Kapanlagi.com - Hampir sepekan sudah Abdul Qodir Jaelani alias Dul mendapatkan pengobatan dan perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Selatan. Dul, anak bungsu Ahmad Dhani dan Maia Estianty ini mengalami kecelakaan di jalan tol Jagorawi, Minggu (8/9) dini hari yang berakibat 6 orang meninggal dunia.Sebagian pihak pun mulai khawatir dengan dampak psikologi Dul terutama rasa trauma. Apalagi Dul baru berusia 13 tahun. Tetapi di mata psikolog forensik Lia Sutisna, secara general trauma yang dialami pasti ada. Namun untuk hilang sama sekali hal tersebut tergantung individu masing-masing.
Trauma yang dirasakan Dul bisa segera berkurang dengan dukungan dari orang tuanya "Untuk anak-anak sebenarnya tergantung disposisi tiap orangnya karena individu dan kepribadian orang tidak sama. Juga dengan waktu dan ketahanan yang beda-beda," katanya kepada KapanLagi.com®.Selain itu faktor eksternal pun ikut mempengaruhi kecepatan kesembuhan trauma. "Keluarga sangat berpengaruh. Seberapa besar kualitas dan kuantitas mengcover dirinya," sambungnya, Jumat (13/9).Sebenarnya, kata Lia, faktor pendukung lain masih banyak. Sebab ada pula faktor lain yang justru dapat menjadi bomerang dan kian memperlama hilang trauma. "Bisa aja faktor lain jadi bumerang buat dia. Misalnya media yang memberitakan dia atau label dari masyarakat sebagai sebab terjadinya kecelakaan. Itu menambah lama penyembuhan trauma," ucapnya.
Ahmad Dhani sengaja menjauhkan Dul dari pemberitaan tentang kecelakaan untuk menjaga mentalnyaBahkan jika rasa trauma sembuh bukan berarti dilepas begitu saja. Karena itu dapat timbul kembali apalagi tanpa sengaja bersinggungan dengan hal serupa."Masa depresi bisa berlangsung lama. Apalagi jika kecelakaan yang dialami merupakan pengalaman pertama. Harus ada observasi. Ada pemeriksaan psikolog secara berkala. Jadi kalau sembuh pun gak bisa dilepas," pungkas Lia.