SELEBRITI

Fenomena 'Coming Out' Artis dan Selebgram LGBT di Indonesia: Pengakuan Berujung Pro dan Kontra

Minggu, 15 Mei 2022 12:01 Penulis: Guntur Merdekawan

Pro dan Kontra LGBT di Indonesia / Credit Foto: KapanLagi.com

Kapanlagi.com - Disclaimer: Wawancara ini mencakup beberapa narasumber dari profesi yang berbeda, seperti sosiolog, psikolog, seksolog hingga para pelaku LGBT itu sendiri.

Reporter: Adi Abbas Nugroho, Dadan Eka Permana, Nuzulur Rakhmah, Sahal Fadhli, Fikri Alfi Rosyadi.

Istilah LGBT agaknya sudah tidak asing lagi di telinga kita semua. Pembahasan tentang topik ini kerap kali seliweran di berbagai media massa, media sosial bahkan mungkin dari obrolan-obrolan orang di sekitar kita. Satu hal yang pasti, bahasan ini cukup sensitif dan kerap menimbulkan pro kontra dari berbagai lapisan masyarakat.

Sebelumnya, apa sih LGBT itu? Dari kacamata penulis, LGBT mengacu pada sekelompok orang atau komunitas yang memiliki orientasi seksual dan juga identitas gender yang tidak konvensional (a.k.a tidak seperti orang lain pada umumnya). LGB adalah orientasi seksual yang merupakan singkatan dari Lesbian Gay Biseksual, sementara T singkatan dari Transgender yang merujuk pada identitas gender seseorang.

Pada awal diekspos kepada khalayak umum, LGBT langsung jadi sebuah perdebatan di berbagai penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Sebagian besar orang (maupun pihak) menyebut LGBT sebagai penyimpangan seksual yang melanggar norma-norma agama dan juga sosial. Tak jarang, komunitas LGBT dikucilkan, dicemooh bahkan mengalami kekerasan, baik secara fisik maupun psikis karena keberadaannya dianggap sebagai minoritas yang telah menyalahi aturan dan kodrat manusia.



1. Fase Coming Out dalam LGBT

Coming Out of the Closet atau biasanya disingkat Coming Out adalah sebuah ungkapan yang digunakan oleh komunitas LGBT untuk mengungkapkan orientasi seksualnya secara terang-terangan ke publik. Berkaca pada fakta jika sebagian besar publik saat ini masih menganggap LGBT sebagai sebuah penyimpangan seksual atau menyalahi kodrat, tentunya coming out bagi para pelaku LGBT layaknya sebuah perjudian. Bisa jadi keputusan mereka untuk buka-bukaan diterima dan mendapat dukungan, namun bisa juga sebaliknya.

Fenomena ini tentunya menarik untuk dikupas lebih jauh. KapanLagi.com belum lama ini dapat kesempatan buat ngobrol bareng beberapa ahli di bidangnya, bahkan mereka yang secara terbuka menyebut diri LGBT. Dari sisi pakar, kami ngobrol dengan sosiolog bernama Dr. Ida Ruwaida, S.Sos., M.Si yang memang cukup aware dengan isu satu ini.

"Dalam LGBT itu ada istilah coming out. Banyak yang sebetulnya yang berorientasi seks sejenis tapi nggak mau ngomong ke keluarganya karena takut dianggap ini itu, tapi mereka terbuka dengan temannya, pergaulannya. Nah makanya coming out dalam dunia LGBT  itu yang terakhir tahu itu adalah keluarga sebetulnya. Nah, bahkan ada di Indonesia karena tuntutan lingkungan, tuntutan keluarga, umur segini kok belum kawin-kawin, akhirnya nikah sudah umur sekian. Padahal dia nikah itu hanya sebagai satu usaha untuk memenuhi ekspektasi keluarga, lingkungan sosial," ungkap Ida Ruwaida dalam kesempatan ngobrol bareng KapanLagi belum lama ini.

