CLOSE

6 Kebiasaan Orang Tua Bikin Anak Memendam Rasa Benci ke Saudaranya

6 Kebiasaan Orang Tua Bikin Anak Memendam Rasa Benci ke Saudaranya
Ilustrasi Saudara Bertengkar (Photo by Vitaly Gariev on Unsplash)

Kapanlagi.com - Hubungan orang tua dan anak tidak selalu berjalan mulus. Tanpa disadari, beberapa kebiasaan dalam mendidik anak dapat membuat mereka merasa tidak dihargai, kurang disayangi, atau diperlakukan tidak adil.

Perasaan tersebut bisa muncul dari hal-hal sederhana, seperti membandingkan anak dengan saudaranya atau mengabaikan pendapatnya. Jika terus berulang, kekecewaan yang menumpuk dapat memengaruhi kedekatan emosional dalam keluarga.

Tidak semua anak berani mengungkapkan rasa kecewa secara langsung. Sebagian memilih diam dan menyimpan perasaannya sendiri, sehingga orang tua perlu mengenali kebiasaan yang berpotensi melukai hati anak.

Berikut ini beberapa kebiasaan orang tua yang bikin anak memendam rasa benci, dilansir KapanLagi.com dari berbagai sumber, Selasa (27/10).

1. Membandingkan Anak dengan Saudara Kandungnya

saudara kandung. Photo by Ketut Subiyanto on Pexels

Orang tua terkadang membandingkan anak dengan saudaranya untuk memotivasi mereka agar lebih rajin atau berprestasi. Namun, kebiasaan ini justru dapat membuat anak merasa dirinya kurang baik dan harus bersaing untuk mendapatkan perhatian orang tua.

Jika terus terjadi, anak bisa menyimpan rasa iri, rendah diri, atau kecewa karena merasa tidak pernah cukup baik. Sebaiknya, orang tua menghargai usaha dan perkembangan setiap anak tanpa menjadikan pencapaian saudaranya sebagai tolok ukur.

2. Selalu Meminta Anak Mengalah

Anak yang lebih tua sering diminta mengalah kepada adiknya karena dianggap lebih dewasa. Padahal, jika tuntutan tersebut terus diberikan kepada anak yang sama, ia bisa merasa kebutuhan dan perasaannya tidak sepenting milik saudaranya.

Kebiasaan ini berpotensi menimbulkan rasa tidak adil dan kekecewaan yang terpendam. Orang tua sebaiknya mendengarkan kedua anak ketika terjadi perselisihan, kemudian mengambil keputusan berdasarkan situasi, bukan semata-mata urutan usia.

3. Menganggap Perasaan Anak Berlebihan

parenting buruk. Photo by RDNE Stock project on Pexels

Ucapan seperti “Begitu saja kok sedih” atau “Kamu terlalu sensitif” mungkin dianggap sepele oleh orang tua. Namun, respons seperti ini dapat membuat anak merasa bahwa kesedihan dan kekecewaannya tidak layak mendapatkan perhatian.

Jika terus mengalami hal serupa, anak mungkin memilih diam daripada menceritakan perasaannya. Orang tua sebaiknya mendengarkan keluhan anak dengan terbuka dan berusaha memahami penyebab emosinya sebelum memberikan nasihat.

4. Terus Mengungkit Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan anak memang perlu dibicarakan agar mereka bisa belajar bertanggung jawab. Namun, terus mengungkit kesalahan yang sudah berlalu, terutama ketika terjadi pertengkaran baru, dapat membuat anak merasa dirinya selalu dianggap buruk.

Anak juga bisa kehilangan kepercayaan bahwa dirinya mampu berubah dan memperbaiki keadaan. Daripada terus mengungkit masa lalu, orang tua sebaiknya membahas perilaku yang perlu diperbaiki dan memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dari kesalahannya.

5. Mengabaikan Pendapat dan Penjelasan Anak

orangtua dan anak. Photo by kaboompics on Pexels

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menetapkan aturan, tetapi anak tetap perlu diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. Ketika anak selalu dipotong pembicaraannya atau langsung dianggap bersalah tanpa didengarkan, ia bisa merasa tidak dipercaya dan tidak dihargai.

Dalam jangka panjang, anak mungkin enggan bercerita karena menganggap pendapatnya tidak akan mengubah apa pun. Orang tua dapat membangun komunikasi yang lebih sehat dengan mendengarkan penjelasan anak sampai selesai, lalu menyampaikan keputusan beserta alasannya secara jelas.

6. Tidak Mau Mengakui Kesalahan kepada Anak

Orang tua juga bisa keliru, misalnya salah menuduh anak atau mengucapkan kata-kata menyakitkan ketika sedang marah. Namun, jika selalu membenarkan diri dan menolak meminta maaf, orang tua dapat membuat anak merasa bahwa perasaannya tidak dianggap penting.

Mengakui kesalahan bukan berarti kehilangan wibawa sebagai orang tua. Sebaliknya, kesediaan untuk meminta maaf dan memperbaiki perilaku dapat menunjukkan kepada anak bahwa setiap orang perlu bertanggung jawab atas tindakannya.

7. Cara Mencegah Anak Memendam Kekecewaan

parenting (Photo by Annushka Ahuja on Pexels)

Kebiasaan yang melukai perasaan anak tidak selalu dilakukan dengan sengaja. Meski begitu, orang tua perlu menyadari dampaknya dan bersedia memperbaiki cara berkomunikasi agar kekecewaan tidak terus menumpuk.

Cobalah mendengarkan anak tanpa langsung menghakimi, memberikan perlakuan yang adil, serta menghindari perbandingan dengan saudara kandungnya. Jika anak terlihat menjauh atau enggan bercerita, ajaklah berbicara dengan tenang tanpa memaksanya mengungkapkan semua perasaan sekaligus.

8. Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Orang Tua Bikin Anak Memendam Rasa Benci ke Saudaranya

1. Apa saja kebiasaan orang tua yang bisa membuat anak memendam rasa benci?

Beberapa di antaranya adalah membandingkan anak dengan saudaranya, selalu meminta anak mengalah, meremehkan perasaannya, terus mengungkit kesalahan masa lalu, mengabaikan pendapatnya, dan tidak mau mengakui kesalahan.

2. Mengapa anak memilih memendam kekecewaan kepada orang tua?

Anak mungkin takut dimarahi, merasa tidak akan didengarkan, atau khawatir pendapatnya dianggap berlebihan. Akibatnya, mereka memilih diam daripada mengungkapkan perasaan secara langsung.

3. Bagaimana cara orang tua mencegah anak menyimpan kebencian?

Orang tua dapat membiasakan komunikasi terbuka, mendengarkan perasaan anak tanpa menghakimi, memberikan perlakuan yang adil, serta bersedia meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Langkah tersebut dapat membantu membangun hubungan keluarga yang lebih sehat.

(kpl/rmt)

Rekomendasi

Trending