Di masa yang sangat jauh setelah kematian Caesar, dunia telah berubah menjadi tempat di mana
kera berkembang menjadi spesies yang paling berkuasa. Mereka membentuk banyak klan dengan
budaya dan aturan masing-masing, sementara manusia yang tersisa hidup sebagai makhluk liar yang
kehilangan kemampuan berbicara dan kemampuan berpikir kompleks.
Dalam kondisi itulah
Noa, seekor kera muda dari klan pemburu yang terbiasa bekerja bersama elang, tumbuh dan menjalani
kehidupannya. Ia sedang bersiap menyambut upacara kedewasaan, sebuah tradisi penting bagi
klannya. Untuk menyelesaikan ritual itu, ia harus mengumpulkan telur elang liar bersama dua
sahabatnya, Anaya dan Soona. Perjalanan mereka tampak lancar sampai seorang manusia
pengembara mengikuti Noa pulang dan secara tidak sengaja memecahkan telur itu saat terjadi
perkelahian kecil.
Noa merasa hancur karena ritual tersebut memiliki makna besar bagi
dirinya dan bagi klannya. Ia memutuskan mencari telur pengganti, tetapi pencarian itu justru
membawanya pada sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di tengah hutan, ia melihat sekelompok kera
asing yang tidak ia kenal. Mereka bersenjata listrik dan bergerak seperti pasukan penakluk.
Noa bersembunyi dan tidak menyadari bahwa para penyerbu itu mengikuti kudanya
yang kembali ke desa. Saat ia menyusul, ia tiba dalam keadaan terlambat. Desanya terbakar hebat,
angin membawa bau asap dan jeritan. Di tengah kekacauan itu, ia melihat Sylva, gorila besar yang
menjadi pemimpin pasukan tersebut. Sylva membunuh ayah Noa, Koro, tepat di depan matanya lalu
menjatuhkan Noa dari ketinggian yang membuatnya hampir mati.
Ketika
tersadar, Noa mendapati bahwa seluruh klannya telah diculik. Dengan berat hati ia mengubur ayahnya
lalu memutuskan melakukan perjalanan panjang untuk menyelamatkan kaumnya. Dalam perjalanan
itu, ia bertemu dengan Raka, seekor orangutan bijak yang masih memegang erat ajaran Caesar
tentang belas kasih dan kehormatan. Raka menjadi teman sekaligus penuntun bagi Noa.
Bersama-sama mereka melanjutkan perjalanan sambil memperhatikan bahwa
manusia pengembara yang sebelumnya memecahkan telur itu kini mengikuti mereka dari jauh. Raka
menunjukkan kebaikan hati dengan memberi makanan dan selimut kepada manusia itu. Ia
menamakannya Nova tanpa mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan perempuan itu.
Saat mereka bertemu kelompok manusia liar lain yang sedang menggiring kawanan
zebra, pasukan Sylva kembali muncul secara tiba-tiba dan menyerang mereka. Dalam keributan itu,
Noa dan Raka menyelamatkan Nova. Mereka terkejut ketika Nova berbicara, memperlihatkan bahwa ia
bukan manusia liar biasa. Nova mengungkapkan nama aslinya, Mae, dan memberi tahu bahwa klan
Noa dibawa ke sebuah permukiman di tepi pantai dekat fasilitas manusia kuno.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan, namun saat menyeberangi jembatan, Sylva dan
kelompoknya kembali menghadang. Dalam pertempuran sengit itu, Raka menyelamatkan Mae dari
tenggelam tetapi dirinya tersapu arus deras dan menghilang.
Noa dan Mae
tertangkap lalu dibawa ke permukiman besar para kera. Di sana Noa bertemu kembali dengan klannya
yang diperbudak dan dipaksa bekerja untuk membuka pintu besar fasilitas manusia kuno.
Pemimpinnya adalah Proximus Caesar, kera yang mengaku sebagai penerus ajaran Caesar tetapi
justru bertindak seperti tiran yang haus kekuasaan.
Proximus percaya bahwa
teknologi manusia di balik pintu itu akan menjadikannya penguasa tak terbantahkan. Ia melihat
kemampuan Noa dan mengundangnya makan malam bersama Mae dan Trevathan, manusia lain yang
dijadikan narapidana serta pengajar sejarah manusia lama bagi Proximus.
Proximus memperingatkan Noa bahwa Mae memiliki misinya sendiri. Hal itu membuat Noa
menuntut kejujuran dari Mae. Mae akhirnya mengaku mengetahui pintu masuk rahasia menuju
fasilitas itu dan mengatakan bahwa ia mencari buku yang diyakininya dapat mengembalikan
kemampuan bicara manusia. Noa setuju untuk membantunya tetapi juga berniat menghancurkan apa
pun yang bisa memperkuat kekuasaan Proximus dan membuat klannya tetap diperbudak.
Dengan hati-hati, Noa, Mae, Anaya, dan Soona menanam bahan peledak di tembok
laut yang melindungi permukiman. Namun rencana mereka hampir terbongkar ketika Trevathan
memergoki mereka. Mae akhirnya membunuhnya demi menjaga rahasia. Mereka kemudian memasuki
fasilitas itu dan menemukan persenjataan manusia, arsip lama, dan benda yang Mae cari. Benda itu
ternyata bukan buku, melainkan kunci untuk mengaktifkan satelit yang dapat menghubungkan kembali
jaringan komunikasi manusia.
Di saat mereka hendak keluar, Proximus sudah
menunggu bersama pasukannya. Ketegangan memuncak dan Mae menggunakan senjata manusia
untuk menyelamatkan Soona dari eksekusi. Menyadari bahwa Proximus bisa menguasai seluruh
persenjataan itu, Mae meledakkan bahan peledak yang membanjiri fasilitas dan menjebak para kera di
dalamnya. Noa berusaha keluar dan berhadapan dengan Sylva dalam pertempuran terakhir sebelum
menyeret Sylva ke dalam air deras untuk tenggelam.
Noa berhasil lolos tetapi
diserang Proximus. Pertarungan mereka berakhir ketika Noa memanggil kawanan elang yang telah
dilatih klannya untuk menyerang sekaligus mengusir Proximus sampai ia terjatuh dari tebing dan
hilang di laut. Klan Noa akhirnya bebas, Mae melanjutkan misinya untuk bangsanya, dan masa depan
dua spesies itu tiba di persimpangan baru yang penuh ketidakpastian.
Di titik
ketika kera mulai membangun dunia mereka sendiri dan manusia mencoba bangkit kembali, apakah
perjumpaan kedua pihak ini akan membawa harapan atau justru memulai konflik yang lebih besar
daripada sebelumnya?
Penulis artikel: Abdilla Monica Permata B.