Tak mudah memang bagi seseorang untuk come out tentang orientasi seksualnya. Terlebih jika sosok tersebut adalah seorang publik figur yang dikenal jutaan orang. Pasalnya, keputusan mereka untuk come out nantinya bisa saja jadi pedang bermata dua dan merusak karirnya. Menurut Ida, hal itu adalah sebuah hal yang wajar ditemukan di dunia keartisan.

"Saya sebenarnya mau bilang banyak di Indonesia justru pekerja seni, hiburan, artis atau apapun menjadi bagian yang disebut sebagai sub culture. Lingkungannya sudah biasa lah. Kalau ngobrol sama teman kita TST (tahu sama tahu) penyanyi siapa, artis siapa. Tapi mereka seperti punya kode etik untuk tidak memberitakan privasi dari artis tersebut. Padahal kita sudah sama sama tahu ada artis yang dianggap homo, lesbian. Tapi tidak pernah secara tegas dia coming out, ngaku saya orang yang begini. Nah itu kan mengindikasikan bahwa penerimaan masyarakat itu mati di Indonesia, beda dengan di Vietnam bahkan di beberapa negara sudah ditolerir sampai mereka bisa nikah," jelas Ida lebih jauh.

2. Sosial Media Sebagai Sarana untuk Speak Up

Nah meski mereka yang 'membawa' bendera LGBT dipandang miring dan mengalami berbagai perlakuan negatif, nyatanya makin hari makin banyak saja dari mereka yang secara blak-blakan speak up tentang orientasi seksualnya, terutama melalui sosial media. Ada beberapa nama sosok, baik artis maupun non selebriti yang juga secara terbuka mengaku bahwa mereka adalah LGBT, seperti yang dalam beberapa waktu terakhir ini namanya mencuat. Sebut saja Millendaru, Ragil Mahardika, Chika Kinsky - Yumi Kwandy dan beberapa lainnya.

"Dari kecil memang merasa sangat perempuan. Mama juga pengen dari dulu anak perempuan. Dari kecil, hormon aku juga lebih banyak hormon perempuan. Aku lagi nyaman seperti ini, happy in this way, bangga seperti ini daripada dulu," ujar Millen dikutip dari channel YouTube Deddy Corbuzier, Selasa (4/2/2020).

Bagi Ida, kehadiran media sosial di era digital ini memang tak bisa dipungkiri sebagai salah satu pemicu munculnya isu LGBT beserta segala pro dan kontra di dalamnya.

"Sekarang kita tidak usah bicara artis, justru yang menarik untuk konteks Indonesia kan bukan hal yang baru kalau kita bicara gay, itu homoseksual kan sudah banyak. Kenapa desainer kecenderungannya homo? Bahkan ada yang bandingkan di Malaysia nggak ada tuh yang homo. Mereka punya istri segala macam. Meskipun saya harus berhati hati mengomentari karena ada yang sebenarnya homo, tapi dia  harus punya istri agar memberi kesan kepada masyarakat bahwa dia 'hidupnya normal'. Padahal punya banyak pasangan (sejenis). Yang ingin saya tekankan, praktik homoseksual di Indonesia itu bukan lah suatu hal yang baru. Cuma karena ini era digital, mereka tampil," ungkap Ida.

Lebih jauh, dosen sosiologi Fisip UI itu juga bicara mengenai fenomena perubahan zaman berkat kehadiran sosial media. Kini, publik cenderung berlomba mendapatkan atensi tentang eksistensi mereka. "Karena di media sosial itu kehidupan privasi sudah nggak ada, lo mau makan apa? Lo mau ke mana? Diumumin ke dunia, kan gitu. Apalagi bisa streaming, tik tok, IG stories Karena ini dunia yang membuat batas antara kehidupan publik dengan private itu seolah nggak ada. Zaman dahulu kita bisa bicara ini kehidupan pribadi saya, jangan ditampilkan kepada publik. Kalau sekarang hampir sedikit. Jadi kehidupan media sosial ini yang memungkinkan sekarang kita menunjukan eksistensi kita," sambungnya.

