7 Cara Agar Bisa Menyentuh Hajar Aswad dengan Aman dan Sesuai Sunnah
cara agar bisa menyentuh hajar aswad (c) unsplash.com
Kapanlagi.com - Menyentuh dan mencium Hajar Aswad merupakan impian setiap jamaah yang datang ke Masjidil Haram untuk menunaikan ibadah haji maupun umroh. Hajar Aswad adalah sebuah batu yang terletak di sudut timur Ka'bah, bangunan kuno di pusat Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi.[1] Memahami cara agar bisa menyentuh Hajar Aswad dengan aman menjadi pengetahuan penting bagi setiap calon jamaah.
Setiap Muslim yang melaksanakan haji atau umroh diwajibkan mengelilingi Ka'bah tujuh kali berlawanan arah jarum jam, dan selama tawaf tersebut dianjurkan untuk menyentuh atau mencium Hajar Aswad jika memungkinkan, meskipun melakukannya bukan merupakan kewajiban.[2] Namun karena padatnya jamaah dari seluruh dunia, mengetahui cara agar bisa menyentuh Hajar Aswad tanpa membahayakan diri sendiri dan orang lain sangatlah krusial.
Dalam era modern, kerumunan besar membuat hampir tidak mungkin bagi setiap orang untuk mencium batu tersebut, sehingga saat ini dianggap cukup untuk menunjuk ke arah Hajar Aswad di setiap tujuh putaran tawaf mengelilingi Ka'bah.[1] Meski demikian, dengan strategi yang tepat, peluang untuk bisa menyentuhnya tetap terbuka lebar.
Advertisement
Pihak berwenang Arab Saudi mengingatkan para jamaah untuk menghindari perilaku berdesak-desakan, karena berhenti di dekat Hajar Aswad menyebabkan kerumunan yang mengganggu, dan bahwa berhenti tersebut bukan syarat sahnya tawaf.[4] Menurut Kemenag.go.id, mencium Hajar Aswad memerlukan kiat yang tepat agar ibadah berjalan lancar dan sesuai syariat.[10]
1. Cara Agar Bisa Menyentuh Hajar Aswad dengan Memilih Waktu yang Tepat
Langkah pertama dan paling menentukan dalam cara agar bisa menyentuh Hajar Aswad adalah memilih waktu yang tepat. Kepadatan jamaah sangat bervariasi sepanjang hari, dan waktu-waktu tertentu menawarkan peluang yang jauh lebih besar untuk mendekati batu mulia ini tanpa harus berdesak-desakan.
Identifikasi waktu sepi di Masjidil Haram: Waktu terbaik untuk mendekati Hajar Aswad adalah saat jam-jam tidak sibuk, seperti dini hari atau larut malam, ketika kerumunan lebih tipis.[1] Manfaatkan waktu sepertiga malam terakhir setelah sholat tahajud untuk mencoba mendekati area Hajar Aswad.
Hindari jam-jam puncak kepadatan: Hindari mencoba mendekati Hajar Aswad tepat setelah waktu sholat wajib, khususnya setelah Subuh, Maghrib, dan Isya, karena saat itulah jamaah paling padat di area tawaf.
Pertimbangkan musim dan kalender: Hari-hari biasa di luar musim haji dan Ramadan cenderung lebih lengang. Jika Anda menunaikan umroh di luar puncak musim, peluang Anda akan lebih besar.
2. Cara Agar Bisa Menyentuh Hajar Aswad dengan Mengikuti Arus Tawaf
Salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan jamaah adalah memotong jalur tawaf secara tegak lurus menuju Hajar Aswad. Cara agar bisa menyentuh Hajar Aswad yang benar adalah dengan mengikuti aliran tawaf secara alami dan perlahan bergeser ke arah dalam mendekati Ka'bah.
Ikuti aliran tawaf berlawanan arah jarum jam: Hajar Aswad memainkan peran sentral dalam ritual istilam, ketika jamaah mencium, menyentuh dengan tangan, atau mengangkat tangan sambil mengucapkan takbir, yang dilakukan dalam tujuh putaran mengelilingi Ka'bah berlawanan arah jarum jam.[1] Tetap berada dalam aliran ini saat bergerak mendekat.
