SINETRON

KPI Desak Hentikan 'HAREEM'




      Kamis, 05 Februari 2009 14:01
      Kapanlagi.com - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Muttamimul Ula, di Jakarta, Kamis (05/02), meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) segera menghentikan tayangan sinetron HAREEM di stasiun televisi Indosiar. Alasannya karena cerita itu terkesan merusak citra sebuah agama.

      "Itu alasan pertama, yakni dari segi konten atau substansi, ceritanya merusak citra Islam lewat kelakuan seorang pemeluk yang mustahil seburuk itu," ujarnya.

      Ia lalu menuturkan sebagian isi cerita, di antaranya tentang kelakuan si anak berebut istri keempat ayahnya lalu sang ayah memperkosa istri mudanya yang masih remaja dan belum siap melakukan hubungan seksual.

      "Alasan kedua, HAREEM ditayangkan jam 19.00 WIB, tidak mencantumkan kategori (penonton), sehingga bertentangan dengan surat pedoman siaran (SPS) KPI," ujarnya.

      Muttamimul Ula memperkirakan, pada prime time tersebut, anak-anak masih terjaga sehingga HAREEM sangat berpeluang ditonton mereka, juga oleh remaja di bawah umur.

      Alasan ketiga, demikian ungkap Muttamimul Ula, di dalam website KPI, mereka menyiarkan adanya tiga protes dari masyarakat yang sekaligus minta dihentikannya tayangan sinetron tersebut.

      "Hal ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat tidak menghendaki sinetron HAREEM," tegasnya.

      Atas pertimbangan tersebut tidak ada alasan lagi bagi KPI untuk tetap diam serta tak mengambil tindakan lebih lanjut atas HAREEM.

      HAREEM sendiri didukung oleh artis-artis tenar tanah air, di antaranya Shandy Aulia, Tommy Kurniawan, dan Teddy Syah.     (kpl/npy)




      Komentar Pembaca (10)

      • Ahmad (Senin, 02 Maret 2009 22:34)
        Awalnya saya suka dgn film Hareem, tapi film ini sungguh tidak bisa memberikan hiburan yang menyenangkan! Keluarga saya jadi sedih...ternyata Soraya Intercine Film sudah sangat membodohi bangsa Indonesia...1)Film ini hanya patut ditoton oleh orang bodoh, karena penonton terus tersiksa..seolah-olah negara & bangsa ini tidak tahu lagi ttg Hukum...2)Film ini jika diputar pada jaman Belanda menjajah Indonesia masih masuk akal! karena isi film ini rutin (terus-menerus) tentang penyiksaan kepada Hinayah, pembodohan nilai-nilai hukum dan pelanggaran HAM berat??Memang...film itu perlu membuat penonton jadi tegang... tapi bukan terus-terusan menyiksa penonton,...KARENA TUJUAN UTAMA ORANG MENONTON ADALAH AGAR TERHIBUR & MENDAPAT KEPUASAN BATIN...BUKAN PENYIKSAAN & PEMBODOHAN. INGAT.. JIKA FILM INI TIDAK DIRUBAH ISINYA.. BISA DITINGGAL PENONTONYA?!Terimakasih semoga menjadi masukan yang baik untuk film ini.Rajasa - Best Regards.

      • magdalena (Kamis, 05 Maret 2009 00:53)
        Saya usul, bagaimana kalau Sinetrom HAREEM diganti KETHOPRAK atau LUDRUK aja? Kelihatannya lebih sesuai dan lebih berbudaya.Kanjeng Doso diganti Menak jinggo, Inayah diganti Kenconowungu. Pasti siip. :D

      • irgan (Jum'at, 06 Maret 2009 17:41)
        ubah sifat umi desi dan kanjeng tidak boleh percaya dengan omongan umi desi dan sheila

      • rosi (Sabtu, 21 Maret 2009 17:54)
        oy minta foto n alamat email nya yang meranin reffi dunk,pliiiisss banget coz dia anaknya luchu banget kl bisa yang banyak ya.dan tolong kirim ke email ku ya...thanks

      • az (Sabtu, 21 Maret 2009 23:06)
        Ada sebab patsi ada akibat. Ketika orang semua berkomentar tentang Senetron Hareem, tak asing jika ada prokontra dalam berkomentar. Dalam hal tersebut bisa kita tarik benang merah antara yg Suka dan tidak suka. Namum saya berpendapat bahwa kedua perbedaan tersebut menggambarkan dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok orang orang tidak semua tayangan/ hiburan ditelan begitu saja, dalam kata lain yaitu kelompok yg masih punya rasa kepedulian. Kelompok kedua adalah kelompok orang orang yang semua tayangan/hiburan ditelan begitu saja, dengan kata lain yaitu kelompok orang orang yang tidak punya rasa kepedulian. Kalau dikembangkan lagi antara orang beragama dan tidak beragama. Untuk yang pro Hareem, apapun yang anda katakan tetap saja tidak akan diterima oleh yang kontra Hareem. Yang harus paham dan peka adalah si pembuat flim. Saya sarankan buatlah flim atau hiburan yang bisa membawa manfaat bagi pemersanya.

      • KIRIM KOMENTAR