Miing Bagito: Investasi Bioskop Asing, Bentuk Intervensi Budaya

Miing Bagito: Investasi Bioskop Asing, Bentuk Intervensi Budaya Miing Bagito

Kapanlagi.com - Anggota Komisi X DPR lainnya, Akbar Zulfikar, mengungkapkan bahwa dampak masuknya bioskop asing jangan sekedar dilihat dari keuntungan ekonomis saja, melainkan juga perlu dipertimbangkan dampaknya terhadap karakter bangsa.
"Jangan sampai Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono,red) yang gencar menyuarakan untuk mengokohkan karakter bangsa malah terbantahkan sendiri oleh kebijakan menterinya," tuturnya.
Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) itu, menambahkan, bioskop yang masuk dalam Daftar Negatif Investasi (DNI) haruslah menjadi pertimbangan mendasar untuk tidak memberikan ruang bagi investor asing saat ini.
"Kalau memang sudah jelas regulasinya, saya pikir rencana itu sebaiknya ditolak saja," papar Akbar.
Sementara itu, Tubagus Deddy Suwandi Gumelar atau Miing Bagito menilai investasi bioskop yang dilakukan oleh investor asing merupakan sebuah intervensi kebudayaan. Investasi itu berbeda dengan investasi di bidang industri otomotif dan telekomunikasi yang jelas-jelas memberikan nilai tambah.
"Kalau sampai mereka diberi izin, artinya pemerintah tidak punya komitmen untuk menjaga budaya bangsa," tegasnya.
Andai saja bioskop Lotte Group diberi izin membangun 100 layar, seperti yang digembar-gemborkan selama ini, menurut Miing, mereka bakal mendatangkan film-film produksi asli Korea Selatan untuk diputar di Indonesia. "Apakah ada yang dapat mengontrol dampaknya?" ujarnya.
Miing merujuk pada gencarnya serbuan budaya K-Pop, utamanya asal Korea Selatan, saat ini saja sudah mempengaruhi anak muda Indonesia. "Siapa yang dapat menjamin dengan hadirnya bioskop asing itu tidak ada dampak buruk bagi generasi bangsa ini? Pemerintah haruslah memiliki visi kebudayaan yang jelas," imbuhnya.
Miing menyarankan agar pemerintah bersikap selektif dalam menghadapi serbuan investor asing, khususnya yang berkaitan dengan gegar budaya. "Jangan sampai faktor ekonomi yang menjadi prioritas, sehingga perlu dilihat juga faktor dampak buruk yang bakal terjadi," ungkapnya.
Akbar pun mengungkapkan, jika memang akhirnya rencana Lotte Group terealisasikan, maka pertanyaannya adalah apakah benar akan laku di dalam negeri?
"Saya lihat sekarang banyak anak-anak yang lebih suka mengunduhnya melalui internet, mereka juga perlu berpikir soal prospek bisnisnya," tukas Akbar.
Lotte Group sebelumnya diketahui telah melakukan pertemuan dengan Pemerintah sejak tahun lalu. Lotte tertarik dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar, peningkatan kelas menengah, dan kurangnya layar bioskop di Indonesia.
Bioskop minim Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), saat ini jumlah bioskop di Indonesia sebanyak 172, dengan 676 layar. Jumlah penonton tahun 2011 mencapai 50 juta orang. Dari 525 kota dan kabupaten yang ada, baru 55 daerah yang memiliki bioskop.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

(antara/dar)

Rekomendasi
Trending