INDONESIA

[Review] 'KISAH 3 TITIK', Berbicara Realitas Para Buruh

Senin, 06 Mei 2013 12:40  | 

Lola Amaria


[Review] 'KISAH 3 TITIK', Berbicara Realitas Para Buruh
Foto: Lola Amaria Production




KapanLagi.com - Oleh: Adi Abbas Nugroho

Lola Amaria kembali dalam film terbaru bertajuk KISAH 3 TITIK. Dengan dukungan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, model Wajah Femina 1997 tersebut kembali mengangkat tema tentang buruh setelah sebelumnya sukses dengan MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK (2010) yang bersetting di Hong Kong.

3 Titik dalam judul merujuk pada tiga karakter wanita yang memiliki kesamaan nama yakni Titik. Titik yang pertama adalah Titik Sulastri (Ririn Ekawati), wanita dengan satu orang anak yang baru saja ditinggal mati sang suami. Untuk bertahan hidup di tengah kondisinya yang tengah hamil anak kedua, ia bekerja di sebuah pabrik garmen.

Titik Dewanti Sari (Lola Amaria) adalah pekerja kantoran ambisius yang baru saja diangkat menjadi manager SDM untuk mengelola pabrik garmen yang baru dibeli oleh perusahaannya. Namun saat melakukan observasi di pabrik, Titik menemukan hal-hal yang mengetuk rasa kemanusiaanya.

Terakhir ada Kartika (Maryam Supraba), anak seorang preman yang berperangai seperti laki-laki dan kerap dipanggil Titik. Sikapnya yang keras menjadi masalah saat dirinya menemukan industri rumahan tempatnya bekerja melakukan tindakan merugikan orang lain.

KISAH 3 TITIK arahan Robby Prabowo ini dirilis satu hari setelah hari Buruh yang jatuh pada 1 Mei. Dengan penyampaian secara interwoven, Robby begitu fasih menerjemahkan apa yang disampaikan Charmantha Adjie dalam naskahnya.

Performa ketiga pemeran Titik juga patut diacungi jempol. Meski sedikit terlihat kekurangan di sana-sini, baik Ririn, Maryam maupun Lola Amaria sendiri berhasil memberikan nyawa bagi karakter yang diemban. Pun begitu dengan pemeran pembantu yang cukup memberi warna tersendiri.

Cara bertutur sang sutradara memang cenderung klise, namun tone depresif sejak awal film digelar memberi keunikan dalam film ini. Alih-alih melakukan propaganda atau iklan layanan masyarakat berdurasi 104 menit, KISAH 3 TITIK membicarakan sisi lain tentang gelap terang kehidupan buruh Indonesia secara realistis.

Pencapaian terbaik menurut saya ada pada konklusi yang dipilih. Akhir yang dihadirkan terasa manusiawi dan pas mengingat masalah yang diangkat belum menemui ujung, tak hanya di film, tapi realita. Patut menjadi bahan perenungan tersendiri.

(kpl/abs)