Rhoma Irama Sang Raja Dangdut'Darah Muda' Gambaran Masa Remaja Rhoma Irama

Selasa, 19 Agustus 2014 18:31 Penulis: Darmadi Sasongko
'Darah Muda' Gambaran Masa Remaja Rhoma Irama Cover Album darah Muda Rhoma Irama © Istimewa
Kapanlagi.com - Oleh: Darmadi Sasongko

Kisah Rhoma Irama sebagai jagoan ternyata tidak hanya dalam film belaka, tapi juga dalam kehidupan nyata. Sejak kecil, dia sudah dikenalkan dengan ilmu bela diri oleh ayahnya, Raden Burdah Anggawirya, bahkan beberapa orang guru kemudian menjadi membimbingnya.

Rhoma pernah belajar ilmu silat jenis Cingkrik, yakni perpaduan antara silat Betawi dan Cimande kepada Guru Rohimin di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dia juga pernah belajar silat Siguntel di Jalan Talang, Jakarta Pusat.

Karena kemampuan olah kanuragan dan keberanian dalam urusan berkelahi, Rhoma remaja dipercaya teman-teman seusianya memimpin geng. Dia sudah terbiasa adu jotos dengan geng sebelah, hanya karena alasan yang sepele, alasan-alasan anak muda.

Masa itu memang sedang menjamur, kelompok-kelompok anak muda yang membentuk gang. Mereka bersaing dan saling memberikan pengaruh, sehingga kerap terjadi perkelahian antar kelompok.

Tempat tinggal Rhoma di Kawasan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan dikenal ada kelompok BBC (Bukit Duri Boys Club), Kenari Boys, Cobra Boys dan lain sebagainya. Dia sendiri mengaku kerap memenangi perkelahian, namun di lain kesempatan juga pernah dibalas oleh kelompok geng lain hingga harus mundur untuk sementara.

Tiga perkelahian menjadi kenangan yang tidak terlupakan bagi Rhoma. Dua perkelahian, dia menjadi pemenangnya, bahkan pernah mematahkan tangan lawan sebelum akhirnya minta ampun dan saling berdamai. Satu perkelahian lagi Rhoma yang babak belur, karena dihajar 15 orang.

Ceritanya, saat itu ada geng yang sedang mencari seseorang, karena pacar dari salah satu anggotanya direbut. Mereka beramai-ramai berniat mencari sang pria dan berniat menghajarnya. Namun yang ditemui Rhoma Irama yang saat itu dikenal sebagai geng lawan juga. Perkelahian tidak berimbang itu, membuat Rhoma lebam-lebam di sana-sini.

Karena sikap bandelnya, Rhoma yang saat itu duduk di kelas 3 SMP Negeri XV Jakarta, pernah dibawa oleh salah seorang pamannya ke Medan, Sumatera Utara. Tujuannya, agar bisa konsentrasi belajar dan jauh dari pengaruh negatif lingkungan. Namun langkah itu rupanya tidak membuahkan hasil. Dia pun kemudian kembali ke sekolahnya semula, hingga lulus.

Sikap bandel Rhoma pun terus berlanjut hingga SMA. Dia pernah sekolah di SMA Negeri VIII Jakarta, SMA PSKD Jakarta dan kemudian pindah ke SMA St, Joseph di Solo. Tidak kerasan di Solo, kemudian kembali ke Jakarta, masuk di SMA 17 Agustus di Tebet, sampai lulus tahun 1964.

Namun di balik kisah Rhoma yang jago berkelahi itu, ada hobi yang tidak pernah lepas dari kehidupannya. Dia menyukai alat musik gitar, kendati hanya belajar secara autodidak. Permainan personel grup Riama, Parlin Hutagalung, menjadi idolanya ketika itu.

Ayah tirinya, Raden Soma Wijaya memberi ruang kepada Rhoma untuk mendalami dunia seni. Dia pernah dibelikan sebuah gitar akustik, namun kemudian dihancurkan ibunya, karena teledor saat menjaga adiknya. Gitar kesayangan itu dihantamkan ke sebuah pohon oleh ibunya yang saat itu marah besar.

Sepuluh tahun kemudian, perjalanan Rhoma remaja yang jagoan memberikan inspirasi untuk menciptakan lagu Darah Muda yang syairnya sebagai berikut:

Darah muda darahnya para remaja/Yang selalu merasa gagah/Tak pernah mau mengalah

Masa muda masa yang berapi-api/Yang maunya menang sendiri/Walau salah tak peduli/Darah muda

Biasanya para remaja/Berpikirnya sekali saja/Tanpa menghiraukan akibatnya

Wahai kawan para remaja/Waspadalah dalam melangkah/Agar tidak menyesal akhirnya

Lagu itu diciptakan sekitar tahun 1975, setelah Rhoma dan para personel Soneta pulang menjalankan ibadah haji. Isinya menggambarkan sikap anak muda yang penuh semangat bergejolak, selalu merasa gagah dan tak pernah mau mengalah. Rhoma juga mengkritik kawula muda yang kerap berpikir instan, tak berpikir panjang dari akibat perbuatannya. Syair lagu legendaris yang sudah puluhan tahun itu sangat mewakili Rhoma saat remaja dan tetap layak menjadi pelajaran remaja saat ini.

Diolah dari berbagai sumber. 

(kpl/dar)


REKOMENDASI
TRENDING