INDONESIA

'SERAMBI' Memotret Aceh Lewat Film

Senin, 02 Januari 2006 15:00






KapanLagi.com - SERAMBI, film doku-drama produksi Christine Hakim Film, adalah perjalanan menyusuri relung-relung batin rakyat Aceh setelah tsunami. Film yang digarap bersama oleh Garin Nugroho dan tiga sutradara muda, Viva Resti, Tony Trimarsanto dan Lianto Suseno ini menghadirkan potret kekinian Aceh pasca bencana dengan sajian tiga cerita yang berjalan seiring.

Pertama, kisah Reza, 24 tahun. Pemuda religius-revolusioner, keturunan ulama, penggila Che Guevara, fasih mengutip ayat suci, terampil menggeramkan lagu-lagu underground. Dalam bencana tsunami yang lalu Reza yang tinggal di Banda Aceh kehilangan kekasihnya, gadis yang ia sebut telah "berpusara di lengkung pelangi". Dengan motornya, penyair muda ini sering menyempatkan melongok rumah mendiang kekasihnya yang sudah porak poranda.

Kisah kedua tentang Tari, 12 tahun, gadis cerdas-tegar. Ia sempat terbawa gelombang sampai beberapa kilometer jauhnya. Tari kehilangan ibu dan adiknya yang masih kecil. Dengan pemahaman anak seumurnya, Tari dan kawan-kawan mencoba memaknai arti datangnya musibah tsunami.

Kisah berikutnya adalah tentang Usman, 45 tahun, penarik becak motor khas Aceh di Meulaboh. Laki-laki yang mencintai anak dan istrinya, kini sebatang kara. Seluruh keluarganya hilang dan selama dua bulan Usman berusaha mencarinya. Bahkan Usman hanya mau makan di bekas reruntuhan rumahnya, tempat istrinya dahulu selalu tersenyum menyambutnya dan anak-anak manis merindu derum motornya.

SERAMBI adalah tawaran baru dalam dunia perfilman Indonesia. Kita tidak hanya akan diajak melihat sajian yang berbeda, tetapi juga dihela untuk menziarahi batin sendiri. Seperti halnya Aceh yang dikenal sebagai serambi Mekkah, film ini juga serambi itu sendiri karena penonton tak bisa tidak akan melakukan perjalanan batin baru seusai menyaksikan film ini. (kl/wwn/dni)