3. Alasan untuk Come Out

Jika faktanya banyak kaum LGBT yang mengalami perlakuan kurang menyenangkan dari publik, kenapa malah banyak dari mereka yang berani blak-blakan speak up? Apakah hanya sekedar untuk mendapatkan eksposur? Ataukah mungkin mereka benar-benar ingin tampil jujur apa adanya tanpa perlu ada yang ditutup-tutupi? Chika Kinsky dan Yumi Kwandy yang belum lama ini bikin geger karena terang-terangan mengaku sebagai pasangan sesama jenis punya jawabannya sendiri.

"Jadi sebenernya Yumi yang duluan come out. Aku tuh bisexsual kan, jadi aku sesuai hati aja. Aku kliknya sama semua, ibarat kata gue sama cowok ini klik, gue klik sama cewek ini ya udah gue pacaran. Tapi kalau misalkan dia (Yumi) ini sebelum aku come out, dia come out duluan. Tapi bisexsual juga, kayak gitu lah. Terus tapi dia lebih kebuka dari aku," ungkap Chika ketika ditemui KapanLagi.com belum lama ini.

"Ya basically triggernya itu nggak ada, mending pengen jujur aja sama diri gua sendiri. Jatuhnya lebih ke situ aja. Makanya kita nggak pernah encourage orang-orang buat kayak misalnya ada yang lahir memang seperti itu. Kita nggak pernah encourage elo harus ngomong, karena habis itu pressure-nya itu elo yang tanggung. Kita nggak bisa bantuin tanggung. Cuma ya kita kesadaran sendiri aja gitu loh. Kayak dari Chika sendiri pengen, kalo dia nggak pengen ya udah nggak mungkin juga orang-orang bisa paksain. Kalau gue lebih capek hidup double life, daripada gue terima hujatan netizen. Jadi kayak ya udah gua jujur aja deh," tambah Yumi pada kesempatan yang sama.

Chika dan Yumi sendiri sekarang punya channel Youtube pribadi bernama Yumsky' Diary yang sebagian besar kontennya mengangkat tema LGBT. Namun jangan salah sangka dulu, pasangan yang diberi nama Yumsky ini mencoba untuk lebih mengangkat sisi edukasi, bukannya mengkampanyekan komunitas LGBT. Hingga berita ini diturunkan, channel Youtube tersebut sudah memiliki 180 ribu lebih subscribers.

"Jadi, sebenernya kita nggak kepikiran banget buat podcast karena sebenernya Yumsky' Diary pun kita nggak tau bakal lumayan naik lah buat saat ini. Jadinya sebenernya pertama kali emang buat podcast Spotify, terus udah gitu 'ngapain sih Spotify kayaknya belum terlalu gimana-gimana', kita podcast beneran tapi yang di YouTube kita juga gitu loh. Tapi beda segmen aja, jadi kita berdua itu maunya konsepnya itu 40 persen itu mengenai LGBT. Kita mengedukasi tentang LGBT jadi kita nggak sembarangan ngambil," jelas Chika mengenai konten Youtube-nya.

4. Reaksi Keluarga Terdekat Pasca Come Out

Seperti kita tahu, LGBT masih belum sepenuhnya bisa diterima oleh masyarakat Indonesia. Topik ini juga selalu sensitif untuk dibahas karena kerap menimbulkan pro dan kontra. Lalu, bagaimana dengan reaksi keluarga terdekat ketika seseorang speak up mengenai keputusannya menjadi LGBT? Jawabannya pasti berbeda-beda.

Nah bagi Una Dembler, seorang transgender yang juga selebgram, keputusannya untuk mengubah orientasi seksual bisa diterima dengan baik oleh sang ayah. Dan meskipun awalnya sempat mendapat penolakan dari sang mama, pada akhirnya semua berjalan sesuai keinginan Una.

