All Quiet on the Western Front
Drama History War

All Quiet on the Western Front

2022 148 menit R
Rating 7.8/10
Rating 8.6/10
Sutradara
Edward Berger
Penulis Skenario
Edward Berger Lesley Paterson Ian Stokell Erich Maria Remarque
Studio
Amusement Park Films Gunpowder Films Sliding Down Rainbows Entertainment

Paul Bäumer (Felix Kammerer) adalah seorang remaja Jerman yang penuh semangat dan percaya diri. Ia tumbuh bersama teman teman dekatnya yang sama sama masih muda dan masih melihat dunia dengan optimisme. Ketika Perang Dunia Pertama meletus, sekolah Paul berubah menjadi ruang propaganda yang mendorong para pemuda bergabung menjadi tentara. Kata kata penuh semangat dari para guru dan tokoh berpengaruh membuat Paul dan teman temannya merasa bahwa menjadi tentara adalah kehormatan terbesar bagi seorang pria muda Jerman. Dalam euforia itu, Paul mendaftarkan diri tanpa benar benar memahami apa yang menantinya di medan perang.

Bersama Kropp (Aaron Hilmer), Müller (Moritz Klaus), dan Leer (Adrian Grünewald), Paul mengikuti pelatihan singkat yang lebih banyak menekan mental daripada memberi persiapan. Mereka diberi seragam bekas milik tentara yang sebelumnya sudah gugur. Meskipun hal itu membuat Paul sempat ragu, semangatnya masih belum hilang. Ia tetap percaya bahwa dirinya akan pulang sebagai pahlawan. Dengan pikiran yang penuh keyakinan, Paul berangkat menuju Front Barat, tempat yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Ketika tiba di garis depan, Paul langsung terkejut melihat kenyataan. Tidak ada kejayaan seperti yang selalu ia dengar. Tidak ada kemuliaan ketika tembakan dan ledakan datang dari segala arah. Tidak ada kebanggaan ketika para tentara harus bertahan hidup di dalam parit kotor yang penuh lumpur dan bau kematian. Paul menyaksikan bagaimana tentara jatuh satu per satu. Ia melihat tubuh yang tidak utuh, jeritan orang orang yang sekarat, dan ketakutan yang tidak pernah ia bayangkan. Dalam hitungan jam, semangatnya berubah menjadi ketakutan yang dalam. Paul menyadari bahwa perang bukanlah panggung kehormatan. Perang adalah tempat orang mati tanpa alasan jelas.

Paul dan teman temannya mencoba beradaptasi. Mereka belajar menggali parit baru, membawa amunisi, dan berlari di bawah hujan peluru. Di antara semua itu, mereka bertemu dengan Katczinsky atau Kat (Albrecht Schuch), seorang tentara yang jauh lebih berpengalaman dan menjadi sosok mentor bagi Paul. Kat mengajari mereka cara bertahan hidup mulai dari cara membaca suara meriam hingga mencari makanan di tengah kekacauan. Kehadiran Kat membuat Paul sedikit merasa aman karena ia tahu bahwa ada seseorang yang memahami bagaimana menghadapi kegilaan perang.

Hari demi hari, Paul mulai kehilangan sebagian besar harapan masa mudanya. Di setiap pertempuran, ia melihat teman temannya jatuh. Leer tewas dalam ledakan. Müller tidak berhasil melewati serangan mendadak. Kropp terus berjuang tetapi tidak lagi seceria dulu. Paul merasa waktu berjalan lambat, tetapi kematian datang begitu cepat. Ia tidak lagi memikirkan kehormatan. Yang ia inginkan hanyalah bertahan hidup dan melihat hari berikutnya.

Sementara itu, di tempat lain, para pemimpin politik Jerman dan Prancis sedang berdiskusi mengenai perjanjian gencatan senjata. Matthias Erzberger (Daniel Brühl) menjadi salah satu tokoh yang mendorong agar perang segera dihentikan. Ia lelah melihat sosial dan militer Jerman hancur perlahan. Namun negosiasi tidak berjalan cepat. Para pemimpin militer masih keras kepala dan tidak mau mengakui kekalahan. Ketika para pemimpin berdebat di ruangan nyaman, para tentara seperti Paul yang merasakan langsung kehancuran harus terus berperang tanpa alasan yang jelas.

Paul semakin larut dalam kekacauan. Ia terus berhadapan dengan ketakutan yang sama setiap hari. Ia kehilangan terlalu banyak teman. Dalam perjalanan itu, ia mulai menyadari betapa sia sianya perang yang mereka hadapi. Para pemuda yang seharusnya memiliki masa depan justru kehilangan nyawa di tanah berlumpur. Paul menjadi saksi bagaimana perang merenggut kehidupan, harapan, dan kemanusiaan.

Ketika kabar tentang gencatan senjata mulai terdengar, Paul merasa ada harapan baru. Namun kenyataan tidak seindah yang ia bayangkan. Sebelum gencatan resmi berlaku, salah satu jenderal yang ambisius memerintahkan serangan terakhir. Ia ingin mencatat kemenangan kecil meski perang sudah hampir berakhir. Paul dan para tentara lain terpaksa mengikuti perintah itu meski mereka sudah sangat lelah dan hancur secara mental.

Dalam serangan terakhir itu, Paul kembali berlari di antara ledakan dan tembakan. Ia melihat banyak tentara muda yang bahkan belum sempat berperang kini harus mati tanpa arti. Paul sendiri mengalami serangan langsung ketika berusaha bertahan di medan yang sama sekali tidak memberinya ruang untuk hidup. Perang benar benar menguras jiwanya.

Dalam detik detik terakhir sebelum gencatan senjata resmi berlaku, Paul menghadapi kenyataan pahit. Ia telah kehilangan segalanya. Sahabat sahabatnya sudah pergi. Harapan masa depan tidak lagi jelas. Ia tidak lagi merasa seperti remaja yang penuh semangat. Paul hanyalah seorang manusia yang dipaksa menjadi saksi dari kebodohan perang.

Ketika perang akhirnya dihentikan, yang tersisa hanyalah keheningan dan tanah yang penuh kehancuran. Namun pertanyaannya masih menggantung. Berapa banyak kehidupan seperti Paul yang harus hilang sebelum para pemimpin menyadari bahwa perang tidak pernah memberi kemenangan sejati? Dan jika perang benar benar berakhir, apakah luka di hati Paul dan tentara lainnya dapat sembuh atau justru akan terus membekas sepanjang hidup?

Penulis Artikel: Anastashia Gabriel

Felix Kammerer Paul Bu00e4umer
Albrecht Schuch Stanislaus Katczinsky
Aaron Hilmer Albert Kropp
Moritz Klaus Franz Mu00fcller
Adrian Gru00fcnewald Ludwig Behm
Edin Hasanovic Tjaden Stackfleet
Daniel Bru00fchl Matthias Erzberger
Thibault de Montalembert General Ferdinand Foch
Devid Striesow General Friedrichs
Andreas Du00f6hler Leutnant Hoppe

Jadwal Film