Layaria dan Obsesi Dennis Adishwara di Belakang Layar

Jum'at, 05 Desember 2014 10:45 Penulis: Wulan Noviarina
Layaria dan Obsesi Dennis Adishwara di Belakang Layar @KapanLagi.com®/Bambang E Ros
Kapanlagi.com - Lama tak terlihat di depan layar kaca, ternyata Dennis Adishwara sedang sibuk di belakang layar. Tepatnya, ia berkecimpung di dunia online dengan brand Layaria yang ia kembangkan di Youtube.

Saat ditemui di Markplus Main Campus Eightyeight, Kasablanka, Jakarta Selatan belum lama ini, pemeran Mamet di film ADA APA DENGAN CINTA ITU menceritakan bisnis yang sudah cukup lama ia jalani itu.

"Layaria terbentuk dari 2012. Jadi misi kami tuh kayak semacam jaringan untuk video maker di Indonesia. Karena percaya bahwa banyak bakat baru. Yang mendirikan saya. Ada 163 video maker. Macem-macem, bahkan anak SMA aja ada. Karya mereka keren-keren, cuma mungkin kalah gaung sama di Jakarta. Saya pengen kumpulin yang di daerah," ujar Dennis.

Dennis mengisahkan bahwa ia awalnya ia membikin komunitas, mailing list, grup FB, berkembang bikin kopi darat baru kemudian bikin web. Semua bisa ikut.

"Tapi kalau ke level berikutnya, jadi partner ya dikurasi dulu. Sekarang di Youtube sudah ada 60-an channel," lanjutnya.

Dennis tidak membantah kalau proyek yang ia kerjakan berbasis komersil. Ia dan tim akan memberi tahu, yang bagus buat industri itu yang seperti apa. Itu ia lakukan agar bisa berkarya di kota masing-masing tanpa perlu ke Jakarta.

Dennis serius dengan proyek Layaria. @KapanLagi.com®/Bambang E RosDennis serius dengan proyek Layaria. @KapanLagi.com®/Bambang E Ros


Untuk skema bisnis sendiri, Dennis memakai sistem profit sharing. Ada yang dulu hanya membuat video untuk pernikahan, kini sudah membuat video untuk iklan telko. Ada juga beberapa anak Samarinda yang membuat video konten di Youtube.

Demi Layaria, Dennis rela meninggalkan dunia seni peran yang sudah membesarkan namanya. Menurutnya, tidak ada satu hal yang tidak berubah, termasuk pekerjaan.

"Saya percaya evolusi. Ini evolusi dari itu. Kami pengennya sih 2015 sudah kembangkan ke produk rumah tangga. Di permukaan, mungkin dibilang bikin video lucu-lucuan. Padahal nggak. Kami pengen teman-teman punya portofolio. Tahu cara bertukar value juga," urainya panjang lebar.

Dennis berharap, apa yang ia lakukan sekarang bisa menjauhkan Indonesia dari jajahan video asing. Kalau bisa malah bekerjasama dengan para videografer dari negara lain.

(kpl/aal/phi)

Reporter:

Sahal Fadhli


REKOMENDASI
TRENDING