Bergeser ke jalur dalam secara bertahap: Jangan langsung menuju ke dinding Ka'bah. Perlahan-lahan bergeser ke arah dalam selama beberapa putaran tawaf hingga Anda berada di posisi yang dekat dengan sudut Hajar Aswad.
Jangan melawan arus jamaah: Memotong aliran tawaf akan mengganggu jamaah lain yang sedang beribadah dan bisa membahayakan keselamatan Anda serta orang lain di sekitar.
3. Cara Agar Bisa Menyentuh Hajar Aswad dengan Mengamati Ritme Kerumunan
Sebelum mencoba mendekati Hajar Aswad, jamaah yang bijak akan mengamati terlebih dahulu pola pergerakan kerumunan di sekitar Ka'bah. Strategi ini dapat meningkatkan peluang keberhasilan sekaligus menjaga keselamatan diri.
Amati selama 5 hingga 10 menit: Sebelum bertindak, amati aliran selama 5 hingga 10 menit untuk mempelajari ritme kerumunan dan arahan petugas keamanan.[1] Perhatikan kapan ada celah yang terbuka secara alami di dekat sudut Hajar Aswad.
Pilih jalur yang sesuai kecepatan Anda: Temukan jalur yang sesuai dengan langkah Anda dan pastikan tangan kanan tetap bebas untuk melakukan istilam saat tiba di posisi yang tepat.
Bergerak saat ada celah alami: Saat Anda sejajar dengan batu tersebut, berhenti sejenak jika ada ruang yang terbuka secara alami. Jangan memaksa jika ruang tidak tersedia.
Bergerak lateral saat ada gelombang kerumunan: Jika Anda merasakan gelombang tekanan dari belakang, bergeraklah ke samping untuk melepaskan tekanan dan biarkan gelombang tersebut berlalu sebelum melanjutkan.
4. Cara Agar Bisa Menyentuh Hajar Aswad dari Arah Rukun Yamani
Para jamaah berpengalaman mengetahui bahwa memulai pendekatan dari arah Rukun Yamani merupakan salah satu strategi terbaik dalam cara agar bisa menyentuh Hajar Aswad. Sudut ini berada tepat sebelum Hajar Aswad dalam jalur tawaf.
Masuk ke barisan dari sudut Rukun Yamani: Cara terbaik untuk memulai adalah masuk ke barisan di sudut Yamani. Dari sini, Anda tinggal mengikuti dinding Ka'bah menuju sudut Hajar Aswad.
Pertahankan posisi dekat dinding Ka'bah: Langkah kedua adalah tetap menempel pada dinding Ka'bah, pastikan satu tangan Anda terus menyentuh dinding agar tidak terseret ke dalam kerumunan.
Jaga posisi tangan dengan tepat: Tangan yang menghadap ke arah kerumunan sebaiknya dalam posisi menurun agar tidak mendorong jamaah lain. Tetap tenang dan bergerak perlahan mengikuti arus.
Hajar Aswad dan sudut di seberangnya, yaitu Rukun al-Yamani, sering kali dilumuri parfum oleh penjaga masjid.[1] Hal ini dapat menimbulkan masalah bagi jamaah yang sedang dalam keadaan ihram, yang dilarang menggunakan produk beraroma dan akan memerlukan kaffara (denda) jika menyentuh keduanya.[1] Oleh karena itu, jamaah yang sedang berihram perlu mempertimbangkan hal ini sebelum mencoba menyentuh Hajar Aswad. Baca juga: Panduan lengkap kain ihram untuk jamaah haji dan umrah.
5. Cara Agar Bisa Menyentuh Hajar Aswad dengan Memposisikan Tubuh Secara Aman
Keselamatan fisik harus menjadi prioritas utama saat berusaha mendekati Hajar Aswad. Strategi posisi tubuh yang tepat bisa melindungi Anda dari cedera sekaligus meningkatkan peluang untuk menyentuh batu mulia ini.
