Peppermint
Action Thriller

Peppermint

2018 101 menit R
Rating 6.5/10
Rating 7.2/10
Sutradara
Pierre Morel
Penulis Skenario
Chad St. John
Studio
STX Films Lakeshore Entertainment Huayi Brothers Media

Peppermint (2018), Dari Ibu Biasa Jadi Mesin Balas Dendam

Bayangin kamu kehilangan semua yang kamu cintai cuma dalam satu malam, dan para pelakunya malah bebas berkeliaran kayak gak terjadi apa-apa.
Nah, dari titik inilah kisah Riley North dimulai. Seorang ibu, istri, dan pegawai bank biasa yang hidupnya berantakan setelah tragedi brutal menimpa keluarganya. Tapi alih-alih menyerah, Riley berubah jadi sosok yang gak terbayangkan, seorang pemburu keadilan yang siap melawan seluruh dunia demi balas dendam.

Awal yang Tragis

Cerita dibuka dengan adegan intens, Riley bertarung habis-habisan dengan seorang pria di dalam mobil, sampai akhirnya dia menembaknya tanpa ampun. Lalu film mundur lima tahun ke belakang, ke masa di mana hidup Riley masih normal.

Riley (diperankan oleh Jennifer Garner) adalah pegawai bank yang hidupnya sederhana. Suaminya, Chris, mengelola bengkel kecil yang sedang sekarat secara finansial. Tapi mereka masih punya satu hal yang bikin hidup terasa lengkap, Carly, putri mereka yang baru berumur sepuluh tahun, gadis ceria yang jadi pusat dunia Riley.

Suatu hari, teman lama Chris datang membawa ide gila, merampok Diego Garcia, gembong narkoba besar yang punya banyak musuh dan banyak uang. Chris jelas menolak, tapi masalahnya, kabar itu keburu sampai ke telinga Diego. Sang kartel marah besar dan nyuruh anak buahnya 'ngasih pelajaran' ke Chris dan keluarganya.

Kehilangan yang Mengubah Segalanya

Hari ulang tahun Carly yang seharusnya bahagia berubah jadi mimpi buruk. Setelah makan pizza bareng dan main di taman hiburan, keluarga kecil itu ditembak brutal dari mobil yang melaju kencang. Chris dan Carly tewas seketika, sementara Riley terluka parah tapi ajaibnya masih hidup.

Bangun di rumah sakit, Riley hanya punya satu tujuan, menuntut keadilan. Dia bisa mengidentifikasi para pelaku, tapi sistem hukum malah bikin segalanya mustahil. Polisi takut melawan kartel, jaksa pura-pura gak tahu, dan hakim Stevens, yang udah disuap, memutuskan gak ada bukti cukup buat mengadili para pembunuh.

Seolah belum cukup, pengacara kartel juga datang ke rumah Riley buat nyuap dia supaya diam. Tapi Riley nolak mentah-mentah. Akhirnya mereka balik menyerang, menuduh Riley gak waras karena punya obat antipsikotik di rumahnya.

Di ruang sidang, rasa sakit dan marah Riley meledak. Dia nyerang pembunuh keluarganya di depan semua orang, tapi langsung dilumpuhkan dan dikirim ke rumah sakit jiwa. Dalam perjalanan ke sana, Riley berhasil kabur. Dan setelah itu, dia menghilang dari radar selama lima tahun.

Lima Tahun Kemudian, Kebangkitan Malaikat Kematian

Lima tahun berlalu. Detektif Beltran dan Carmichael mendatangi taman hiburan tempat tragedi dulu terjadi. Tapi kali ini, pemandangannya bikin ngeri, ketiga pembunuh yang dulu bebas kini ditemukan tergantung di bianglala, mati dengan cara yang kejam.

Media langsung heboh, dan FBI ikut turun tangan lewat agen Lisa Inman. Dari penyelidikan, mereka tahu pelaku pembunuhan itu adalah... Riley North.
Selama lima tahun menghilang, Riley bukan cuma sembunyi, dia berubah total. Dia merampok bank tempatnya dulu kerja, mencuri senjata, berlatih bertarung, dan sekarang jadi mesin balas dendam hidup.

Riley memburu semua orang yang terlibat dalam kematian keluarganya, para pengacara, jaksa, dan bahkan hakim Stevens, yang akhirnya mati mengenaskan setelah rumahnya diledakkan.

Publik terbelah. Ada yang menganggap Riley pahlawan karena berani melawan sistem korup, tapi ada juga yang menilainya berbahaya dan gila. Di dunia maya, dia bahkan punya penggemar yang menjulukinya 'Angel of Justice' alias Malaikat Keadilan.

Pertarungan Melawan Kartel

Setelah membalaskan dendam pada sistem hukum, Riley mulai menyerang jantung operasi Diego Garcia. Dia menghancurkan bisnis pencucian uangnya dan menghabisi hampir semua anak buahnya, menyisakan satu untuk diinterogasi. Dari sana, Diego sadar bahwa Riley lah biang kerok semua kekacauan ini.

