Carol Danvers, sang pahlawan yang dikenal sebagai Captain Marvel, mengambil keputusan besar
setelah mengetahui kebenaran tentang Kree dan manipulasi yang dilakukan oleh Supreme Intelligence.
Ia menghancurkan kecerdasan buatan yang selama ini menjadi otak pengendali Kekaisaran Kree.
Namun tindakannya itu justru menimbulkan dampak yang tak ia perkirakan.
Tanpa
kepemimpinan Supreme Intelligence, kekaisaran Kree jatuh ke dalam kekacauan dan perang saudara
yang berkepanjangan. Selama tiga dekade berikutnya, planet asal mereka, Hala, menjadi dunia yang
hancur. Udara mereka menipis, air mengering, dan matahari tidak lagi memberi kehidupan. Kekaisaran
yang dulu begitu kuat kini tinggal reruntuhan, dan bagi sebagian besar Kree, Carol Danvers dipandang
sebagai penyebab kehancuran itu.
Tiga puluh tahun kemudian, seorang pemimpin baru
muncul di antara puing kejayaan Kree. Namanya Dar-Benn, seorang prajurit keras kepala yang
membawa harapan terakhir bagi bangsanya. Dalam pencariannya untuk mengembalikan kejayaan
Hala, Dar-Benn menemukan salah satu dari dua gelang legendaris yang disebut Quantum Band,
artefak kuno yang dipercaya memiliki kekuatan kosmik luar biasa.
Dengan
kekuatan gelang itu, Dar- Benn mampu membuka titik lompatan, portal antar galaksi yang
memungkinkan perjalanan melintasi ruang dalam sekejap. Namun setiap kali ia membuka portal baru,
keseimbangan jaringan titik lompatan terganggu, menciptakan anomali energi yang mengancam
ruang dan waktu. Salah satu gangguan ini terdeteksi di dekat stasiun luar angkasa S.A.B.E.R. yang
dipimpin oleh Nick Fury, mantan direktur S.H.I.E.L.D.
Untuk menyelidiki anomali
berbahaya tersebut, Fury mengutus Kapten Monica Rambeau, seorang ilmuwan dan agen berbakat
yang kini bekerja bersama S.A.B.E.R. Sementara itu, di belahan galaksi lain, Carol Danvers sendiri juga
tengah menelusuri titik lompatan baru yang diciptakan Dar-Benn. Namun ketika keduanya secara
bersamaan berinteraksi dengan anomali itu, sesuatu yang aneh terjadi.
Monica
tiba-tiba berpindah ke lokasi Carol, sementara Kamala Khan, remaja dari Jersey City yang merupakan
penggemar berat Captain Marvel dan pemilik Quantum Band kedua, terpindah ke lokasi Monica.
Akibatnya, Carol justru muncul di ruang tamu keluarga Khan, membuat keadaan menjadi kacau.
Ketiganya mendapati diri mereka saling terhubung melalui energi kuantum misterius, sehingga setiap
kali salah satu menggunakan kekuatannya, mereka bertukar tempat secara spontan.
Perpindahan yang tak terkendali ini menimbulkan kekacauan besar. Dalam pertempuran
melawan pasukan Kree yang mengejar Carol, rumah keluarga Kamala Khan hancur lebur. Setelah
mereka kembali ke tempat masing-masing, Fury dan Monica mendatangi Kamala untuk menjelaskan
situasi yang sebenarnya.
Monica menyimpulkan bahwa kekuatan berbasis
cahaya yang dimiliki ketiganya, energi foton miliknya, kekuatan kosmik Carol, dan energi kuantum
Kamala, telah terhubung melalui resonansi kuantum yang sama. Mereka harus belajar bekerja sama
agar bisa mengendalikan keterikatan itu, sekaligus menghentikan ancaman Dar-Benn sebelum seluruh
galaksi hancur.
Mereka kemudian bergabung di planet Tarnax, koloni pengungsi
Skrull yang selama ini dilindungi oleh Carol. Di sana, Carol mencoba menegosiasikan perjanjian damai
antara Skrull dan Kree, berharap konflik berkepanjangan antar ras bisa berakhir.
Namun harapan itu sirna ketika Dar-Benn muncul dan membuka titik lompatan besar di langit
Tarnax, menyedot atmosfer planet itu untuk mengembalikan udara bagi Hala. Penduduk Skrull panik,
dan upaya penyelamatan dilakukan dengan tergesa-gesa. Carol, Monica, dan Kamala bekerja sama
untuk meminimalkan korban, tetapi mereka tak bisa menyelamatkan semua orang.
Di tengah kekacauan, Kamala yang masih muda justru menunjukkan semangat kepahlawanan
yang tulus. Ia memotivasi Carol dan Monica agar tetap berjuang, dan akhirnya, ketiganya memutuskan
untuk membentuk tim yang diberi nama oleh Kamala, The Marvels.
Carol
kemudian mengungkapkan rahasia besar kepada keduanya. Quantum Band yang kini digunakan oleh
Dar-Benn dulunya adalah kunci untuk menciptakan jaringan transportasi antar galaksi, dan hanya dua
gelang itu yang mampu menstabilkan aliran energi kosmik dalam ruang. Namun Dar-Benn justru
menggunakan kekuatan gelang tersebut dengan cara yang salah.
Dengan
menggabungkannya bersama Senjata Universal khas Kree, ia memperkuat kemampuan destruktifnya
dan memanipulasi jaringan titik lompatan secara sembarangan. Hal itu menyebabkan ketidakstabilan
di seluruh alam semesta, menciptakan ancaman yang jauh lebih besar dari kehancuran planet.
Mereka bertiga akhirnya menyadari pola dari serangan Dar-Benn. Ia tak menyerang
secara acak, melainkan menargetkan planet-planet yang memiliki arti emosional bagi Carol Danvers.
Planet-planet tempat Carol pernah bertarung, menyelamatkan, dan membangun ikatan kini menjadi
sasaran balas dendam Dar-Benn.
Ia menuduh Captain Marvel sebagai dalang
yang menghancurkan rumahnya, dan kini ia berniat membuat Carol merasakan penderitaan yang sama
dengan yang dialami rakyat Kree. Semakin banyak planet yang diserang, semakin besar
ketidakseimbangan di jaringan kuantum, dan pada akhirnya, batas antara dunia bisa runtuh.
Kini, The Marvels harus berpacu dengan waktu. Mereka harus mempelajari cara
mengendalikan keterikatan kuantum mereka, menemukan cara menstabilkan jaringan titik lompatan,
dan menghadapi Dar-Benn yang semakin kuat karena kekuatan Quantum Band-nya.
Namun di tengah kekacauan kosmik itu, Carol mulai menyadari bahwa beban masa lalunya
terhadap kehancuran Hala belum sepenuhnya ia lepaskan. Apakah Captain Marvel mampu menebus
kesalahan yang dulu ia perbuat sekaligus menyelamatkan seluruh alam semesta dari kehancuran?
Penulis artikel: Abdilla Monica Permata B.