"Aku come out pertama itu ke papa. Karena tiap pagi hari biasanya suka bikinin teh buat papa layaknya anak cewek, aku ngaku pas lulus SMA. Aku izin transisi dengan memperpanjang rambut. Papa emang pikirannya udah terbuka karena dia pernah kerja di luar negeri. Dan dia ngerasa dari kecil aku emang anak cewek karena dulu pas di kandungan emang pengin punya anak cewek. Begitu ngomong ke papa, dia setuju karena itu pilihan hidup aku. Lalu disuruh ngomong ke mama. Pas ngomong ke mama dia nggak bisa nerima karena dia kaget apa nanti kata keluarga. Akhirnya aku dibantu papa aku. Lama kelamaan dia setuju. Setelah itu aku izin keluar rumah dan tinggal sendiri," kenang Una ketika diwawancara secara eksklusif oleh KapanLagi.com belum lama ini.

Kisah serupa juga dialami oleh Ragil Mahardika, seorang gay yang kini sudah menikah dengan seorang pria Jerman dan menetap di sana. Meski awalnya sempat membuat keluarga besar shock setelah come out tentang jati diri aslinya, namun secara perlahan keputusannya itu diterima dengan baik.

"Pada saat aku sudah menetap di Jerman, mau tiga tahun di Jerman aku bilang ke keluarga jujur tentang orientasi seksualku. Jadi itu tahun 2014 sih aku coming out ke keluarga besar sebelum aku posting di media sosialku terlebih dahulu," ungkap Ragil Mahardika dalam sebuah interview eksklusif bersama KapanLagi.com.

"Jadi awal-awal kalau ngedate, aku nggak pernah posting foto cowoknya. Tapi aku merasa ih aku jadi terkekang ya, kenapa aku nggak bisa posting sedangkan aku udah tinggal di Jerman. Aku ada di lingkungan support system yang sangat toleransi kuat terhadap orientasi seksual. Dari situ lah aku merasa ini waktu yang pas untuk kasih tahu ke keluarga besar bahwa aku punya orientasi yang berbeda. Akhirnya aku kasih tahu, terus proses itu juga panjang, penerimaan dari mereka juga nggak yang hari ini langsung menerima kan ya. Tapi berbulan-bulan sampai ada tangisan sana-sini. Tapi dari situ aku memenangkan keinginanku bahwa aku bisa mengekspresikan diriku di media sosial karena keluarga besarku sudah tahu," tandasnya lebih jauh.

5. Alasan Seseorang Menjadi LGBT

Yang tak kalah menarik untuk dibedah adalah bagaimana awal mula seseorang menjadi LGBT. Ada yang menyebut mereka telah salah pergaulan, ada pula yang menduga adanya trauma dalam sebuah hubungan yang lantas menimbulkan distorsi pada orientasi seksualnya. Namun bagi kebanyakan kaum LGBT sendiri, mereka merasa jika sejak lahir di dunia sudah ditakdirkan untuk berbeda dari orang lain pada umumnya.

Zoya Amirin, pakar seksolog terkemuka di Indonesia pun sempat menuangkan pendapatnya terkait topik ini kepada KapanLagi.com. Zoya sendiri memang kerap mendapatkan pasien yang mengaku sebagai seorang LGBT, sehingga Ia sedikit banyak punya cerita dari sudut pandangnya yang menarik untuk dibagikan.

"Orang itu tidak menjadi LGBT karena dia nggak mendapatkan kepuasan seks dari beda jenis, jadi itu adalah identitas seksual sebenarnya. Yang bikin orang punya identitas gender itu dari otak, 'Siapa sih saya? Saya suka sama perempuan atau laki-laki atau suka semuanya?' Nah orientasi seksual lahirnya dari mana? Ya nggak tahu, penelitian banyak yang bertentangan. Apakah ada yang begitu sahihnya mengatakan bahwa homoseksual karena trauma? Ada karena trauma, ada keseimbangan otak yang tidak sama, betul. Tapi semua itu belum bisa dikatakan salah satu penyebab," terang Zoya Amirin.