Sementara itu, agen Inman menemukan tempat tinggal Riley di Skid Row, daerah kumuh di Los Angeles. Anehnya, di sana Riley dikenal sebagai pelindung bagi para tunawisma. Di balik ketegasannya, dia ternyata masih punya sisi manusiawi, membela yang lemah, meski dengan cara ekstrem.

Namun, permainan ini makin berbahaya. Riley dijebak oleh anak buah Diego tapi berhasil kabur. Ia kemudian menyusup ke rumah Diego dan menewaskan sebagian besar pasukannya. Tapi saat hendak menghabisi Diego sendiri, Riley berhenti sejenak, karena melihat putri kecil Diego. Sekilas, gadis itu mengingatkan pada Carly. Momen ragu itu dimanfaatkan Diego untuk menembak Riley dan melarikan diri.

Pengkhianatan dan Akhir Berdarah

Inman kemudian memanggil Carmichael untuk membantu menangkap Riley. Tapi plot twist-nya, Carmichael ternyata mata-mata Diego! Dia menembak Inman hingga tewas dan memberi tahu Diego lokasi Riley.

Saat Riley kembali ke Skid Row, kawasan itu sudah dikepung pasukan Diego. Pertempuran brutal pun terjadi. Riley melawan tanpa ampun, menewaskan banyak orang, hingga akhirnya menemukan tubuh Inman. Dengan ponsel Inman, Riley menghubungi media, mengumumkan keberadaannya, dan memancing polisi datang.

Pertarungan klimaks terjadi antara Riley dan Diego. Sang gembong mencoba kabur setelah menembak Carmichael karena salah sangka, tapi Riley gak kasih ampun. Dalam duel terakhir, Riley menembaknya tepat di kepala, menuntaskan semua yang dimulai lima tahun lalu.

Polisi tiba di lokasi dan mencoba menangkap Riley, tapi dia berhasil kabur meski terluka parah. Beltran akhirnya menemukannya di makam keluarga, sekarat tapi masih bernapas. Meskipun Riley pengen mati, Beltran tetap menyuruh petugas menyelamatkannya. Beberapa waktu kemudian, Beltran menjenguknya diam-diam di rumah sakit dan menyerahkan kunci borgol. Sambil berkata pelan, ia bilang, "Ada banyak orang yang setuju dengan apa yang kamu lakukan."

Pesan jelas, dunia mungkin gak adil, tapi Riley udah jadi simbol bahwa seseorang bisa berdiri melawan ketidakadilan, walau harus menempuh jalan berdarah.

Film ini disutradarai oleh Pierre Morel, sutradara di balik film aksi legendaris Taken (2008). Naskahnya ditulis oleh Chad St. John, terinspirasi dari karakter antihero Marvel, The Punisher.

Jennifer Garner, yang sebelumnya terkenal lewat serial Alias dan film Elektra, menjalani pelatihan super ketat sebelum syuting, dari kardio, latihan tinju, menembak, angkat beban, sampai latihan adegan laga bareng stuntwoman-nya, Shauna Duggins. Proses syuting sendiri berlangsung sekitar 50 hari di California.

Nama 'Peppermint' diambil dari es krim rasa kesukaan putrinya Carly, simbol kecil dari masa lalu Riley sebelum semuanya hancur.

Peppermint tayang perdana di Los Angeles pada 28 Agustus 2018, dan resmi rilis di bioskop AS pada 7 September 2018. Bersamaan dengan itu, Jennifer Garner juga menerima bintang di Hollywood Walk of Fame, jadi momen promosinya terasa spesial banget.

Beberapa memuji akting Garner yang totalitas, terutama karena ini jadi comeback-nya sebagai female action hero, tapi sebagian lain ngerasa ceritanya terlalu klise.

Frank Scheck dari The Hollywood Reporter nyebut film ini kayak 'Death Wish versi lebih brutal,' sementara Richard Roeper bilang gayanya keren tapi terlalu kasar. Ada juga yang bilang Peppermint terlalu bisa ditebak dan gak banyak hal baru selain aksi tembak-menembak yang intens.

Namun di mata banyak penonton, Peppermint tetap punya pesona tersendiri, karena siapa sih yang gak pengen lihat seorang ibu biasa berubah jadi pahlawan badass yang ngelawan kartel sendirian?

Jennifer Garner Riley North
John Gallagher Jr. Detective Stan Carmichael
John Ortiz Detective Moises Beltran
Juan Pablo Raba Diego Garcia
Annie Ngosi Ilonzeh FBI Agent Lisa Inman
Jeff Hephner Chris North
Cailey Fleming Carly North
Eddie Shin FBI Agent Li
Method Man Narcotics Detective Barker
Tyson Ritter Homeless Sam

Jadwal Film