Roman Dan Perselingkuhan, Prelude Saga Sang Supernova

Sabtu, 13 Desember 2014 10:52 Penulis: Mahardi Eka
Roman Dan Perselingkuhan, Prelude Saga Sang Supernova dok. Soraya Intercine Films
Kapanlagi.com - Oleh: Mahardi Eka

Novel mancanegara yang berjudul LIFE OF PI karya Yann Martell konon kabarnya tak bisa difilmkan karena kompleksitas cerita serta kuatnya penokohan dalam novelnya. Namun toh akhirnya LIFE OF PI akhirnya berhasil diangkat dalam medium film pada tahun 2012 lalu, sebelas tahun selepas filmnya pertama kali dibuat. 

Proses yang mirip pun terjadi pada SUPERNOVA: KSATRIA PUTRI, & BINTANG JATUH karya Dewi Lestari. Novel yang diakui sebagai masterpiecenya sang novelis ini akhirnya bisa terwujud versi layar lebarnya pada tahun 2014 ini. Di tangan sutradara Rizal Mantovani dan di proses produksi di bawah payung Soraya Intercine Films, SUPERNOVA akhirnya resmi diputar di bioskop per 11 Desember lalu. 

Setia pada plot dalam novelnya, Film SUPERNOVA diawali dengan pertemuan antara Dimas (Hamish Daud) dan Reuben (Arifin Putra). Kedua mahasiswa Indonesia yang merantau di Amerika itu tak sengaja bertemu dan cocok satu sama lain. Pertemuan mereka yang kedua di sebuah pesta membawa keduanya memasuki tahap hubungan yang lebih jauh lagi. Keduanya ternyata sama-sama penyuka sesama jenis. Sebagai janji mengikat satu sama lain, keduanya pun bersumpah untuk membuat karya sastra yang menjembatani semua percabangan ilmu. "Sepuluh tahun lagi!" itu ikrar mereka. 

Pertemuan Dimas dan Reuben adalah sebuah awal kisah besar dalam kisah Supernova. (dok. Soraya Intercine Film)Pertemuan Dimas dan Reuben adalah sebuah awal kisah besar dalam kisah Supernova. (dok. Soraya Intercine Film)

Sumpah itu mereka penuhi, sepuluh tahun kemudian mereka membuat sebuah cerita dengan empat tokoh di dalamnya, sang Supernova, Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Dalam bayangan mereka, Ksatria tersebut bernama Ferre (Herjunot Ali), seorang businessman yang sukses di usia masih muda. Ia tampan dan masih lajang. Oleh karenanya banyak media ingin mewawancarainya, sayang Ferre bukan tipe orang yang ramah. Hampir semua media ia tolak. 

Hingga suatu hari, intuisi Ferre berkata lain. Ia menerima tawaran wawancara dari jurnalis muda bernama Rana (Raline Shah). Ferre mulanya meremehkan Rana karena usianya yang masih muda. Namun ia salah, Rana justru memukaunya dengan pertanyaan-pertanyaan kejutan. Di mata Ferre, Rana lah sang Putri dalam kisahnya.

Bermula dari wawancara tersebut, keduanya pun menjalin hubungan rahasia satu dengan lain. Ya, hubungan tersebut tidak mereka umbar karena Rana sudah berstatus sebagai istri dari Arwin (Fedi Nuril). Roman dan perselingkuhan, bifurkasi dalam kisah hidup Ferre dan Rana. 

Mereka saling mencintai, tapi mereka juga sedang dalam perselingkuhan. (Soraya Intercine Films)Mereka saling mencintai, tapi mereka juga sedang dalam perselingkuhan. (Soraya Intercine Films)

Kembali ke pada Dimas dan Reuben, mereka pun menambahkan satu tokoh lain, sang Bintang Jatuh. Namanya Diva (Paula Verhoeven). Ia adalah seorang model dengan paras cantik dan tubuh nyaris sempurna. Kehidupan Diva begitu kompleks. Di satu sisi ia model terkenal, tapi di sisi lain ia adalah seorang pelacur kelas wahid. Kliennya bukan orang sembarangan, hanya yang berduit yang bisa sekadar bertemu dengannya. 

Ferre, Rana, dan Arwin sama-sama bermasalah. Sama-sama manusia malang dalam kehidupannya. Setiap curhatan mereka sampaikan kepada Supernova, sebuah cyber avatar yang menjawab persoalan-persoalan hidup dengan caranya yang filosofis.  

Seperti apa akhir cerita cinta Ferre dan Rana? Apa juga peran Diva dalam kisah cinta dan perselingkuhan Ferre dan Rana? Itulah yang coba dipaparkan film ini. Dengan twist yang sudah disiapkan, SUPERNOVA membawa kita pada sebuah roman yang berbeda. Bukan roman yang mendayu-dayu, atau bahkan roman picisan. Ini adalah roman yang membuat penonton berpikir setingkat lebih dalam. 

Paparan istilah sains di awal-awal film mungkin akan membuat penonton perlu berkonsentrasi lebih. Melewatkan penjelasan tersebut berpotensi membuat penonton kebingungan. Beruntung Soraya mengakalinya dengan memuat penjelasan tersebut lewat narasi film serta tulisan CGI dalam filmnya. 

Di tangan Rizal Mantovani dan Yudi Datau, SUPERNOVA hadir dengan sangat indah. Mengingatkan kita akan film 5 CM dulu. Settingnya pun sangat mewah, megah, dan dipilih dengan sangat cermat. Lanskap indah gedung pencakar langit, perumahan modern, sampai pemandangan di Madura, Bali, dan Labuhan Bajo disajikan dengan indah di filmnya.

Dari sisi keaktingan, pujian patut disematkan untuk Herjunot Ali, yang memang menonjol dalam filmnya. Terlebih saat ia berdialog dengan Tuhan dalam momen krusial dalam filmnya. Range emosi Junot begitu terasa. Atau juga akting Hamish Daud sebagai seorang gay juga perlu mendapat apresiasi. Ia bisa menampilkan chemistry apik dengan Arifin Putra sebagai pasangan gay.

Kesetiaan penulis naskah, Donny Dhirgantoro dan Sunil Soraya dalam meletakkan poin-poin penting cerita membuat film ini sesedap novel sumbernya. Hanya saja, dari segi keaktingan, ada beberapa bagian yang terasa kurang menggigit. Ibarat masakan, SUPERNOVA sudah sedap untuk dinikmati, tapi masih belum pedas meninggalkan bekas.

Dan satu poin yang perlu dicermati dalam filmnya, kisah Ferre dan Rana hanyalah prelude. Ini adalah pembuka untuk sebuah kisah besar yang sudah dipersiapkan dalam saga SUPERNOVA. Sebuah prelude indah untuk kelima kisah susulannya nanti, AKAR, PETIR, PARTIKEL, GELOMBANG, dan yang INTELEGENSIA EMBUN PAGI.

(kpl/dka)

Editor:

Mahardi Eka


REKOMENDASI
TRENDING