W.S Rendra: Saya Bernafsu 'Membuntingi' Dunia Kesenian
Kapanlagi.com - Umurnya akan genap 70 tahun pada November mendatang, namun W.S Rendra masih memiliki obsesi dibarengi semangat dan stamina yang seakan tak pernah habis untuk berkesenian.
Bahkan, penyair berjuluk Burung Merak yang lahir di Solo, 7 November 1935 itu mengaku bahwa saat ini sangat berhasrat dalam dunia kesenian.
Obsesi pemilik nama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra itu diungkapkannya saat berbincang dengan wartawan sebelum pertunjukan keliling pembacaan buku kumpulan puisi berjudul Bernafas dalam Resesi karya A. Slamet Widodo di Surabaya (14/7).
"Orang tua yang tidak lagi bisa membuntingi perempuan, maka harus mampu 'membuntingi' masyarakat. Saya sedang `ereksi` untuk 'membuntingi' dunia kesenian," kata lelaki yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dan American Academy of Dramatical Art, New York, Amerika Serikat (AS) itu.
Advertisement
Maksud dari ungkapan dramawan senior itu adalah soal regenerasi di bidang kepenyairan Indonesia. Ia terlihat betul-betul ingin menampilkan generasi muda sebagai sosok tandingan bagi generasi penyair senior.
Menurut dia, orang yang betul-betul kreatif pada saat sudah tua merindukan adanya sosok yang tampil sebagai tandingan, dan bukan sebagai penerus.
"Tidak ada generasi penerus, apanya yang mau diteruskan. Generasi muda harus tampil sebagai tandingan, agar yang senior sadar," kata penerima hadiah puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957), anugerah seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1969), dan hadiah seni dari Akademi Jakarta (1975) itu.
Untuk mendorong orang-orang muda berkiprah itu banyak yang dilakukannya, antara lain mengajak mereka tampil dalam ajang festival seni di luar negeri, dan mengenalkan karya-karya mereka.
Bahkan, pada Maret 2006, Rendra merencanakan akan menggelar festival puisi nasional. Festival yang difokuskan untuk anak-anak muda itu tidak hanya menjaring penulis puisi dalam bahasa Indonesia, melainkan juga yang menulis bahasa daerah.
"Puisi berbahasa daerah itu, kalau diterjemahkan ternyata bagus kok. Itu adalah pilihan-pilihan atau opsi karena Indonesia ini memang kaya dengan seni tradisinya. Silakan pilih opsi yang mana," demikian Rendra.
(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)
(*/dar)
Advertisement












































