Taufik Ismail Berpuisi di Atas Angin

Kapanlagi.com - Berpuisi bagi seorang Taufik Ismail bukan hal yang baru, dan pengalaman itu membantu dirinya hingga dalam usianya yang sudah senja ia masih tampak tegar dengan puisi-puisi yang tetap kritis. Namun ia mengaku baru sekali tampil di sebuah gedung tinggi, yaitu ketika dia menyuguhkan puisi Jangan-Jangan Kita juga Maling di Wisma Dharmala Jakarta.

"Ini pangunggung paling tinggi yang saya pijak, biasanya saya melakukanya di panggung di atas tanah atau aula. Kali ini saya mendapat panggung setinggi `sepuluh lantai`," kata Ismail Maszuki di hadapan ratusan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia.

Ia mengibaratkan kehadirannya di "panggung tertinggi" tersebut sebuah arti pencapaian yang harus diraih dengan susah payah, walaupun dia mencapai lantai 10 gedung itu dengan menumpang lift.

"Angka sepuluh angka bagus, dan itu pertanda bagus pula bagi kita semua, meskipun sebenarnya kita belum sepenuhnya merdeka," kata Taufik Ismail.

Teriakan penyair sepuh yang satu ini melayangkan keprihatinan terhadap kondisi bangsa yang sedang carut-marut dengan generasinya yang dirongrong budaya negatif dan masa depan yang "kosong" dan perlu perjuangan luar biasa.

"Kita ini bangsa paripurna, semua hal ada di sini mulai dari keberhasilan, kehormatan, kriminalitas, kebobrokan budaya, kriminalitas, mental bangsa hingga kemerdekaan bangsa yang tercabik asing sehingga kita dililit tali utang luar negeri yang begitu besar," katanya.

Masalah gelontoran pinjaman dari IMF disebut Taufik sebagai pemicu "industri korupsi".

"Untuk bertahan waras saja kita sudah untung, leher kita mudah dipatahkan IMF," demikian salah satu bait puisinya.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

(*/dar)

Rekomendasi
Trending