Lindungi area dada dan perut: Letakkan tangan di depan dada untuk memberi ruang bernapas, terutama saat berada di area padat di dekat sudut Hajar Aswad.
Pastikan pijakan kaki tetap kokoh: Waspadai pijakan Anda agar tidak terjatuh atau terinjak. Lantai di area tawaf bisa licin, sehingga langkah yang mantap sangat penting.
Jangan membawa barang bawaan besar: Tinggalkan tas, botol air, dan barang berharga di penginapan. Membawa barang besar akan menghambat gerak dan membahayakan diri sendiri maupun jamaah lain.
Tetap tenang dan kendalikan emosi: Islam sangat menekankan kelembutan dan pertimbangan, terutama di tempat-tempat suci, serta keselamatan dan kesabaran harus selalu diutamakan.[1]
6. Cara Agar Bisa Menyentuh Hajar Aswad dengan Memahami Isyarat Petugas Askar
Petugas keamanan (askar) di area Hajar Aswad memiliki peran penting dalam mengatur siapa yang boleh mendekat. Memahami isyarat mereka merupakan bagian dari cara agar bisa menyentuh Hajar Aswad tanpa berdesak-desakan secara berlebihan.
Perhatikan isyarat tangan dan bahasa tubuh petugas: Askar biasanya memberikan isyarat tangan untuk mengizinkan giliran jamaah mendekat. Patuhi arahan mereka dan jangan memaksa jika belum diberi izin.
Tunjukkan kesiapan fisik: Petugas cenderung mengizinkan jamaah yang terlihat siap secara fisik, tidak membawa barang besar, dan tidak menunjukkan perilaku mendorong.
Hindari jasa calo atau joki Hajar Aswad: Jangan menyewa orang untuk mengawal Anda mendekati Hajar Aswad. Mereka umumnya kasar dan bisa menyakiti jamaah lain, sehingga Anda turut bertanggung jawab atas kezaliman tersebut.
Bersikap sopan dan sabar: Jamaah yang menyapa petugas dengan sopan sambil menunggu dengan tenang seringkali mendapat perhatian lebih baik dari para askar.
7. Cara Agar Bisa Menyentuh Hajar Aswad dan Melakukannya dengan Cepat
Jika Anda sudah berhasil mencapai posisi di depan Hajar Aswad, penting untuk melakukan istilam dengan cepat, tepat, dan tidak berlama-lama. Ribuan jamaah lain juga menunggu kesempatan yang sama di belakang Anda.
Segera lakukan istilam: Selesaikan tindakan yang Anda pilih (mencium, menyentuh lalu mencium tangan, atau menunjuk) dengan cepat dan lembut, lalu segera bergerak untuk mencegah kemacetan.
Jangan mengambil foto atau selfie: Mencoba berfoto di depan Hajar Aswad sangat membahayakan keselamatan karena menghambat arus jamaah dan mengurangi kekhusyukan ibadah.
Keluar dengan perlahan mengikuti arus: Setelah berhasil menyentuh Hajar Aswad, jangan langsung berbalik arah. Ikuti arus tawaf terlebih dahulu sampai Anda menemukan celah untuk keluar dari kerumunan secara bertahap.
Jangan berlama-lama: Terlalu lama berdiam di area Hajar Aswad akan membuat petugas menegur Anda. Ingatlah bahwa apa yang Anda inginkan juga diinginkan ribuan jamaah lainnya.
Baca juga: Kisah Kartika Putri yang akhirnya berhasil mencium Hajar Aswad.
8. 4 Sunnah Berinteraksi dengan Hajar Aswad Sesuai Tuntunan Rasulullah
Para ulama menjelaskan bahwa terdapat empat cara sunnah untuk berinteraksi dengan Hajar Aswad saat tawaf, yang seluruhnya memiliki dasar dari praktik Rasulullah SAW. Keempat cara ini memberikan fleksibilitas bagi jamaah sesuai kondisi kerumunan yang dihadapi.[3]
Menyentuh dan mencium langsung (Taqbil): Nabi SAW mencium Hajar Aswad, dan umatnya mengikuti jejak beliau dalam melakukan hal tersebut.[3] Ini adalah cara yang paling sempurna jika kondisi memungkinkan.
