Membingkai Kisah Nabi Musa Sesuai Selera Penonton Modern

Kamis, 18 Desember 2014 13:01 Penulis: Mahardi Eka
Membingkai Kisah Nabi Musa Sesuai Selera Penonton Modern dok. 20th Century Fox
Kapanlagi.com - Oleh: Mahardi Eka

Tak sampai setahun sejak perilisan NOAH karya Darren Aronofsky, Ridley Scott merilis kisah nabi lainnya, yakni kisah nabi Musa dalam EXODUS: GODS AND KINGS. Berbeda dengan kisah Nabi Nuh yang lebih banyak bertutur tentang konflik batin Nuh saat harus meyakinkan keluarga dan membangun bahtera raksasa, Musa lebih menyasar pada perjuangan untuk memimpin sebuah bangsa besar keluar dari tirani perbudakan. 

Dari segi kisahnya saja, Musa menyajikan potensi kisah yang lebih epik dan kolosal. Di sinilah Ridley Scott masuk. Sutradara Inggris ini jagonya film kolosal. Tengok saja GLADIATOR, KINGDOM OF HEAVEN, dan ROBIN HOOD yang kesemuanya melibatkan pemain lebih dari ribuan orang. Apakah hanya itu yang disajikan EXODUS? Tentu tidak! EXODUS tidak berusaha mengulangi epik TEN COMMANDMENT (1956) yang juga kolosal dan megah.

EXODUS punya gaya bertutur yang cepat dan meloncat-loncat. Maka jangan kaget melihat Musa sudah tumbuh besar. Ridley tak mau repot menceritakan latar historis Musa sedari kecil. Langsung saja ke pokok permasalahan di mana Musa sudah besar dan menjadi salah satu anak Firaun.

Ia bersama dengan saudaranya Ramsees (Joel Edgerton) menjadi calon pemimpin Mesir di masa mendatang. Keduanya punya kecerdasan dan juga kemampuan bertarung tinggi. Cocok untuk menjadi kepala pasukan. 

Namun tak disangka, salah seorang budak Israel membocorkan sebuah rahasia besar. Bahwa Musa sejatinya punya darah Israel mengalir dalam tubuhnya. Kabar tersebut membuat Ramsees murka dan memutuskan mengasingkan Musa. 

Dalam pengasingannya itu, Musa bertemu dengan Tuhan. Sosok yang selama ini tak pernah ia yakini tersebut datang dan memintanya memimpin Israel keluar dari Mesir. Tuhan tak main-main dengan perintahnya ini, maka Musa dengan bantuan Tuhan kembali ke Mesir untuk melakukan misi membebaskan bangsa Israel. 

Di tangan Christian Bale, Musa terlihat lebih  garang. Mirip Bruce Wayne?Di tangan Christian Bale, Musa terlihat lebih garang. Mirip Bruce Wayne?

EXODUS tetap setiap pada benar merah cerita seperti yang ada dalam Alkitab. Yang menjadikan film ini berbeda dengan TEN COMMANDMENT adalah pendekatannya. Jika versi tahun 1956 digarap layaknya panggung kolosal dengan dialog indah dan juga kisah perjalanan Musa yang panjang dan berat, maka EXODUS lebih menekankan pada epik peperangannya. Bingkai EXODUS adalah bingkai realis dan juga bombastis. 

Musa yang kita lihat dalam versi sangat emosional. Bahkan dalam beberapa adegan kita akan melihat sosok Bruce Wayne yang sedang marah. Peperangan dan aksi Musa ketika bergerilya dalam film adalah adalah bukti lain bahwa pendekatan yang dilakukan Ridley Scott benar-benar berbeda dari versi yang lama. 

Peperangan tersebut makin didukung oleh CGI yang ciamik. Serangan 10 tulah Tuhan kepada bangsa Mesir terlihat begitu nyata dan mengerikan. Acungan jempol tentu patut diberikan pada divisi efek visualnya. 

Terlepas dari pendekatan dan tema ceritanya. EXODUS kurang optimal dalam memuaskan dahaga penonton akan kisah Nabi Musa. Semua orang sudah tahu ceritanya, oleh karenanya Ridley perlu menyajikan perspektif baru dari kisah tersebut. Kelemahan itu datang dari akting para pemain pendukungnya yang terkesan seperti tempelan belaka. Hanya Musa dan Ramsees yang terlihat menonjol.

Jika kamu perhatian, ada banyak gimmick filmnya yang dibuat berbeda dari cerita di Kitab Suci. Seperti misalnya proses terbelahnya Laut Merah. Selebihnya? Kamu tak akan menemukan kejutan dalam filmnya.
 

Efek spesial dalam film ini patut diacungi jempol. (20th Century Fox)Efek spesial dalam film ini patut diacungi jempol. (20th Century Fox)

(kpl/dka)

Editor:

Mahardi Eka


REKOMENDASI
TRENDING