Sita dan Adil adalah dua anak yang tumbuh dalam keluarga sederhana yang mengelola sebuah
toko roti kecil. Hidup mereka berjalan tenang sampai suatu pagi seorang pria asing datang ke toko
membawa sebuah kaset rekaman yang ia serahkan kepada Adil. Pria itu berbicara dengan gelisah dan
mengatakan bahwa ia merekam sesuatu sendiri lalu mengucapkan kalimat bahwa ia berlindung
kepada Tuhan.
Ia memperingatkan Adil agar tidak keluar dari toko sebelum akhirnya
melangkah keluar dan meledakkan bom di jalanan. Ledakan itu merenggut nyawa banyak orang
termasuk kedua orang tua Sita dan Adil. Trauma itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang
mengubah hidup mereka selamanya.
Setelah menjalani pemeriksaan polisi, kedua anak itu
memutar kaset yang ditinggalkan sang pelaku. Suara di dalamnya berisi rekaman seorang lelaki yang
menjerit seolah sedang mengalami penyiksaan mengerikan. Kata yang terus terulang adalah siksa
kubur. Pelaku bom itu percaya bahwa tindakan ekstremnya akan membebaskannya dari hukuman
setelah kematian dan keyakinan sesat itu meninggalkan jejak dalam kehidupan Sita.
Tanpa lagi memiliki keluarga, Sita dan Adil dikirim ke sebuah sekolah berasrama dengan aturan
religius yang ketat. Di tempat itu keduanya berjuang untuk memahami kehilangan mereka. Sita yang
semakin terobsesi dengan konsep siksa kubur mulai mencari jawaban sendiri. Suatu malam ia
mendengar percakapan dua pengajar bernama Umaya dan Ustadzah.
Mereka
membicarakan Ilham seorang donatur sekolah yang ternyata selama ini melakukan kekerasan seksual
terhadap anak-anak di sana termasuk seorang anak bernama Ismail yang akhirnya meninggal. Sita
memutuskan pergi ke kediaman Ilham dan tanpa ia sangka Adil ada di sana.
Ia
melihat sendiri Adil diperkosa oleh pria itu. Dengan bantuan Umaya keduanya melarikan diri melalui
sebuah terowongan yang gelap dan dipenuhi penglihatan menyeramkan tentang Ismail yang wajahnya
rusak seolah meminta pertolongan.
Bertahun-tahun berlalu. Sita kini bekerja di
sebuah panti jompo sementara Adil menjadi pekerja kamar mayat. Meski sudah dewasa mereka tetap
hidup dalam bayang bayang masa lalu. Sita semakin tenggelam dalam obsesinya untuk membuktikan
bahwa siksa kubur tidak nyata.
Ia merawat seorang lansia bernama Wayhu
yang mulai menunjukkan tanda demensia. Keluarganya ingin membawa Wayhu pulang tetapi Sita
menolak dengan alasan bahwa ia harus mendapatkan perawatan terbaik. Namun sesungguhnya Sita
menyimpan tujuan yang lebih gelap.
Suatu hari Sita dan Adil menguburkan
salah satu penghuni panti dan mereka melewati makam seorang pembunuh berantai bernama
Masbeth. Di sampingnya ada satu makam kosong. Sita mengatakan bahwa ia sedang menunggu
orang paling kejam yang ia kenal untuk dikuburkan di sana agar ia bisa membuktikan apakah siksa
kubur benar ada. Ia tidak menyebutkan namanya kepada Adil tetapi rekaman bom bunuh diri di masa
lalu mengarah pada makam Masbeth sebagai tempat perekaman suara jeritan di kaset.
Konflik dalam hidup Adil semakin berat ketika istrinya Lala mengusirnya karena
merasa Adil terlalu tenggelam dalam pekerjaan dan masa lalu. Sementara itu Wayhu mulai membuka
pikirannya kepada Sita. Ia mengatakan bahwa ia tidak percaya tubuh orang mati bisa disiksa di alam
kubur sehingga ia merasa bebas berbuat apa saja dalam hidup.
Jawaban itu
membuat Sita marah dan ia akhirnya mengungkapkan bahwa Wayhu adalah Ilham pria yang dulu
menyiksa banyak anak termasuk Adil dan Ismail. Ilham mengatakan bahwa ia sudah memberi
kehidupan yang lebih baik bagi banyak anak dan bahwa dosanya sebanding dengan manfaat yang ia
berikan. Mendengar itu Adil menyerang Ilham tetapi Sita menghentikannya.
Ia
menjelaskan bahwa ia merawat Ilham selama ini karena ingin mengamati apa yang akan terjadi pada
tubuhnya setelah mati. Jika Ilham yang begitu penuh dosa tidak mendapat hukuman apa pun maka
baginya seluruh ajaran agama tidak berarti. Setelah menganggap hidup sebagai lelucon sia sia Ilham
menembak dirinya sendiri.
Sita dan Adil menguburkan Ilham di makam yang
sudah ia siapkan. Sita memutuskan turun ke liang lahat bersama tubuh Ilham dengan sebuah pipa
udara dan kamera infra merah. Ia ingin merekam malam penuh kegelapan itu untuk membuktikan
sendiri apakah sesuatu akan terjadi. Adil berjaga di atas tetapi gangguan tak kasat mata mulai muncul
dan seekor kobra mengintainya.
Keesokan harinya Sita diwawancarai secara
langsung di televisi dengan bantuan Husein salah satu penghuni panti. Ia bercerita tentang seluruh
perjalanan hidupnya dan memutar rekaman dari dalam kubur. Namun kartu memori kosong tanpa
suara. Sita marah dan menuduh Adil menukarnya. Pertengkaran mereka kembali membuka luka lama
tentang kematian orang tua mereka dan obsesi Sita yang tidak pernah padam.
Setelah itu halusinasi menakutkan terus menghantui Sita. Pandi salah satu penghuni panti
berselingkuh dengan perawat bernama Lali dan istrinya Nani meninggal tragis dalam kecelakaan
mesin cuci. Sesi pemanggilan arwah yang dipimpin Juwita tambah memperkeruh keadaan ketika
suara Adil yang dipanggil dari alam lain mengatakan tolomg Ismail. Kematian demi kematian terjadi
sementara Adil melihat mayat yang ia urus seolah hidup kembali.
Kemunculan
Sita di televisi membuat banyak orang berbondong-bondong pergi ke makam untuk mendengarkan
suara dari kuburan. Beberapa rekaman berhasil dibuat sehingga para pemuka agama menganggap
fenomena itu sebagai bukti kebenaran ajaran. Namun situasi menjadi semakin tidak terkendali karena
jumlah bom bunuh diri meningkat. Para pelaku berharap mendapatkan balasan mulia setelah mati.
Merasa bahwa Ilham terbebas dari hukuman apa pun Sita menggali makamnya
dan terjun ke dalamnya. Ia kembali berada dalam terowongan dari masa kecilnya. Di sana ia melihat
Ismail yang rusak dan berteriak meminta pertolongan. Ia melihat Adil yang menangis di kamar mayat.
Ia melihat roti yang dipanggang orang tuanya sesaat sebelum semuanya hancur.
Dalam dunia gelap yang diciptakan oleh kenangan dan trauma itu apakah Sita akhirnya akan
menemukan kebenaran yang ia cari atau justru terperangkap selamanya dalam ketakutan yang ia kejar
sendiri?
Penulis artikel: Abdilla Monica Permata B.