Menyentuh dengan tangan lalu mencium tangan (Istilam): Jika tidak bisa mencium langsung, jamaah dapat menyentuh dengan tangan lalu mencium tangannya, sebagaimana Ibnu Umar menyentuh Hajar Aswad dengan tangan lalu mencium tangannya.[3]
Menyentuh dengan tongkat atau benda lain: Jamaah menyentuh Hajar Aswad dengan tongkat atau benda yang dipegang, kemudian mencium bagian benda yang bersentuhan dengan batu tersebut.
Berisyarat dengan tangan (Istilam jarak jauh): Jika keduanya sulit dilakukan, cukup mengangkat tangan kanan dan berisyarat sambil membaca doa.[1] Jamaah mengucapkan "Bismillahi Allahu Akbar" saat melakukan isyarat ini. Cara ini tetap bernilai sunnah dan sah.
Menurut Kapanlagi.com, jika tidak mampu mencium Hajar Aswad karena alasan keamanan akibat banyaknya jamaah, maka bisa memilih istilam dengan tangan atau benda, atau hanya melambaikan tangan.[8]
9. Keutamaan Menyentuh Hajar Aswad dalam Islam
Hajar Aswad adalah sebuah batu yang terletak di sudut timur Ka'bah dan dimuliakan oleh umat Muslim sebagai peninggalan Islam yang menurut tradisi berasal dari zaman Nabi Adam.[1] Para ulama menyebutkan beberapa keutamaan besar terkait batu suci ini yang menjadikannya begitu istimewa bagi setiap jamaah yang menunaikan ibadah haji maupun umroh.
Keutamaan Hajar Aswad di antaranya: diturunkan oleh Allah dari surga ke bumi, dulunya lebih putih dari susu namun dosa-dosa anak Adam membuatnya menghitam, akan datang pada Hari Kiamat untuk menjadi saksi bagi mereka yang menyentuhnya dengan benar, dicium oleh Nabi SAW sehingga umatnya mengikutinya, serta menyentuhnya merupakan sarana penghapus dosa.[3]
Cendekiawan Islam Muhammad Hamidullah memaknai kedudukan batu ini dengan mengatakan bahwa "Nabi telah menamai Hajar Aswad sebagai 'tangan kanan Tuhan' (yamin-Allah)."[1] Seorang hamba meletakkan tangannya di sana untuk menyepakati perjanjian, dan Tuhan memperoleh perjanjian kesetiaan dan kepatuhan kita di sana.[1]
Menurut tradisi, batu ini diberikan kepada Adam saat diusir dari surga agar memperoleh pengampunan dosa-dosanya, dan legenda menyebutkan bahwa batu ini awalnya berwarna putih tetapi menghitam karena menyerap dosa-dosa ribuan jamaah yang telah mencium dan menyentuhnya.[2]
10. Adab Penting Saat Mendekati Area Hajar Aswad
Menjaga adab saat berusaha mendekati Hajar Aswad bukan hanya soal etika, tetapi merupakan bagian integral dari ibadah itu sendiri. Menghormati adab yang benar di sekitar Hajar Aswad sangat penting untuk menjaga semangat ibadah selama tawaf, dan meskipun menghormatinya adalah bagian dari sunnah, menyakiti diri sendiri atau orang lain dalam upaya meraihnya justru dilarang.[1]
Yakini bahwa Hajar Aswad tidak memiliki kekuatan sendiri: Umar bin Khattab pernah berkata, "Aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa mendatangkan bahaya maupun manfaat."[3] Menciumnya semata-mata karena mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Jangan menzalimi jamaah lain: Mencium Hajar Aswad hukumnya sunnah, sedangkan menyakiti sesama Muslim hukumnya haram. Jangan mendorong, menarik, atau menyakiti siapa pun demi mencapai batu tersebut.
Jangan mengumbar cerita setelah berhasil: Jika sudah berhasil mencium Hajar Aswad, hindari menyombongkan diri atau memposting di media sosial secara berlebihan, karena ibadah sebaiknya disembunyikan agar terhindar dari riya.
