Seorang anak perempuan bernama Alexia membuat ayahnya kesal saat mereka berkendara
pulang. Ia terus bergerak gelisah dan mencopot sabuk pengamannya. Ketika sang ayah menoleh untuk
menegurnya, mobil kehilangan kendali dan terjadi kecelakaan keras.
Alexia mengalami cedera
parah pada kepala dan harus dipasangi plat titanium yang tertanam permanen di tengkoraknya. Ketika
ia keluar dari rumah sakit, sikapnya berubah. Ia menjauh dari orang tuanya, menolak pelukan dan
perhatian mereka, tetapi justru menunjukkan kedekatan aneh dengan mobil keluarga. Ia menempelkan
wajahnya pada bodi mobil seperti seseorang yang menemukan pelarian dalam benda mati.
Tahun demi tahun berlalu. Alexia tumbuh menjadi perempuan dewasa dengan bekas luka
mencolok di sisi kepala. Ia bekerja sebagai showgirl di sebuah pameran mobil, menari di atas kap
mobil dengan gerakan menggoda demi menarik pengunjung. Suatu malam, setelah acara selesai, ia
berjalan menuju tempat parkir.
Seorang penggemar laki-laki mengikutinya,
mengaku mencintainya, kemudian memaksa menciumnya. Alexia tidak gentar. Dengan gerakan cepat
dan tanpa ragu, ia menusuk leher pria itu menggunakan tusuk rambut logam besar yang selalu ia
pakai. Ia membunuhnya dengan cara brutal, seolah tindakan itu sudah menjadi kebiasaan baginya.
Saat kembali ke showroom untuk mandi, ia melihat Cadillac yang tadi ia
tampilkan menyala sendiri, seakan memanggilnya. Tanpa ragu, Alexia masuk ke dalam mobil itu dalam
keadaan telanjang. Adegan aneh terjadi ketika ia berhubungan seksual dengan mobil tersebut. Mesin
bergetar, lampu berkedip seperti merespons tubuh manusia. Alexia mencapai puncak kenikmatan di
dalam mobil, menegaskan obsesi ganjil yang sejak kecil sudah menempel pada hidupnya.
Lalu terungkap fakta mencengangkan. Alexia adalah seorang pembunuh berantai.
Dalam beberapa bulan terakhir, ia telah membunuh tiga pria dan satu perempuan. Ia masih tinggal
bersama kedua orang tuanya, yang tampaknya tidak menyadari apa pun tentang rangkaian
pembunuhan itu. Hubungan mereka dingin, kaku, dan saling menjauh, seperti rumah yang tidak dihuni
oleh kedekatan keluarga sama sekali.
Suatu malam, Alexia menghadiri pesta
rumah bersama rekan kerjanya. Ia mulai berhubungan intim dengan Justine, seorang perempuan yang
juga menjadi model mobil. Namun di tengah momen itu, cairan hitam seperti oli keluar dari vaginanya.
Ia panik. Ia mengambil tes kehamilan dan hasilnya positif.
Syok dan ketakutan,
ia mencoba melakukan aborsi langsung di kamar mandi menggunakan tusuk rambutnya, tetapi tidak
berhasil. Kembali dikuasai brutalnya naluri pembunuh, ia keluar dari kamar mandi dan membunuh
Justine serta dua pria lain di pesta itu. Hanya satu perempuan yang berhasil kabur dan menjadi saksi
hidup kejahatan Alexia.
Ketika pulang, ia berencana menghilangkan barang
bukti. Ia mencoba membakar selimut berlumuran darah di rumah, tetapi api menjalar dan rumah
terbakar hebat. Tanpa ragu, Alexia mengunci orang tuanya di kamar mereka sebelum ia kabur,
meninggalkan rumah yang dilalap api.
Sekarang ia menjadi buronan polisi.
Untuk bersembunyi, Alexia nekat mengubah penampilan fisiknya agar bisa menyerupai Adrien
Legrand, seorang anak laki-laki yang hilang sepuluh tahun lalu ketika masih berusia tujuh tahun. Ia
memotong rambutnya sangat pendek, menekan payudara dan perut hamilnya dengan perban, lalu
mematahkan hidungnya dengan sengaja demi menyerupai wajah anak itu. Setelah transformasi
ekstrem itu, ia pergi ke kantor polisi dan mengaku sebagai Adrien.
Ayah Adrien,
seorang kapten pemadam kebakaran bernama Vincent, datang ke kantor polisi. Tanpa ragu, ia
menerima Alexia sebagai putranya yang sudah lama hilang. Ia menolak melakukan tes DNA. Mungkin
karena keputusasaan seorang ayah yang kehilangan anak, atau karena ia tak mampu menghadapi
kenyataan.
Vincent membawa Alexia ke markas pemadam kebakaran tempat ia
tinggal bersama para anggotanya. Para pemadam kebakaran lain bingung melihat sosok yang
dianggap sebagai Adrien. Ia pendiam, androgini, penuh trauma, tetapi mereka tidak berani
mempertanyakan keputusan sang kapten. Vincent bahkan menjadikan Alexia murid langsungnya,
memberi kepercayaan lebih padanya dibanding anggota senior yang lain.
Suatu
hari, salah satu pemadam kebakaran mempertanyakan identitas Adrien. Namun Vincent langsung
memotongnya dan berkata tegas bahwa tidak seorang pun boleh membahas anaknya. Alexia merasa
tertekan oleh sikap Vincent yang sangat posesif, tetapi ia masih tinggal di sana, berusaha
menyembunyikan kehamilannya yang semakin besar.
Vincent sendiri mulai
menunjukkan kelemahan. Untuk mempertahankan tubuhnya yang semakin renta, ia menyuntikkan
steroid, tetapi perlahan tubuhnya seolah kebal terhadap obat itu. Ketika ia mengalami aritmia setelah
menyuntikkan dosis besar, Alexia memilih tetap tinggal dan merawatnya.
Suatu
hari, mantan istri Vincent datang. Ia ingin melihat anaknya. Ketika menemukan Alexia sedang hamil
besar tanpa perban, ia terkejut, tetapi ia memilih menyimpan rahasia itu. Ia memohon agar Alexia
menjaga Vincent karena pria itu sudah terlalu hancur untuk kehilangan lagi.
Akhirnya Vincent mengakui kebohongannya sendiri. Ia berkata kepada Alexia, "Siapa pun dirimu,
kamu adalah anakku." Namun ketika perban Alexia terlepas dan ia melihat payudara Alexia dengan
jelas, ia terpukul. Meski begitu, ia tetap merawatnya tanpa menjauh.
Kehamilan
Alexia semakin tidak stabil dan rahasianya hampir terbongkar oleh para pemadam kebakaran lain. Jika
identitas Alexia terungkap dan anak yang ia kandung akhirnya lahir, apakah Vincent akan tetap
mempertahankan delusinya, ataukah semua hubungan aneh antara mereka akan runtuh dalam satu
malam?
Penulis artikel: Abdilla Monica Permata B.