HOME » KOREA
KOREA

Laksamana Yi Sun Shin, Harus Kehilangan Anak Pasca Kemenangannya dalam Pertempuran - Pahlawan Sejati yang Namanya Akan Tetap Abadi (Part 2)

Minggu, 27 Desember 2020 08:25 Penulis: Mita Anandayu

Laksamana Yi Sun Shin © VANK - Chosun.com

Kapanlagi.com - Banyak jasa yang dilakukan Laksamana Yi Sun Shin hingga mampu mengubah Korea menjadi lebih baik pada Dinasti Joseon hingga saat ini. Di antara semua kemenangannya dalam berperang, Pertempuran Besar Hansando tidak hanya dianggap sebagai salah satu pertempuran terbesar Yi, tetapi juga salah satu dari empat pertempuran laut terbesar di dunia bersama dengan Pertempuran Salamis (480 SM), Pertempuran Calais (1588) dan Pertempuran Trafalgar (1805). Kemenangan di Hansando membuktikan keunggulan senjata api dan kapal perang Korea serta kecemerlangan Yi sebagai komandan angkatan laut dalam penggunaan taktik kreatif angkatan lautnya yang disebut 'Hagikjin' atau formasi sayap derek.

Namun sayangnya, terlepas dari semua upaya dan prestasinya, Laksamana yang diperankan oleh Choi Min Sik dalam film THE ADMIRAL: ROARING CURRENTS ini menjadi terlibat dalam perselisihan politik dalam negeri dan akhirnya dicabut dari pangkatnya sebagai Panglima Tertinggi dan dikawal ke Seoul sebagai penjahat pada Februari 1597. Laksamana Yi Sun Shin menghadapi ancaman hukuman mati setelah menderita penyiksaan brutal, namun akhirnya dibebaskan dari penjara berkat upaya banyak orang untuk menyelamatkan nyawanya.

 

 

1. 13 Kapal bertempur dengan 133 Kapal Musuh

Seperti yang dilansir dari VANK (Voluntary Agency Network of Korea) setelah dibebaskan, ia dipaksa berperang sebagai orang biasa, yang disebut sebagai hukuman 'Baegui Jonggun' dalam bahasa Korea. Yang lebih parahnya lagi, dia kehilangan ibu tercintanya pada masa itu.

Jenderal yang menggantikan Laksamana Yi sebagai Panglima Tertinggi, Jenderal Won Gyun, dikalahkan dan mati dalam pertempuran Chilcheollyang pada bulan Juli 1597. Setelah mendengar berita kekalahan telak tersebut, Yi Sun Shin melakukan patroli melalui daerah pesisir Korea bersama anak buahnya selama sebulan guna mencari solusi untuk memulihkan Angkatan Laut Korea. Dia juga mengatur kembali tentara yang tersebar dan mengumpulkan senjata dan persediaan.

Pada 3 Agustus 1597, ia dibawa kembali untuk memimpin angkatan laut setelah menerima surat perintah resmi pengangkatan kembali sebagai Panglima Angkatan Laut Selatan. Berita buruknya, di saat itu hanya tersisa 13 kapal perang Panokseon di bawah komandonya.

Bayangkan, dengan armada kecil tersebut Laksamana Yi harus menghadapi 133 kapal musuh dalam pertempuran Myeongnyang. Namun nyatanya, meskipun kalah jumlah, ia mengalahkan Jepang dengan kepemimpinannya yang luar biasa, taktik yang luar biasa, dan pengetahuan tentang fitur geografis wilayah tersebut. Kemenangan ini menghentikan upaya Jepang untuk maju ke laut barat yang didorong oleh kemenangannya di pertempuran Chilcheollyang.

 

 

2. Kehilangan Anak Pasca Kemenangannya

Namun kemenangan ini membuat dia harus kehilangan anak ketiganya karena pasukan Jepang yang kalah menggerebek rumahnya di Asan dan melakukan pembalasan terhadap keluarganya. Pasca kejadian tersebut, Yi Sun Shin memusatkan semua usahanya untuk membangun kembali angkatan laut, sambil memindahkan pangkalan angkatan lautnya ke Gohado, dan kemudian ke Pulau Gogeumdo. Dalam Jingbirok, sejarah Perang Imjin yang ditulis oleh Yu Seong Ryong mencatat bahwa Yi Sun Shin memindahkan pangkalannya ke Gogeumdo di tahun 1598, dengan 8000 tentara dan 53 kapal perang.

Ketika panglima perang Jepang Toyotomi Hideyoshi meninggal pada tanggal 18 Agustus 1598, pasukan Jepang bergegas mundur dari Korea. Armada gabungan Korea-Cina mengejar tentara Jepang yang mundur dan melakukan pertempuran terakhir di lepas pantai Noryang pada November 1598.

 

 

3. Sang Pahlawan Terbunuh oleh Musuh

Di momen inilah detik di mana pahlawan perang Korea ini harus terkena tembakan musuh selama pertempuran, terluka parah dan sekarat. Ia meminta agar tidak ada yang diberitahu tentang kematiannya, ia takut dengan dampaknya terhadap moral pasukannya saat pertempuran.

Pertempuran Noryang adalah salah satu kemenangan terbesar dan pertempuran paling menentukan yang membuktikan patriotisme dan supremasi Angkatan Laut Korea. Sepanjang Perang Imjin, Laksamana Yi Sun Shin adalah seorang pejuang ulung yang tidak pernah kalah dalam setidaknya 23 pertempuran di bawah komandonya selama tujuh tahun.

Laksamana Yi Sun Shin tak hanya seorang komandan yang brilian, tetapi juga pemimpin sejati yang dengan sepenuh hati mencintai negara dan rakyatnya. Ia rela mengorbankan dirinya untuk melindungi. Inilah alasan mengapa ia menjadi salah satu pahlawan terbesar dalam sejarah Korea dan namanya tak akan lekang oleh waktu.

Cerita tentang Laksamana Yi Sun Shin pun juga bisa kamu tonton di film THE ADMIRAL: ROARING CURRENTS yang rilis pada tahun 2014 lalu. Film ini juga merupakan film Korea yang menduduki peringkat pertama sebagai film yang paling banyak ditonton serta pendapatan tertinggi di Korea. Dalam filmnya diceritakan bagaimana Yi Sun Shin, sang laksamana yang pada akhirnya mengubah Korea.

 

 

(kpl/mit)

Editor: Mita Anandayu


REKOMENDASI
TRENDING