Bersabar jika belum berhasil: Jika menyentuh atau mencium batu tersebut tidak dapat dilakukan dengan aman, menunjuk ke arahnya dari kejauhan sudah cukup dan sepenuhnya diterima, karena menghormati orang lain selama tawaf adalah bentuk ibadah tersendiri.[1]
Prioritaskan jamaah lansia dan yang memiliki keterbatasan: Ka'bah mengumpulkan umat dari seluruh dunia termasuk lansia, keluarga, dan mereka yang memiliki kemampuan berbeda, sehingga adab yang baik berarti memberi ruang dan membiarkan kasih sayang memandu keputusan kita.
Jangan memotong lurus aliran tawaf: Jamaah yang sedang tawaf akan terganggu jika Anda memotong aliran mereka, terutama saat kondisi ramai di dekat Ka'bah.
Baca juga: Kisah Sonny Septian dan Fairuz A Rafiq yang diberi kemudahan saat umrah dan berhasil cium Hajar Aswad.
11. Panduan Khusus Bagi Wanita yang Ingin Menyentuh Hajar Aswad
Bagi jamaah wanita, upaya menyentuh Hajar Aswad memerlukan pertimbangan ekstra terkait keselamatan dan kehormatan diri. Para ulama memberikan panduan khusus agar muslimah tetap bisa meraih keutamaan interaksi dengan Hajar Aswad tanpa harus menanggung risiko yang tidak perlu.
Para ulama Lajnah Daimah menyatakan bahwa mencium Hajar Aswad selama tawaf adalah sunnah mu'akkadah jika bisa dilakukan tanpa berdesak-desakan atau mengganggu siapa pun, dan jika hanya bisa dilakukan dengan berdesak-desakan, maka sebaiknya tidak dilakukan. Dalam hal tersebut cukup menunjuk dengan tangan, terutama bagi wanita.
Pilih waktu yang paling sepi: Banyak muslimah yang menemukan strategi berikut sangat membantu: memilih waktu yang lebih tenang seperti larut malam atau dini hari setelah Subuh untuk mengurangi tekanan kerumunan.
Pergi berpasangan atau dalam kelompok kecil: Pergilah berpasangan atau dalam kelompok kecil, biarkan satu orang mencoba sementara yang lain menjaga jarak aman.
Pertimbangkan tawaf dari jalur yang lebih luar: Pertimbangkan untuk melakukan tawaf dari jalur dalam yang lebih tidak padat, atau dari lantai mataf atas selama lonjakan kerumunan puncak.
Utamakan isyarat tangan: Jika kondisi terlalu ramai, berisyarat ke arah Hajar Aswad sudah cukup dan tetap mendapatkan pahala sunnah. Kehormatan wanita lebih utama daripada memaksakan diri berdesak-desakan.
Baca juga: Kumpulan doa untuk orang berangkat umroh dalam bahasa Arab.
12. Mengenal Sejarah dan Keistimewaan Hajar Aswad
Memahami sejarah Hajar Aswad akan memperdalam makna spiritual saat jamaah berusaha menyentuhnya. Batu ini bukan sekadar batu biasa, melainkan memiliki perjalanan panjang yang terkait erat dengan sejarah Islam dan peradaban manusia. Sebagai batu penjuru Ka'bah, Hajar Aswad adalah batu yang paling dimuliakan di muka bumi, dan umat Muslim ingin menciumnya karena Nabi Muhammad SAW melakukannya.