"Jadi ini ada masalah sosiobiologi, ada masalah biologis yang mempengaruhi kehidupan sosialnya atau pilihan kehidupan sosialnya secara biologisnya juga berbeda. Seperti apa? Dia diperkosa, dikecewakan sama yang beda jenis, akhirnya secara biologis dia merasa lebih nyaman sama yang sesama jenis," tambahnya.

6. Tahukah Kamu LGBTQQIAAP?

Meski kebanyakan orang hanya mengenal istilah LGBT, namun ternyata ada singkatan yang lebih panjang dan detail, yakni LGBTQQIAAP. Istilah ini tercipta setelah para seksolog melakukan riset mendalam, lalu menyimpulkannya berdasarkan pengalaman para pasien. Apa kepanjangan dari istilah tersebut? Zoya Amirin pun mencoba mengupasnya satu per satu secara garis besar.

"LGBT sudah tahu kan ya. Kalau Q itu Queer, mereka yang tak mau didefinisikan sebagai lesbian, gay, biseksual. Pokoknya dia itu agak aneh. Orang queer itu tak mau disebut bencong, memang beda aja, fisiknya ada yang laki ada yang perempuan, mereka sedang mencari sedang suka sama yang mana. Q yang satunya Questioning, mereka lagi bener-bener mempertanyakan mereka apa. Kalau Queer, mereka sudah eksperimen, tapi nggak mau dikasih label, nah kalau Question ini belum tau label apa, lagi bingung, biseks, gay atau lesbian. Sedang berproses," terang Zoya Amirin.

"I itu interseks. Kasihan juga laki itu kromosomnya XY, perempuan XX. Makanya kalau punya anak jangan salahin perempuan, karena yang bisa nurunin kromosom lakinya. Jadi kalau yang ini orangnya gak jelas (lelaki atau perempuan). Ada kasus yang pemain voli yang ternyata dia itu bukan perempuan, dia mengalami hipospadia, jadi (maaf) penisnya nggak berkembang. A yang pertama itu Ally. Ya saya ini Ally, straight tapi saya mensupport Queer, termasuk individu LGBT. Kita menghargai," sambungnya.

"A satunya Aseksual, adalah individual yang tidak merasakan gairah seksual sama sekali. Bukan pastur bukan biksu, karena biksu merasakan hasrat seksual tapi dia menahan. Biasanya karena pelecehan seksual jadi Aseksual. Dari yang pernah saya tangani korban pelecehan, korban perkosaan atau dia itu sangat-sangat perfeksionis, jadi nggak nafsu kalau misal jarinya agak gimana sedikit, kekurusan, kegendutan. P itu Panseksual, adalah individu yang bisa terangsang pada siapa aja, suka pada Transgender, LGBT dia nggak pilih-pilih," tutup Zoya.

7. Hukum LGBT di Indonesia

Sejauh ini, hukum nasional Indonesia tidak mengkriminalisasikan LGBT. Namun perlu dicatat jika beberapa pejabat pemerintah sempat mengusulkan agar isu ini juga dimasukkan secara resmi ke dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), seperti salah satunya yang disampaikan oleh Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD dalam sebuah cuitan di akun Twitter resminya pada 11 Mei 2022 lalu.


"Ya, ini (usulan LGBT dan Zina agar dilarang) pernyataan saya yang berlaku dan saya pegang hingga sekarang. Itu usul kepada DPR yang waktu itu (2017) ribut soal pidana zina dan LGBT. Itu nilai-nilai moral keagamaan yang kita usulkan ke mak ke KUHP. Tapi hingga sekarang usul itu belum diterima sebagai hukum dan baru berlaku sebagai kaidah agama dan moral," cuit Mahmud MD mengomnetari sebuah artikel yang menunjukkan statement-nya tentang usulan hukum terhadap LGBT tahun 2017 silam.

