Rieke Dyah Pitaloka Lulus S2 dengan Nilai A
Kapanlagi.com - Betapa lega dan plong-nya hati Rieke Dyah Pitaloka kala dinyatakan lulus Program Filsafat Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (UI). Tak hanya lulus semata, nilai tesisnya yang mencapai 92,4 atau sama dengan A ini tentu saja membuatnya lebih bangga.
Pemeran si Oneng dalam komsit serial Bajaj Bajuri ini menyebutkan sidang tesisnya sudah dilaksanakan Selasa (24/8) pekan lalu sekitar pukul 16.00 WIB. Seperti peserta sidang lainnya, Rieke mengaku deg-degan saat disidang. Akan tetapi setelah dihadapi, ia mengaku bisa menjawab dengan lancar.
Soal tesisnya gads kelahiran 8 Januari 1974 yang juga aktifis sebuah parpol ini mengambil penelitian tentang kehidupan social bernegara di Indonesia. "Dalam tesis ini saya ingin membuktikan filsuf Jerman, Hannah Arendt, tentang kekerasan terstruktur yang dilakukan negara kemudian diadaptasi masyarakat sipil," ungkap Rieke yang memang menjadi segelintir artis yang tekun menjajaki pendidikan tinggi sampai lulus. Artis lainnya antaranya Peggy Melati Sukma, Marisa Haque, Hanna Widjaya, Kiki Widyasari, dan segelintir nama lain.
Sebagian buktinya, penulis buku Renungan Kloset ini juga memberi contoh kekerasan macam apa yang terjadi di Indonesia belakangan. "Banyak sekali banalitas kejahatan yang dianggap lumrah, biasa saja, tak ada rasa bersalah," jelas Rieke yang juga menilai apapun pendidikan masyarakat sekarang ini sudah tak lagi bisa menilai dan mengkaji lebih dalam tentang tindak kekerasan dan kejahatan. Masyarakat juga dinilainya sangat sensitif dan gampang sekali emosional hingga memudahkan terjadinya tindak kekerasan.
Advertisement
Lebih lanjut pendukung tetap program variety show bareng Butet Kertaredjasa dan para pelawak serta penyanyi untuk TPI yang bertajuk Pasar Raya 76 ini mengungkapkan bahwa ia juga sempat rada grogy kala para juri sidangnya mengajukan pertanyaan tentang apa yang terjadi pada kasus pelawak Parto Patrio yang notabene adalah masyarakat sipil yang memiliki senjata api. Akan tetapi ternyata emosi lebih mengontrol segalanya sehingga ia lebih mudah tersulut untuk menggunakan senjata tersebut tidak pada tempatnya.
"Mereka juga tanya apakah peledakan pistol itu termasuk banalitas atau tidak? Wah, agak sungkan menjawabnya, tetapi aku kira kejadian itu sudah menjadi jamak. Itu sih banalitas yang dilakukan di atas kekerasan," ujar Rieke yang juga mengaku kelak akan meneruskan pendidikannya ke S3 dalam waktu dekat.
(dst/erl)
Advertisement