Menurut tradisi, batu ini ditempatkan dalam keadaan utuh ke dinding Ka'bah oleh Nabi Muhammad pada tahun 605 Masehi, lima tahun sebelum wahyu pertamanya. Sejak saat itu, batu tersebut pecah menjadi beberapa fragmen dan kini dibungkus dalam bingkai perak di sisi Ka'bah. Penampilannya berupa batu gelap yang terfragmentasi, dihaluskan oleh sentuhan para jamaah.[1]
Setelah penaklukan Makkah pada tahun 630, Nabi Muhammad dikabarkan mengelilingi Ka'bah tujuh kali di atas untanya sambil menyentuh Hajar Aswad dengan tongkatnya sebagai tanda penghormatan. Batu ini telah mengalami penodaan dan kerusakan berulang kali sepanjang sejarah.[1] Pada tahun 930, Hajar Aswad dicuri oleh sekte Syiah ekstrem yang dikenal sebagai Karamathian dan ditahan selama hampir 20 tahun untuk tebusan.[2]
Hajar Aswad yang terletak sekitar 1,5 meter dari tanah kini tidak lagi utuh, melainkan terpecah menjadi beberapa fragmen batu hitam. Fragmen-fragmen tersebut mengkilap, dihaluskan oleh ratusan tahun sentuhan dan ciuman para jamaah. Batu ini merupakan satu-satunya peninggalan dari struktur asli Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS. Baca juga: Ucapan Lebaran Haji yang penuh makna.
13. Peran Teknologi Modern dalam Manajemen Kerumunan di Masjidil Haram
Pemerintah Arab Saudi terus mengembangkan sistem manajemen kerumunan berbasis teknologi canggih yang secara langsung memengaruhi pengalaman jamaah di area Hajar Aswad. Memahami sistem ini akan membantu jamaah menyesuaikan strategi mereka saat mencoba mendekati batu suci tersebut.[5]
Pergerakan kerumunan di Makkah dan Tempat-Tempat Suci dikelola oleh strategi terpusat berbasis data yang mengandalkan input waktu nyata dari kamera pengawas, pemantauan udara, dan aplikasi pelacakan lokasi.[6] Dr. Al-Hassan bin Yahya al-Manakhra, Wakil Menteri Kerjasama Internasional Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, menegaskan bahwa "setiap langkah yang diambil memiliki satu tujuan: memudahkan pengalaman agar jamaah bisa fokus pada perjalanan spiritual mereka."[7]
Seorang pakar manajemen kerumunan asal Inggris pernah menyatakan bahwa "Arab Saudi layak menerima medali emas dalam mengelola dan mengorganisasi kerumunan serta mengarahkan massa manusia."[5] Kerajaan telah mempelajari cabang manajemen ini secara mendalam dan bahkan membuka Institut Manajemen Kerumunan di dalam Pusat Riset Haji di Universitas Umm Al-Qura.[5]
Di antara inovasi yang diperkenalkan adalah pemeriksaan imigrasi digital, manajemen kerumunan berbasis kecerdasan buatan (AI), dan perangkat pemantauan kesehatan yang dapat dikenakan.[7] Teknologi ini membantu otoritas mengantisipasi titik kemacetan dan memandu jamaah dengan presisi, termasuk di area sekitar Hajar Aswad. Baca juga: Panduan menjadi petugas haji PPIH 2026.
14. Persiapan Spiritual Sebelum Mencoba Menyentuh Hajar Aswad
Selain persiapan fisik dan strategi, aspek spiritual juga memegang peranan penting dalam upaya menyentuh Hajar Aswad. Niat yang tulus dan doa yang khusyuk dapat menjadi sarana terbaik agar Allah memudahkan jalan bagi jamaah untuk meraih kesempatan berharga ini.
Perbanyaklah doa dan ibadah sunnah selama berada di Makkah, termasuk sholat malam dan dzikir di waktu-waktu mustajab. Ritual-ritual yang melibatkan Hajar Aswad bukan tentang menyembah batu itu sendiri, melainkan merupakan emulasi simbolis dari tindakan Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan cinta dan penghormatan terhadap tradisi beliau, serta ungkapan penghormatan lahiriah kepada Allah dan hubungan simbolis dengan Nabi Ibrahim serta asal-usul Islam.
Hajar Aswad pada hakikatnya hanyalah sebuah batu yang bersifat simbolis seperti bendera suatu negara yang merupakan sesuatu untuk dihormati dan dibanggakan. Menciumnya bukan suatu kewajiban melainkan ungkapan cinta, sebagaimana seseorang akan mencium anaknya. Baca juga: Kumpulan kata-kata inspiratif untuk perjalanan spiritual umroh.
