PAPPRI Gelar 'Nugraha Bhakti Musik Indonesia III'
Kapanlagi.com - Bersamaan dengan momentum 'Hari Musik Indonesia', yang jatuh pada tanggal 9 Maret lalu, Persatuan Artis penyanyi, Pencipta lagu dan Penata musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), mencoba mengambil peran khusus, yaitu memberikan 'nugraha/penghargaan' tertinggi kepada pengabdi musik, yang terbukti berjasa bagi perkembangan musik Indonesia. Malam penyelenggaraan penyerahan hadiahnya berjudul: 'Nugraha Bhakti Musik Indonesia' (NBMI).
Seperti yang dijelaskan ketua PAPPRI, Dharma Oratmangun, bahwa peringatan HMI yang juga bertepatan dengan tanggal lahirnya pencipta lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman dan akan diperingati setiap tahunnya, selalu dibarengi dengan NBMI. Adapun piala penghargaannya berupa Metronome, sehingga disebut dengan 'Metronome Award'.
"Metronome adalah sebuah alat ukur yang hanya digunakan di bidang musik, yang fungsinya untuk menguji ketepatan, akurasi dan konsistensi dan penghargaaan ini diberikan sebagai wujud apresiasi dan penghormatan terhadap dedikasi, idealisme, konsistensi dan loyalitas para pengabdi di bidang musik yang ditekuninya," papar Dharma.
"Dengan kriteria yang setiap tahunnya selalu berbeda, PAPPRI setiap tahunnya juga membentuk tim yang kredibel untuk menyeleksi dan mengkaji siapa saja yang berhak mendapatkan penghargaan, yang kemudian akan diputuskan dalam rapat pleno pengurus PAPPRI," tambah Dharma tentang mekanisme penilaian.
Advertisement
Dengan mekanisme semacam itu, Dharma menampik soal adanya 'suap menyuap' dalam penilaian, karena kemungkinannya sangat kecil sekali. "Ada aspek lain yang dapat kita ambil dari sini, sebab penilaiaannya tidak berdasarkan bisnis semata, namun juga terhadap perkembangan budaya Indonesia secara keseluruhan," tegasnya.
Sementara, Iga Mawarni, yang menjabat sebagai ketua pelaksana mengatakan bahwa acara penganugerahan yang bertajuk 'Malam Penganugerahan Metronome Award' ini akan digelar di Ballroom Hotel Dharmawangsa pada 28 Maret nanti.
Bagi Iga sendiri, penganugerahan ini merupakan wujud apresiasi anak negeri terhadap orang-orang yang mempunyai karya, dedikasi dan loyalitas terhadap khazanah musik Indonesia.
Lebih lanjut, penyanyi jazz ini, menuturkan kalau penghargaan ini tidak hanya ditujukan pada musisi senior saja, namun tidak menutup kemungkinan juga dari kalangan muda saja.
"Salah satu aspek yang kami kembangkan adalah pada masalah ketokohan. Bisa jadi ada anak muda yang kita anggap sebagai innovator yang dapat mempengaruhi atau sebagai panutan bagi kalangan muda. Namun tentu saja hal ini butuh proses, karena biasanya mereka akan merujuk pada trend industri dan ini sempit sekali," terangnya.
Iga mengakui bahwasanya sekarang ini sudah ada nama musisi muda, yang enggan ia sebut namanya, sudah masuk dalam kantong tim kaji yang terdiri dari kalangan musisi, pengamat musik, jurnalis dan pemerhati musik daerah.
"Namun ini butuh waktu untuk berproses, karena kita masih mengamati apa ada perubahan pada dirinya atau tetap konsisten dengan yang dijalankannya selama ini," jelasnya.
Untuk tahun 2006, 'Metronome Award 2006' yang bertemakan 'Pengabdian tak pernah sia-sia' akan diterimakan kepada Waljinah (penyanyi langgam keroncong legendaries), Bubi Chen (pemusik jazz legendaries), Alm. Pak Kasur (pelopor pola didik musikal bagi anak-anak), Alm Pranadjaya (pelopor bina vokalia), Alm. Daeng Soetigna (pengembang musik tradisional angklung).
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(wwn/bun)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba
