesia saat ini sudah mulai lebih baik. Terutama dalam usaha mengepakkan sayap ke luar negeri.

"Saat ini film Indonesia sudah mulai mengepakkan sayapnya ke jangkauan yang lebih luas lagi yakni ke luar negeri. Baik dari segi support pendanaan, produksi dan eksebisi (pemutaran). Kesuksesan film THE RAIDĀ yang telah melanglang buana, membuat para filmmaker semakin percaya diri untuk berkancah di dunia internasional. Dunia internasional pun membuka matanya menyambutnya dengan baik karya-karya film Indonesia lainnya yang akan diproduksi.

Hal ini juga terbukti dengan salah satu festival film di Korea, Puchon International Fantastic Film Festival (PiFan) lewat program pendanaan NAFF, Indonesia diberikan tempat istimewa melalui PROJECT SPOTLIGHT for Indonesia untuk presentasikan proposal film yang akan dibuat. Karena Pifan percaya Indonesia memiliki potensi besar bagi film-film genre fantasi," cerita sutradara muda yang terlibat dalam omnibus HI5TERIA dan SANUBARI JAKARTA ini pada KapanLagi.comĀ®.

Lalu apa harapan bagi perfilman Indonesia selanjutnya?

"Harapan ke depan saya untuk film Indonesia adalah tentunya banyak film-film Indonesia berprestasi di festival-festival luar negeri, selain dari segi kualitas, film yang bersaing harus semakin bagus. Yang tidak kalah penting adalah apresiasi penonton yang mau memberikan dukungan dan kepercayaan terhadap film-film Indonesia itu sendiri dengan menonton film Indonesia di bioskop dan tidak membajak film Indonesia."

4. Lucky Kuswandi: 'Sinema Kita Sangat Alive and Well'

Foto: handout

Nama Lucky Kuswandi mencuat saat membesut MADAME X, superhero waria yang dibintangi oleh Aming. Menurut Lucky, bagaimana sih perkembangan film Indonesia saat ini?

"Tahun ini tahun yang sangat menyegarkan untuk perfilman kita. Dengan line-up seperti POSTCARDS FROM THE ZOO, BELENGGU, DEMI UCOK,Ā serta VAKANSI YANG JANGGAL DAN PENYAKIT LAINNYA. Bisa dibilang tahun yang membuktikan sinema kita sangat alive and well," terangnya kepada KapanLagi.comĀ®.

Lalu apa harapan bagi perfilman Indonesia selanjutnya?

"Berharap banyak dibentuknya film commission oleh pemerintah yang menunjukkan support mereka terhadap industri. Dengan adanya film commission bentuk-bentuk co-produksi dengan negara luar semakin visible, juga meningkatkan industri ekonomi dan pariwisata," harapnya.

5. Ichwan Persada: 'Masa Kita Kalah Sama Malaysia'

Foto: Pribadi

Ichwan PersadaĀ adalah salah satu penggiat film nasional. Beberapa proyek film sedang dikerjakan saat ini termasuk film tentang pesepak bola legendaris Indonesia, Ramang.

MenurutĀ Ichwan, bagaimana sih perkembangan film Indonesia saat ini?

"Untuk produksi masih jalan terus meski di tengah keterpurukan jumlah penonton. Saat ini kami para produser terus mencari akal bagaimana memproduksi film dengan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan dengan biaya yang lebih kecil. Dan ternyata tahun ini masih banyak film-film berkualitas yang diproduksi dengan biaya murah yang bisa 'berbicara'. Ada filmĀ LOVELY MAN-nya Teddy SoeriaatmadjaĀ yang menang di berbagai festival.

Sementara masih cukup banyak juga produser yang bikin film dengan biaya yang cukup proper dan mengambil tema berbeda. Seperti Erwin Arnada yang sekaligus menyutradarai filmĀ RUMAH DI SERIBU OMBAKĀ yang seluruhnya syuting di Singaraja, Bali. Tandanya bahwa para penggiat film tak pernah kehilangan harapan dan tanggung jawab untuk menyajikan film Indonesia berkualitas."

Lalu apa harapan untuk masa depan film Indonesia?

"Harapannya makin sedikit penonton bioskop yang mengeneralisasi bahwa film Indonesia itu jelek, busuk. Jika melihat statistik terutama tahun lalu makin banyak film yang diproduksi dengan baik. Juga sangat diperlukan keberpihakan media untuk membantu film Indonesia berkualitas daripada mempromosikan film yang menjual sensasi semata.

Dan perlu ada kampanye yang dilakukan secara bersama-sama untuk menonton film Indonesia di hari pertama rilisnya. Dengan demikian film Indonesia bisa melewati minggu pertama rilisnya di bioskop dengan mulus. Pada akhirnya semua bermuara agar penonton kembali percaya pada film Indonesia seperti 3 tahun silam. Masa kita kalah dari Malaysia yang penduduknya begitu fanatik pada film lokal? 1 dari 2 penduduk negeri Jiran itu menonton film lokal lho. Padahal kualitas film mereka masih jauh di bawah kualitas film kita," tutupnya saat dihubungiĀ KapanLagi.comĀ®.

6. Adi Nugroho: 'Semoga Film Nasional Menemukan Penonton'

Foto: Pribadi

Adi Nugroho adalah salah satu penulis naskah yang turut andil dalam bangkitnya perfilman nasional. Sebut saja salah satu segmen di film KULDESAK serta JELANGKUNG yang menjadi trend setterĀ bangkitnya horor Indonesia.

Apa harapan bapak satu anak ini terhadap masa depan film Indonesia?

"Semoga film nasional semakin mudah menemui penontonnya. Film sudah mudah dibuat, diproduksi dan direalisasikan. Yang susah justru mendapat kesempatan untuk ditonton. Itu saja sih," jawabnya saat dihubungiĀ KapanLagi.comĀ®, Rabu siang (27/3).

(Di usia pernikahan 29 tahun, Atalia Praratya gugat cerai Ridwan Kamil.)

(kpl/abs)

Rekomendasi
Trending