Idris Sardi Sang MaestroIdris Sardi: Jangan Panggil Aku Maestro!

Selasa, 06 Mei 2014 12:31 Penulis: Darmadi Sasongko
Idris Sardi: Jangan Panggil Aku Maestro! Idris Sardi © KapanLagi.com
Kapanlagi.com - Oleh: Darmadi Sasongko

Alunan musik terdengar merdu dari gesekan biola seorang pria yang saat itu tampil sederhana; berkacamata dengan baju putih serta sarung bercorak dominan warna merah. Dari sebuah panggung sederhana, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Selasa (23/10/2012), dia didaulat memainkan musik Indonesia Raya.

Musiknya pun terdengar tegas begitu dimainkan, hentakannya begitu kuat membuat para tamu semakin terdorong turut menyanyikan lagu kebangsaan. Applaus pun seketika menggema, memberikan penghormatan begitu senar biola mulai digesekkan bahkan hingga lagu berakhir, begitu seterusnya setiap lagu dimainkan.

Dia adalah Idris Sardi, maestro biola Indonesia, legenda pemusik tanah air yang namanya dikenal di setiap generasi. Karyanya sudah ribuan, bahkan mendapat gelar sang 'biola maut' karena kepiawaiannya.

Idris Sardi © KapanLagi.comIdris Sardi © KapanLagi.com

Saat itu memang digelar acara peluncuran buku biografinya, Idris Sardi, Perjalanan Maestro Biola Indonesia karya budayawan dan politisi Fadli Zon, sekaligus, bertepatan dengan perayaan 57 tahun meninggalnya Mas Sardi, ayah kandung Idris.

Namun, ada sisi kontras tergambar dari acara itu. Tepatnya, ketika nada protes keluar dari mulut Idris Sardi saat diwawancarai wartawan usai acara.

Dia dengan segala prestasi di mata banyak orang, sebagaimana tergambar dalam buku yang diluncurkan saat itu, menampik anugerah kehormatan tertinggi bagi seorang seniman. Sardi, dengan mimik emosional menolak dilabeli sebagai seorang maestro.

Siapapun yang melihat peristiwa saat itu, menyaksikan Sardi yang sedang tidak bercanda. Dia jauh dari sikap sekadar malu-malu atau jaga gengsi untuk sebuah pencitraan. Sardi yang dikenal tegas, keras namun sederhana, menunjukkan sebuah sikap penolakan.

Ke-maestroan-an, dalam pandangannya bukan milik makhluk di bumi, tapi milik Tuhan semata. "Saya ini bukan maestro, hanya Tuhan," ucapnya saat itu.

Maestro dalam pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai seorang yang ahli dalam bidang seni, terutama bidang musik, seperti komponis, konduktor atau juga empu di zaman dulu.

Jenazah Idris Sardi © KapanLagi.com/Budy_SantosoJenazah Idris Sardi © KapanLagi.com/Budy_Santoso

Apakah Idris kurang ahli? Dia seorang komponis dengan 2000-an karya, juga konduktor dengan ratusan konser berkelas internasional, bahkan empu-nya musik.

Idris Sardi boleh menolak label sebagai maestro, namun sesungguhnya waktu dan prestasi telah mengukirnya menjadi the real maestro. Dedikasi dan sifat perfeksionisnya dalam bermusik menjadi buktinya. Dia telah mengukir karya, sejak mencintai biola di usia 5 tahun hingga akhir hayatnya.

Bahkan, saat harus melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya, Idris tetap menunjukkan dedikasinya demi perkembangan musik. Dia, seminggu sekali masih mengajar tiga siswa yang masih berusia belasan tahun.

Putrinya, Santi Sardi (45) mengaku kalau dua pekan sebelum almarhum berpulang, ayahnya masih menunjukkan coretan tentang rencana konser atribusi untuk musisi kenamaan yang tenar pada dekade 1960-1970-an di Malaysia, Tan Sri P Ramlee.

"Sampai sekarang, posisi Idris tidak tergantikan," kata Fadli Zon di samping jenazah almarhum yang dikebumikan di TPU Menteng Pulo, Senin, 28 April 2014 lalu itu.

Selamat jalan, Maestro. Surga takkan pernah sepi dengan alunan gesekan biolamu yang menyayat syahdu.

(kpl/dar)


REKOMENDASI
TRENDING