Banyak jamaah yang akhirnya merasakan kemudahan untuk menyentuh Hajar Aswad setelah fokus memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Allah. Menurut Kapanlagi.com, saat fokus memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Allah, doa tersebut tiba-tiba dikabulkan. "Allah gak pernah lupa," dan ia merasa takjub serta bersyukur karena momen tersebut datang dengan cara yang indah dan tanpa kendala.[9]
15. Hal yang Perlu Diketahui tentang Kondisi Fisik Hajar Aswad Saat Ini
Mengetahui kondisi fisik Hajar Aswad membantu jamaah mempersiapkan diri dengan lebih baik saat akan menyentuhnya. Beberapa fakta penting tentang batu ini perlu dipahami agar ekspektasi sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Lokasi dan ketinggian: Hajar Aswad terletak di sudut timur Ka'bah, di mana pecahan-pecahannya yang kini terpecah dikelilingi oleh cincin batu dan disatukan oleh pita perak yang berat.[2] Batu ini berada sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah.
Kondisi fragmen: Batu tersebut kini pecah menjadi beberapa fragmen dan dibungkus dalam bingkai perak, dengan penampilan berupa batu gelap yang terfragmentasi, dihaluskan oleh sentuhan para jamaah.[1]
Selalu dilumuri parfum: Hajar Aswad dan Rukun al-Yamani sering kali dilumuri parfum oleh penjaga masjid.[1] Jamaah dalam keadaan ihram perlu mempertimbangkan hal ini.
Titik awal dan akhir tawaf: Hajar Aswad memainkan peran jelas dan praktis dalam ritual tawaf karena menandai titik awal dan akhir setiap putaran mengelilingi Ka'bah, membantu jamaah menghitung tujuh putaran yang diwajibkan.
Pengelolaan modern: Pemerintah Arab Saudi secara rutin melakukan perawatan terhadap Hajar Aswad dan bingkai peraknya untuk memastikan kelestariannya bagi generasi mendatang.
Baca juga: Ucapan menyambut jamaah pulang umroh dalam bahasa Arab.
16. FAQ
Apakah menyentuh Hajar Aswad termasuk wajib dalam ibadah haji atau umroh?
Menyentuh atau mencium Hajar Aswad tidak wajib, melainkan termasuk sunnah Nabi Muhammad SAW dan dipandang sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.[1] Tawaf tetap sah meskipun jamaah tidak menyentuh Hajar Aswad. Baca juga: Makna mimpi ke tanah suci menurut para ulama.
Kapan waktu terbaik untuk mencoba menyentuh Hajar Aswad?
Waktu terbaik adalah di luar jam sibuk, yaitu menjelang tengah malam hingga sebelum Subuh, atau siang hari setelah Dhuha. Hari-hari biasa di luar musim haji dan Ramadan juga lebih lengang sehingga peluang untuk mendekati Hajar Aswad lebih besar tanpa berdesak-desakan. Baca juga: Makna mimpi tentang umroh.
Apa yang harus dilakukan jika tidak bisa menyentuh Hajar Aswad?
Jika tidak bisa mendekati Hajar Aswad, cukup angkat tangan kanan ke arah batu tersebut dan ucapkan "Bismillahi Allahu Akbar". Cara ini sah secara syariat dan tetap bernilai sunnah sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.
Apakah wanita boleh mencoba menyentuh Hajar Aswad?
Wanita boleh menyentuh Hajar Aswad jika kondisi aman dan tidak berdesak-desakan dengan jamaah laki-laki. Namun jika kondisi sangat ramai, para ulama menganjurkan agar wanita cukup berisyarat dari jauh demi menjaga kehormatan dan keselamatan diri.
Apakah boleh menyewa jasa orang untuk mengawal ke Hajar Aswad?
Menyewa jasa calo atau joki untuk mengawal jamaah ke Hajar Aswad sangat tidak dianjurkan. Mereka umumnya menggunakan cara kasar yang menyakiti jamaah lain, dan hal ini bertentangan dengan prinsip ibadah yang melarang menzalimi sesama Muslim. Baca juga: Panduan lengkap badal haji melalui Kemenag.