Mahmud MD memang sedang gencar membahas topik terkait LGBT di akun Twitter-nya menanggapi kehebohan publik atas video podcast Deddy Corbuzier yang mengundang seorang pelaku LGBT, Ragil Mahardika. Meski banyak yang mengecam tindakan Deddy, Mahmud MD menegaskan jika apa yang dilakukan sang master magician itu tidak bisa dipidanakan karena belum ada undang-undang hukum yang mengaturnya.

"Coba saya tanya: Mau dijerat dengan UU nomor berapa Deddy dan pelaku LGBT? Nilai-nilai Pancasila itu belum semua menjadi hukum. Demokrasi harus diatur dengan hukum (nomokrasi). Nah LGBT dan penyiarnya itu belum dilarang oleh hukum. Jadi ini bukan kasus hukum. Berdasar asas legalitas, orang hanya bisa diberi sanksi heteronom (hukum) jika sudah ada hukumnya. Jika belum ada hukumnya, maka sanksinya otonom (seperti caci maki publik, pengucilan, malu, merasa berdosa, dll). Sanksi otonom adalah sanksi moral dan sosial. Banyak ajaran agama yang belum menjadi hukum," terang Mahmud MD lebih jauh dalam cuitannya.

Mahmud MD tanggapi kasus Deddy Corbuzier

8. LGBT Bakal Segera Masuk KUHP Resmi?

Nah menurut wakil ketua MPR RI Arsul Sani, delik praktik LGBT serta zina sudah masuk dalam draf Rancangan Kitab Undang-undang Kitab Hukum Pidana (RKUHP) hasil pembahasan di DPR periode 2014-2024. Hal itu disampaikannya saat dimintai respons terkait pernyataan Mahfud MD di atas.

"Soal delik zina dan perilaku cabul LGBT itu sudah masuk dalam RKUHP hasil pembahasan pemerintah dan DPR periode lalu. Jadi enggak perlu didorong-dorong lagi, karena memang sudah dibahas dan disepakati. Tentu dalam negara demokrasi ada perbedaan sudut pandang atau aspirasi. Itu hal biasa. Tapi PPP siap memperjuangkan lagi aspirasi yang menginginkan perluasan pasal RKUHP tentang zina dan perbuatan cabul LGBT jika dirasakan belum memadai dari sisi cakupan pasalnya," ungkap Arsul, seperti dilansir dari CNN Indonesia, Rabu (11/5/2022).

Sejatinya, Rancangan Undang-Undang Kitab Hukum Pidana (RKUHP) tentang LGBT ini juga sempat hampir disahkan oleh pemerintah tahun 2019 silam, sebelum akhirnya presiden Joko Widodo memutuskan untuk menundanya setelah terjadi demo besar-besaran yang berisi penolakan dari sejumlah kalangan. Kala itu, Andreas Harsono, peneliti senior Indonesia di Human Rights Watch juga sempat menolak keras disahkannya RKUHP tersebut.

"Rancangan Undang-Undang Kitab Hukum Pidana (RKUHP) ini tak hanya membahayakan perempuan, minoritas agama dan gender, melainkan semua orang Indonesia. DPR RI seharusnya menghapus semua pasal yang kejam sebelum meloloskan RUU ini," ungkap Andreas Harsono dalam sebuah tulisannya di situs resmi Human Rights Watch.

Nah pertanyaannya, apakah RKUHP terbaru yang menyinggung isu LGBT ini akan disahkan oleh pemerintah ke depannya nanti? Nobody knows yet. Tapi yang pasti, jika memang nantinya delik LGBT masuk dalam KUHP resmi, maka praktik LGBT di Indonesia bakal dianggap menyalahi aturan hukum negara.

Kalau dari KLovers sendiri bagaimana terkait fenomena yang sedang ramai ini? Apapun pendapatmu, pastikan untuk selalu melihat isu ini dari berbagai sudut pandang yang berbeda sebelum menghakimi satu sama lain ya. Kalaupun ada perdebatan atau beda pendapat, itu hal yang wajar kok, tapi yang damai ya!


REKOMENDASI
TRENDING