KOREA

3 Hal Sederhana Bisa Kita Lakukan Untuk Mereka yang Mengalami Depresi Seperti Sulli

Rabu, 16 Oktober 2019 14:41 Penulis: Mahardi Eka Putra

Salah satu foto yang diunggah Sulli di akun IGnya. Foto: https://www.instagram.com/jelly_jilli

Kapanlagi.com - Kabar kematian Sulli, Senin (14/10), menjadi duka di dunia hiburan Korea Selatan. Tentu saja juga berdampak pada para penggemarnya di banyak negara. Terlebih lagi, mantan member girlband f(x) ini meninggal dunia di apartemennya akibat bunuh diri.

Di usia 25, pemilik nama asli Choi Jinri ini memutuskan mengakhiri hidup diduga karena depresi yang dialaminya. Namun begitu, pihak berwajib Korea sedang menelusuri motif di balik aksi bunuh diri ini dan mencari petunjuk lainnya.

 

 

 

 

1. Kabar Pertama Meninggalnya Sulli

Sulli sudah putus kontak dengan manajernya mulai Minggu (13/10) sore. Karena tidak mendapat kabar hingga Senin (14/10), sang manajer memutuskan untuk mendatangi kediaman Sulli. Tercatat pada pukul 15.21 waktu setempat, manajernya mengaku menemukan Sulli dalam kondisi gantung diri di lantai 2 apartemennya. Polisi pun masih menyelidiki dugaan lain terkait dengan wafatnya aktris SM Entertainment ini.



2. Sulli Mengaku Alami Gangguan Kepanikan

Sulli mengungkap bahwa dirinya memiliki gangguan kepanikan pertama kalinya di 2018. Ketika ia tampil di acara Reality Show Jinri Store, ia mengungkap fakta terkait kesehatan mentalnya. Saat itu ia bercerita bahwa sejak kecil ia sudah mengalami gangguan kepanikan.

Ia juga bercerita hal tersebut membuat orang-orang di dekatnya meninggalkanya. "Tak ada orang yang mendengarkan saya saat sedang mengalami kesulitan. Saya terluka oleh mereka dan merasa tidak ada orang yang mengerti saya, yang membuat saya berantakan.” ujarnya. Beberapa kali Sulli juga mengungkap tentang permasalahannya di akun media sosialnya. Tak jarang ia sampai menangis ketika bercerita di media sosial.

3. Jadi Sasaran Bullying

Bagi selebriti Korea, tekanan dan tuntutan penggemar adalah salah satu hal yang tak bisa dihindari. Tak jarang seorang seleb panen hujatan di media sosial ketika ia melakukan hal kontroversial. Sulli juga tak luput mendapat cibiran. Ketika beberapa kali mengunggah foto tidak mengenakan bra atau saat mengunggah beberapa momen pesta bersama teman serta kemesraan bersama sang kekasih, kolom komentarnya langsung ramai diserbu komentar netizen. “Ketika saya mengunggah foto saya tanpa bra, orang banyak membicarakannya,” katanya.

Pelantun hits ‘Electric Shock’ ini juga sempat mengaku bahwa hidupnya kerap terasa kosong. Ia mengatakan kalau sebenarnya sering membohongi publik dengan pura-pura bahagia. Apa yang dialami Sulli bisa menjadi pengingat bahwa penyakit mental memang bisa dialami oleh siapa pun juga. Termasuk mereka, orang-orang selalu terlihat atau tampil bahagia.

4. Pertolongan Pertama Pada Mereka yang Depresi


Seperti dilansir Asian Parent Indonesia, WHO menyebutkan bahwa saat ini kejadian bunuh diri masih terbilang tinggi, di mana 1 kematian akibat bunuh diri bahkan terjadi setiap 40 detik. Di samping itu, bunuh diri juga merupakan penyebab kematian nomor 2 untuk masyarakat yang berusia 15 sampai 29 tahun.

Aksi bunuh diri kerap terjadi pada seseorang Seseorang yang mengalami masalah psikologis berat, depresi, adanya masalah hubungan awal yang tidak harmonis atau terputus dengan ibu (maternal deprivation), mengalani kekerasan, bullying, trauma, atau diskrminasi. Tekanan hidup yang berat serta kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat juga bisa menjadi penyebab. Menurut WHO ada 3 langkah yang bisa dilakukan.

1. Menunjukkan Rasa Empati
Kita bisa jadi pendengar yang baik untuk mereka. Ketika teman/saudara kita ingin bercerita tentang sesuatu, kita siap hadir untuk mereka. Mencoba memahami permasalahan yang sedang mereka hadapi atau pikirkan.

2. Mengajak Berbicara
Tidak semua orang mampu membicarakan permasalahan mereka sendiri. Ajak mereka untuk mau bercerita sedikit atau banyak tentang apa yang mereka rasakan. Paling tidak bisa sedikit mengurangi beban yang mereka pendam. Kalian juga bisa bertanya kepada mereka supaya terus terjalin komunikasi.

3. Membantu Semampunya Untuk Menyelesaikan Masalah
Bentuk bantuannya pun tentu beragam. Salah satunya yang tentu disarankan adalah untuk mengajak mereka segera mendapat bantuan profesional.

dr. Jiemi Ardian, Psychiatrist dari Siloam Hospital Bogor mengingatkan Ia pun mengingatkan bahwa tindakan bunuh diri sebenarnya diakibatkan oleh rasa sakit emosional. Cara untuk mencegahnya adalah dengan mengurangi rasa sakitnya. Bukan dengan penghakiman, penghinaan, juga merendahkan. Melainkan dengan memberikan pengertian dan pemahaman, dengan telinga yang mau mendengarkan dengan hati yang tulus untuk membantu mencarikan pertolongan.“Dekati, dengarkan, dan berikan dukungan, dan dorong untuk mencari pertolongan. Dengan begitu kita sudah membantu, Dengan begitu kita sudah membuat hidup menjadi lebih berharga untuk dijalani. Karena harapan itu ada, dan kita bisa kembali merasa bahagia,” paparnya.


REKOMENDASI
TRENDING