Ganga Jagjivandas Kathiawadi adalah gadis berusia enam belas tahun yang lahir dari keluarga
kaya di Kathiawad. Ayahnya seorang pengacara Gujarati Hindu yang terpandang dan masa depannya
tampak cerah. Namun, di balik kehidupan yang mapan itu, Ganga memendam impian besar untuk
menjadi aktris di industri film Hindi yang gemerlap.
Cita-cita itu membuatnya berani mengambil
langkah nekat. Pada 1944 ia kabur dari rumah bersama kekasihnya yang lebih tua bernama Ramnik,
pria yang berjanji akan membantunya meniti karier di dunia film dengan bantuan bibinya yang bernama
Sheela.
Namun semua harapan itu runtuh seketika ketika Ganga menyadari bahwa Ramnik
bukan kekasih setia, melainkan seorang penipu yang tega menjual dirinya kepada Sheela. Bukan
menuju dunia film seperti yang dijanjikan, Ganga justru dijebloskan ke dunia kelam prostitusi. Di
tempat itu, ia dipaksa melayani pelanggan dan kehilangan kebebasan.
Nama
Ganga dihapus, diganti dengan nama baru yang disematkan Sheela, yaitu Gangu. Meskipun awalnya
hancur dan putus asa, Gangu perlahan mulai menemukan kekuatan di tengah penderitaan. Ia melihat
bagaimana para perempuan di sana hidup tanpa hak, tanpa suara, dan tanpa hari libur, diperlakukan
hanya sebagai barang dagangan.
Dengan keberaniannya, Gangu mulai
memperjuangkan hak-hak rekan sesama pekerja di rumah bordil itu. Ia memperkenalkan ide agar para
pekerja seks memiliki satu hari libur setiap minggu, agar mereka bisa beristirahat dan memulihkan diri.
Meski ditentang, ide itu perlahan diterima. Namun kehidupan Gangu tak lepas dari bahaya.
Suatu malam, seorang preman kejam bernama Shaukat menyerangnya dengan brutal
hingga membuatnya terluka parah dan harus dirawat di rumah sakit. Tak ingin diam, Gangu mencari
keadilan. Ia mendatangi Rahim Lala, pemimpin mafia berdarah Afghanistan yang dikenal keras namun
memiliki rasa hormat terhadap perempuan. Terpukau dengan keberanian Gangu, Rahim Lala
memutuskan melindunginya dan menganggapnya sebagai saudara perempuannya. Ia menghukum
Shaukat dengan tangannya sendiri hingga membuat nama Gangu disegani dan dihormati oleh para
perempuan di kawasan itu.
Sembilan tahun berlalu, dan setelah kematian
Sheela, Gangu resmi menjadi pemimpin rumah bordil tersebut. Dari sanalah nama Gangubai mulai
dikenal luas. Ia tumbuh menjadi sosok yang kuat, cerdas, dan berpengaruh di kawasan Kamathipura,
daerah lampu merah di jantung kota Bombay. Gangubai bukan hanya seorang madame yang mengatur
bisnis, tetapi juga seorang pelindung bagi banyak perempuan yang bernasib seperti dirinya.
Waktu terus berjalan hingga tahun 1962. Seorang gadis berusia empat belas tahun
bernama Madhu dari Ratnagiri dijual ke sebuah rumah bordil di Kamathipura. Pemilik tempat itu,
Rashmibai, kesulitan memaksa Madhu untuk bekerja. Ia kemudian meminta bantuan Gangubai untuk
meyakinkan gadis itu.
Gangubai pun menemui Madhu dan menceritakan kisah
hidupnya, mulai dari pengkhianatan Ramnik hingga perjuangannya bertahan hidup. Bukannya
memaksa, Gangubai justru mengembalikan Madhu ke keluarganya agar tak bernasib sama seperti
dirinya. Keputusan itu membuat banyak orang di Kamathipura semakin menghormatinya.
Di tengah pengaruh yang kian besar, Gangubai memutuskan untuk mencalonkan diri
sebagai presiden wilayah Kamathipura. Lawannya adalah Raziabai, seorang hijra yang telah
memenangkan jabatan itu selama dua tahun berturut-turut tanpa tandingan dan dikenal licik serta
bengis.
Dengan bantuan Rahim Lala, Gangubai mulai menggalang dukungan. Ia
mengatur penjualan minuman keras ilegal untuk mendapatkan dana yang digunakan memperbaiki
kesejahteraan para pekerja seks di wilayahnya. Raziabai berusaha menjatuhkannya dengan
memerintahkan polisi menangkap Gangubai, tetapi upaya itu gagal. Gangubai justru membalik
keadaan dengan menayangkan film-film Hindi secara gratis di wilayahnya, menarik simpati rakyat dan
meraih dukungan besar.
Ia juga mengatur pernikahan antara Roshni, anak
perawan dari salah satu perempuan di rumah bordil bernama Kusum, dengan seorang penjahit muda
bernama Afsaan yang pernah mengisi tempat istimewa di hatinya. Dengan membayar mahar dan
menggelar pesta besar, Gangubai menunjukkan bahwa perempuan di Kamathipura pun pantas
mendapatkan kebahagiaan. Tindakan itu membuat dukungannya semakin kuat.
Pemilihan pun digelar dan hasilnya, Gangubai menang telak. Ia kini menjadi pemimpin baru
Kamathipura, bukan hanya sebagai madame, tapi juga sebagai tokoh masyarakat yang
memperjuangkan hak-hak perempuan dan pekerja seks agar diakui sebagai manusia yang memiliki
martabat.
Dalam masa jabatannya, Gangubai untuk pertama kalinya dalam dua
belas tahun mendapat kesempatan berbicara dengan keluarganya. Ia mengetahui bahwa ayahnya
telah meninggal dan keluarganya masih menolak untuk memaafkan keputusannya melarikan diri.
Meskipun luka lama itu belum sembuh, Gangubai terus melangkah dengan tegas.
Suatu hari, ketika ia berdiri di balkon rumahnya di Kamathipura dan memandang ke jalanan yang
ramai oleh kehidupan malam, kabar mulai beredar bahwa pemerintah berencana menggusur kawasan
itu. Bagi Gangubai, tempat itu bukan hanya sebatas wilayah perdagangan tubuh, namun itu adalah
rumah bagi ribuan perempuan yang hanya punya satu pilihan dalam hidup. Dan kini, keputusan
terbesar yang akan menentukan masa depan Kamathipura ada di tangannya. Langkah apakah yang
akan Gangubai ambil?
Penulis artikel: Abdilla Monica Permata B.