INDONESIA

[Review] 'BELENGGU', Tak Terbatas Antara Bayangan Dan Nyata

Jum'at, 08 Februari 2013 18:11  | 

Upi


[Review] 'BELENGGU', Tak Terbatas Antara Bayangan Dan Nyata
Kelinci pembunuh yang identitasnya masih misterius. Sumber foto: KapanLagi.com®




KapanLagi.com - Oleh: Puput Puji Lestari
 
Kisah pembunuhan berantai di sebuah kota kecil membuat penduduknya dicekam ketakutan. Mereka saling mencurigai satu sama lain. Perempuan takut untuk keluar malam sendirian. Di setiap sudut kota pembunuhan itu dibicarakan.
 
Elang (Abimana Aryasatya) tinggal sendirian di sebuah rumah susun. Dia bekerja sebagai pelayan bar. Di sela tidurnya, Elang selalu gelisah karena mimpi buruk. Dalam mimpi itu Elang dihantui gambaran buruk tentang pembunuhan aneh dimana pembunuhnya bertopeng Kelinci. Elang merasa merasa sosok bertopeng Kelinci itulah kunci dari segalanya pembuhuhan berantai.
 
Djenar (Laudya Cintya Bella), tetangga di sebelah rumah susun Elang selalu tampak tertekan karena masalah rumah tangganya dengan sang suami (Verdi Solaiman). Buah hati mereka selalu bermain sendirian. Elanglah yang menemaninya bermain. Djenar dan anaknya tak boleh keluar dari rumah susun karena karena takut dibunuh oleh pembunuh berantai.
 
Elang sangat perhatian dengan Djenar dan anaknya. Elang ingin menyelamatkan mereka berdua. Selain mimpi-mimpi yang mencekam Elang juga mengalami kejadian-kejadian aneh yang terhubung dengan peristiwa pembunuhan. Seorang Oma Gila (Bella Esperance) yang selalu tiba-tiba muncul dan memberinya peringatan akan bahaya yang mengancam nyawa Elang.
 
Sementara Jingga (Imelda Therinne) pelacur muda membius perhatian Elang. Jingga terus mengatakan dirinya dalam bahaya dan ingin membalas dendam. Elang berusaha untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi dan menyelamatkan orang-orang yang dianggapnya dalam bahaya.
 
Review:

Bersiaplah terbelenggu dalam cerita BELENGGU yang tak terbatas antara bayangan dan nyata. Dari awal film ini mengajak anda merasakan rasa takut yang dialami hampir seluruh karakter. BELENGGU juga tak membatasi ruang dan waktu, bisa jadi  Anda tersesat di antara cerita film ini.
 
Upi memberikan warna gelap di seluruh adegan filmnya. Konsistensi rasa takut terjaga dari awal hingga akhir cerita. Sebenarnya Upi sudah memberikan banyak clue untuk menguak kejadian mana yang benar-benar terjadi atau imajinasi. Namun, Upi juga pandai membalik imajinasi sebagai pendorong sebuah peristiwa terjadi. Secara psikologis film ini berhasil membuat penonton duduk diam dalam pikiran masing-masing. Menerka-nerka arah cerita.

Upi berhasil menampilkan darah dalam cara 'seksi'. Meskipun tak menampilkan penyiksaan secara langsung, namun darah muncrat di beberapa adegan dikerjakan Upi dengan cara cerdik. Ini menambah susana mencekam yang dibangun Upi.  

Akting Abimana sempat terasa datar di awal cerita. Abi nampak terbebani dengan kisah yang harus dibawakannya. Namun, ketika Abi bermain dengan imajinasi, Abi menjadi 'liar'. Imelda Therinne  tampil mengesankan. Sementara Bella terasa datar. Namun pemain-pemain lain sangat membantu mengangkat keseluruhan cerita.

Urusan scoring, musik film ini terasa menjemukan karena diulang-ulang. Namun, kebosanan ini tertolong dari cerita, gambar, maupun akting pemainnya. Genre thriller seperti BELENGGU memang masih menjadi barang langka. Dalam satu tahun produksinya bisa dihutung dengan jari. Tak heran jika banyak yang menunggu kehadiran film ini. Jika Anda termasuk yang menunggunya, film yang tayang  28 Februari nanti memang layak mendapat penantian Anda. 

(kpl/uji/dka)


Di suatu kota kecil sedang dicekam ketakutan adanya pembunuhan berantaidimana pembunuhnya masih berkeliaran.
20 Foto