Bagaimana hukumnya jika terkena parfum Hajar Aswad saat ihram?
Karena Hajar Aswad selalu dilumuri parfum, jamaah yang sedang berihram perlu berhati-hati. Jika parfum berpindah melalui kedekatan tanpa sengaja, tidak ada hukuman. Namun jika menyentuh dengan sengaja mengetahui ada parfumnya, maka mungkin dikenakan kaffara (denda). Dalam keadaan ihram, cukup berisyarat tanpa menyentuh langsung. Baca juga: Artis Indonesia yang sudah menunaikan ibadah haji.
Apakah niat dan doa lebih penting daripada fisik menyentuh Hajar Aswad?
Jamaah tidak diwajibkan untuk mencium atau menyentuh Hajar Aswad sebagai prasyarat ibadah haji, yang menunjukkan bahwa perannya bersifat simbolis bukan ilahiah. Allah menilai niat dan usaha, bukan semata-mata hasil akhirnya. Jamaah yang berniat tulus namun tidak berhasil menyentuh Hajar Aswad tetap mendapatkan pahala atas niat baiknya.
Menyentuh dan mencium Hajar Aswad memang merupakan pengalaman spiritual yang luar biasa bagi setiap jamaah haji dan umroh. Namun yang terpenting, keberhasilan menyentuhnya bukanlah tolok ukur kesempurnaan ibadah. Jaga adab, utamakan keselamatan, dan berserahlah kepada Allah SWT, karena Dialah yang menentukan waktu terbaik bagi setiap hamba-Nya untuk meraih keberkahan perjalanan ibadah di Tanah Suci.
Daftar Referensi
- Wikipedia. Black Stone. Diakses pada 24 April 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Stone
- Britannica. Kaaba | Definition, Interior, Black Stone, & Fact. Diakses pada 24 April 2026, dari https://www.britannica.com/topic/Kaaba-shrine-Mecca-Saudi-Arabia
- IslamQA. Virtues of the Black Stone. Diakses pada 24 April 2026, dari https://islamqa.info/en/answers/1902
- Gulf News. Saudi Arabia advises pilgrims against jostling for Black Stone in Mecca Grand Mosque. Diakses pada 24 April 2026, dari https://gulfnews.com/world/gulf/saudi/saudi-arabia-advises-pilgrims-against-jostling-for-black-stone-in-mecca-grand-mosque-1.500088212
- MDPI. Saudi Arabia's Management of the Hajj Season through Artificial Intelligence and Sustainability. Diakses pada 24 April 2026, dari https://www.mdpi.com/2071-1050/14/21/14142
- Arab News. Smart Hajj: How authorities are preparing for crowd control. Diakses pada 24 April 2026, dari https://www.arabnews.com/node/2603261/saudi-arabia
- Al Arabiya English. How Saudi Arabia held the most technologically advanced Hajj in 2025. Diakses pada 24 April 2026, dari https://english.alarabiya.net/News/saudi-arabia/2025/06/30/how-saudi-arabia-held-the-most-technologically-advanced-hajj-in-2025
- Kapanlagi.com. Tata Cara Umrah Sesuai Syariat dan Wajib Diketahui Sebelum Berangkat ke Tanah Suci. Diakses pada 24 April 2026, dari https://plus.kapanlagi.com/tata-cara-umrah-sesuai-syariat-dan-wajib-diketahui-sebelum-berangkat-ke-tanah-suci-118258.html
- Kapanlagi.com. Dilarang Suami, Kartika Putri Akhirnya Mencium Hajar Aswad dengan Cara Tak Terduga. Diakses pada 24 April 2026, dari https://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/dilarang-suami-kartika-putri-akhirnya-mencium-hajar-aswad-dengan-cara-tak-terduga-cae42a.html
- Kemenag.go.id. Mencium Hajar Aswad Perlu Kiat yang Tepat. Diakses pada 24 April 2026, dari https://kemenag.go.id/read/mencium-hajar-aswad-perlu-kiat-yang-tepat-mex7
Berita Foto
(kpl/psp)
Advertisement