Soal Revisi DNI, 2 Organisasi Film Ini Saling Berseberangan

Rabu, 10 Februari 2016 09:35 Penulis: Guntur Merdekawan
Soal Revisi DNI, 2 Organisasi Film Ini Saling Berseberangan Lala Timothy © KapanLagi.com®/Budy Santoso
Kapanlagi.com - Revisi dibukanya Daftar Negatif Investasi (DNI) di sektor usaha film bidang produksi, eksibisi dan distributor oleh pemerintah belum mencapai babak akhir. Namun rupanya hal itu sudah menuai pro dan kontra, terutama dari organisasi perusahaan film yang kini terpecah menjadi dua yakni APFI dan PPFI.

APFI atau Asosiasi Perusahaan Film Indonesia yang dimotori Chand Parwez menolak tegas dibukanya DNI. Pemilik rumah produksi Starvision itu berpendapat jika penanaman modal asing bisa berakibat pada makin meluasnya distribusi film mereka.

"Usaha film dibagi dalam tiga bidang yakni produksi, distribusi dan eksibisi. Kami merasa cukup mampu untuk produksi dan tidak butuh pihak dari luar. Lalu soal distribusi dan eksibisi apabila dibuka untuk asing, akan mempermudah mereka mendistribusikan filmnya. Bukan memberi ruang bagi film nasional, malah memperluas film asing. Kami tegas menolak dari awal," kata Chand saat ditemui beberapa waktu lalu.

Lala setuju dengan wacana revisi DNI © KapanLagi.com®/Budy SantosoLala setuju dengan wacana revisi DNI © KapanLagi.com®/Budy Santoso

Sementara dari kubu berseberangan, yakni Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) menilai banyak hal positif bisa didapat dari dibukanya DNI. Manoj Punjabi selaku ketua mengatakan sudah saatnya film lokal tumbuh dimulai dari mengubah pola pikir.

"Mental mengenai bangsa asing bakal tidak support budaya harus kita hilangkan. Mereka mau bisnis di sini silakan, karena mereka juga bayar pajak. Saya kira mindset kita harus berubah, jangan takut kompetisi. Itu akan bikin kita lebih pintar. Lebih baik adu pintar daripada bodoh-bodohan," ucap Manoj dalam jumpa pers di PPHUI, kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa kemarin (9/2).

Hal senada juga datang dari Lala Timothy selaku ketua APROFI (Asosiasi Produser Film Indonesia) bahwa revisi DNI akan sangat menguntungkan dua pihak. Tidak hanya bagi pelaku film saja, tapi juga negara.

"Investasi asing tidak hanya membantu film maker kita, tapi juga memberi penghasilan untuk negara dalam bentuk pajak. Sudah saatnya industri film memberi sumbangan besar untuk negara karena kita mempunyai potensi besar untuk itu," tegas produser MODUS ANOMALI ini.

(kpl/abs/gtr)

Reporter:

Adi Abbas Nugroho


REKOMENDASI
TRENDING