SELEBRITI

Hanung Bramantyo Akui Awalnya Tak Ingin Jadi Sutradara, Anggap Film Alat Kapitalistik

Senin, 30 Maret 2020 19:45 Penulis: Canda Dian Permana

Hanung Bramantyo © KapanLagi.com/Muhammad Akrom Sukarya

Kapanlagi.com - Memperingati Hari Perfilman Nasional yang jatuh tepat pada hari ini (30/3/2020) enam sutradara kenamaan tanah air melakukan video conference dengan tema diskusi 'Sutradara Film di Indonesia'. Nama-nama yang terlibat antara lain Hanung Bramantyo, Joko Anwar, Upi, Riri Riza, Nia Dinata dan Garin Nugroho.

Sebelum memulai diskusi secara live di Instagram Indonesian Film Directors Club (IFDC), para sutradara menceritakan latar belakang terceburnya mereka ke industri film. Uniknya, Hanung mengatakan bila awalnya tak pernah tertarik dunia film, bahkan menjadi sutradara. Kenapa?

"Gue dari awal nggak suka film. Gue tuh anak teater, anak sanggar, buat gue film alat kapitalistik pada saat itu. Pokoknya gue sangat nggak suka. Gue sama teman-teman di Jogja hidup di sanggar, belajar seni murni, teater, melukis, menari. Film itu aktivitas yang hedon, orang harus pergi ke bioskop, berdandan rapi, nonton, buat gue suatu hal yang beda," kata Hanung.

 

1. Bertemu Teguh Karya

Namun pandangan Hanung Bramantyo pada dunia film berubah 180 derajat saat ia mendatangi Teater Populer mendiang Teguh Karya. Di sana secara tiba-tiba terbersit keinginan menjadi seorang sutradara.

"Yang membuat gue berbalik suka sama film saat diajak Mas Djaduk ke Teater Populer Teguh Karya. Saat itu cuma main-main aja, tapi di situ gue lihat ada kerja kebudayaan, ada kerja seni. Ternyata untuk menciptakan satu shoot, Pak Teguh itu, wah, kayak ngelukis, blocking diatur, kostum diatur, di situ baru merasa menarik," imbuhnya.

2. Diminta Sekolah Film

Lebih lanjut Hanung Bramantyo meminta berguru di tempat milik Teguh Karya. Namun sineas tersebut malah menolak dijadikan guru dan meminta Hanung sekolah film di Institut Kesenian Jakarta.

Meski pada awalnya enggan kembali bersekolah, namun Hanung akhirnya memaksakan diri. Dan suami Zaskia Adya Mecca ini pun mendapatkan banyak bekal pelajaran ketika berada di sana.

"Pada saat itu gue nggak mau yang namanya sekolah, gue terbiasa hidup dengan sanggar dan percaya banget bahwa seni itu hanya bisa di-delivery kehidupan sanggar. Gue bilang Pak Teguh pengin nyantri di sini, hidup di sini, tinggal di sini belajar sama lo. Jawaban Pak Teguh: 'Nggak, gue udah tua, lo ke IKJ'. Haduh kenapa harus IKJ, gue nggak suka sekolah, gue sangat trauma. Tapi mau nggak mau karena yang menyuruh Pak Teguh, ya udah. Di situ dapat teori film dan sampai seperti ini," tutup sutradara film Bumi Manusia ini.


REKOMENDASI
TRENDING