in partnership with Indosiar
 
DANGDUT

Badan Bau Amis - Tangan Hitam Mengasap Ikan, Masa Kecil yang Tak Mungkin Soimah Lupa

Rabu, 30 Januari 2019 19:30 Penulis: Galuh Esti Nugraini

Soimah (credit: instagram.com/showimah)

Kapanlagi.com - Soimah bisa dibilang sudah mendulang sukses. Terlebih lagi dalam kariernya di dunia hiburan Tanah Air. Hal itu menjadi berkah tersendiri dalam perjalanan hidupnya.

Perjuangan hidup rupanya telah Soimah lakukan dari kecil. Di mana ia harus membantu orang tuanya berjualan ikan di pasar. Hal itu menjadi keseharian yang harus ia lakoni tiap harinya.

Berbeda dengan anak kecil pada umumnya yang suka bermain, namun tidak bagi pesinden satu ini. Setelah pulang sekolah, ia langsung mengasapi ikan-ikan agar bisa dijual esok harinya. Semua itu ia lakukan sampai tengah malam.

1. Masa Kecil

Hidup Soimah kala itu jauh dari rasa enak, karena dari kecil ia sudah bekerja. Setiap harinya ia harus melakoni hal yang sama untuk mengasapi ikan. Ikan-ikan yang telah diasap inilah yang nantinya akan dijual ke pasar.

"Jadi waktu kecil sebenarnya dari SD sampai SMP, rumahku kan di pinggir pantai. Mayoritas di desa aku pekerjaannya adalah nelayan termasuk ibu aku. Ibu aku itu pungulak ikan dan penjual ikan di pasar. Jadi mengolah ikan mentah menjadi matang untuk dijual di pasar, ikan panggang atau ikan asap dan ikan pindang. Jadi saya itu membantu membuat pindang ikan dan panggang ikan," ungkap Soimah saat ditemui di studio 5 Indosiar, Jakarta Barat, Rabu, 16 Januari 2019.

2. Mencari Bahan Sendiri

Soimah pun tidak langsung mengasap ikan begitu saja. Ia harus mempersiapkan semua bahan-bahannya lebih dulu. Tentu saja ia lakukan sendiri.

Ia juga harus membeli bahan-bahannya sendiri. Letaknya pun lumayan jauh dari rumahnya. Terkadang ia harus berjalan kaki atau naik sepeda.

"Sebelum memasak ikan, saya harus menyiapkan bahan-bahannya, misal es batu dan garam. Es batu fungsinya menyegarkan ikan, jadi ikannya sangat banyak sekali dan harus segar sebelum diolah, untuk menyegarkan ikan saya selalu beli es balok, garam, belarak (daun kelapa), alang-alang untuk menyiapkan itu semua karena sekali masak ibu bisa sampai masak 20 drum sehari," ungkap ibu dua anak ini.

"Sekitar 1 km setengah, kadang jalan kaki kadang naik sepeda. Kalau jalan itu, balok es aku tenteng (bawa sambil memeluk), kalau naik sepeda tidak aku naikin karena balok es aku taruh dijok dan keseimbangannya susah kalau dinaikin," lanjutnya.

3. Sampai Tengah Malam

Membantu mengasap ikan itu biasanya ia lakukan sehabis sekolah. Tak hanya satu dua jam saja ia membantu, bahkan sampai tengah malam tanpa henti. Setelah ikan tersebut siap dijual, ia juga tidak langsung beristirahat.

"Makanya setelah pulang sekolah saya membantu ibu dan itu selesainya bisa sampai jam satu malam, jam 1 selesai, dan jam 3 harus bawa ke pasar. Jadi antara jam 1 sampai jam 3 saya harus menjaga ikan yang sudah masak agar tidak dimakan sama kucing. Lalu jam 3 bawa ke kendaraan yang membawa ikan ke pasar," cerita Soimah.

4. Baru sekolah

Setelah semuanya beres, Soimah baru berangkat ke sekolah. Namun apa daya, karena dikejar waktu terkadang bau amis pun masih menempel di badannya. Itulah perjuangan yang tentunya masih teringat dalam benak Soimah.

"Setelah itu bersih-bersih rumah bekas ikan terus berangkat sekolah. Makanya saat sekolah masih bau amis, dan sisik ikan masih menempel karena buru-buru mandinya. Mandinya juga pakai air asin, kan air tawar harus beli dan hanya untuk kebutuhan air minum," lanjut penyanyi kelahiran 38 tahun silam ini.

5. Merasa Malu

Bahkan dengan kondisinya kala itu, Soimah merasa malu pada teman-temannya. Badannya yang terkadang masih bau ikan, ditambah lagi dengan tangannya yang kasar.

"Iya tangan itu di sini (sambil menunjukan tangannya) sampai hitam kemerahan karena ngasap, jadi kaya warna ikan asap, cokelat kemerahan. Makanya waktu sekolah aku sering menggenggam tangan karena malu. Sekarang juga ini tanganku masih kasar," ujarnya.

6. Bagikan Kisah Lama

Cerita masa kecil Soimah ini juga pernah ia bagikan ke dalam akun Instagramnya. Ia juga menunjukkan foto kecilnya itu. Antara sedih dan bangga yang ia rasakan saat melihat foto ini.

"Antara bangga dan sedih liat foto ini, sekitar kelas 1 SMP pulang ekstrakulikuler, temen-temen pada foto, terus ikut-ikutan foto dengan topi, tas, dan sepeda pinjaman. Sepatu buluk dan kaos kaki lecek dan kendor. Duh, plus mambu iwak alias amis, tangan selalu genggam karena malu, telapak tangan warna merah kehitaman karena tiap hari manggang/ngasep ikan," tulisnya dalam caption.

7. Sederhana

Kini ia pun telah memperlihatkan buah dari hasil kerja kerasnya itu. Hidupnya pun lebih dari cukup. Namun hal itu tak membuatnya tinggi hati.

Ia tetap menjadi sosok yang sederhana dan rendah hati. Sikap sombongnya itu hanyalah sekedar image saat ia berada di layar kaca.

Saat ia berada di rumah, ia juga menjadi sosok apa adanya. Bahkan saat liburan pun sama halnya, ia tetap sederhana, tanpa menggunakan riasan sekalipun. Seakan tak pernah ada sikap jaim ditunjukkan olehnya.


REKOMENDASI
TRENDING