Suka Duka Perjalanan Jeremy Teti Jadi Presenter Berita

Jum'at, 06 Juni 2014 08:47 Penulis: Wulan Noviarina
Suka Duka Perjalanan Jeremy Teti Jadi Presenter Berita @KapanLagi.com®
Kapanlagi.com - Nama Yeremias Chornelis Teti mungkin terasa asing di telinga khalayak. Ya, itu adalah nama asli dari mantan pembawa berita di Liputan 6, Jeremy Teti, yang namanya tak asing lagi di dunia pertelevisian Indonesia sejak era tahun 90-an hingga saat ini.

Meski kini dirinya sudah tak lagi membawakan berita, pria kelahiran Atambua, 31 Maret 1968 ini tetap eksis di dunia televisi. Bedanya, Jeremy kini terjun di dunia hiburan sebagai presenter, bintang iklan, dan sempat bermain dalam sebuah FTV.

Saat berkunjung ke rumahnya di kawasan Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu, tim KapanLagi.com®, mencoba untuk mengulik masa-masa Jeremy saat menjadi pembawa berita. Beruntung, Jeremy yang terkenal ramah, mau berbagi cerita tentang perjalanan hampir 20 tahun menjadi seorang jurnalis.

Banyak cerita unik dari pria yang pada tanggal 1 Agustus 2013 lalu menyatakan mundur dari SCTV, stasiun televisi yang membesarkan namanya lewat program Liputan 6. Di awal bergabungnya dengan SCTV, Jeremy tidak langsung menjadi news presenter, melainkan menjadi tim promo hingga menjadi wardrobe selama kurang lebih dua tahun.

Jeremy Teti harus berjuang agar bisa jadi news presenter. @KapanLagi.com®Jeremy Teti harus berjuang agar bisa jadi news presenter. @KapanLagi.com®


Di tahun 1996, barulah Jeremy bergabung dengan news departement di Jakarta. Di sini, Jeremy menjalani karir jurnalisnya sebagai reporter kriminal. Banyak sekali pengalaman seru saat dirinya menjalani pekerjaan sebagai reporter kala itu.

Tanggal 26 Agustus 1996, cita-cita Jeremy menjadi news presenter pun tercapai. Nama news presenter Desi Anwar pun menjadi panutan Jeremy. Dirinya merasa sangat terinspirasi oleh seorang Desi Anwar yang namanya saat itu begitu tenar sebagai news presenter.

Bagaimana kisah selengkapnya? Berikut petikan wawancara dengan Jeremy Teti.

Pertama kali terjun ke industri pertelevisian kapan bang?

Saya pertama kali terjun di dunia televisi itu tanggal 2 Mei 1994. Pertama kali diterima di SCTV Surabaya. Itu sebelumnya saya melewati proses audisi panjang selama enam bulan.

Dari sekitar 600 orang, yang lolos cuma saya sendiri. Pertama kali itu jadi announcer contuonity yang memperkenalkan acara sebelumnya, jadi kaya sekilas info yang munculnya sebentar. Saya juga jadi bagian promo on air, trus sama wardrobe selama dua tahun pertama.

Lalu?

Kemudian tahun 1996 SCTV membuka news departement. Saya dari kecil memang mau jadi news presenter. Akhirnya saya memberanikan diri ikut mendaftar. Dari situ mulai bergabung di news departement.

Pertama kali magang menjadi reporter kriminal. Dulu belum ada hp, cuma ada pager dari kantor dan bawa uang recehan segepok buat nelpon kantor dari telepon umum.

Akhirnya menjadi news presenter ceritanya seperti apa bang?

Per tanggal 26 Agustus 1996 pertama kali jadi news presenter untuk Liputan 6 Pagi berpasangan dengan Ira Koesno siaran live. Dari situ stripping, liputan 6 pagi selama 7 tahun.

Ternyata, jadi penyiar berita adalah cita-citanya sejak kecil. @KapanLagi.com®Ternyata, jadi penyiar berita adalah cita-citanya sejak kecil. @KapanLagi.com®


Apakah menjadi news presenter sudah jadi cita-cita bang Jeremy?

Itu cita-cita dan passion dari kecil. Saya udah lihat penyiar berita kayanya hebat banget. Saya berpikir kapan saya bisa seperti mereka. Itu saya masih kelas 2 atau 3 SMP, tv masih hitam putih, sekitar tahun 1980 atau 1981. Kayanya lihat mereka itu smart banget. Mereka tahu banget kaya sejarah bangsa, berita terbaru, itu saya lihat cerdas banget.

Siapa idola abang saat itu?

Pas tahun 1989 muncul RCTI muncullah seorang Desi Anwar. Nah dari situ saya mengikuti kisah Desi Anwar, pengen banget jadi kaya dia. Nah pas lagi audisi jadi presenter news itu tes psikologinya itu gambar bebas. Saya di situ gambar televisi dan di dalamnya ada Desi Anwar. Orang yang tes juga kaget.

Suka duka menjadi news presenter apa bang?

Kurang begitu banyak ya. Dukanya paling berangkat subuh. Jam 3 itu sudah bangun dan dijemput. Pernah supir jemputan itu terjun ke danau. Pernah juga kondisinya banjir tapi kita harus terjang. Nyangkut di atas jembatan Pesing. Akhirnya saya keluar mobil dan cari taksi biar nggak telat. Nggak dijemput juga pernah, itu cari taksi. Subuh itu nggak ada toleransi terlambat. Banyak supir yang dipecat karena saya. Akhirnya saya harus menutupi kalau supir nggak bisa jemput.

(kpl/pur/phi)

Reporter:

Mathias Purwanto


REKOMENDASI
TRENDING