Apa Arti HIV: Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya bagi Kesehatan

Apa Arti HIV: Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya bagi Kesehatan
apa arti hiv

Kapanlagi.com - HIV merupakan salah satu virus yang paling dikenal di dunia karena dampaknya yang serius terhadap kesehatan manusia. Virus ini telah menjadi perhatian global sejak pertama kali ditemukan dan terus menjadi tantangan kesehatan masyarakat hingga saat ini.

Memahami apa arti HIV sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan dan penanganan yang tepat. Pengetahuan yang akurat tentang virus ini dapat membantu mengurangi stigma dan mendorong deteksi dini serta pengobatan yang efektif.

Menurut data yang dilansir dari Alodokter, HIV atau human immunodeficiency virus adalah virus yang merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh yang berguna untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit. Ketika sel-sel tersebut rusak dan jumlahnya berkurang, daya tahan tubuh akan melemah dan penderitanya mudah terkena infeksi dan penyakit lainnya.

1. Pengertian dan Definisi HIV

Pengertian dan Definisi HIV (c) Ilustrasi AI

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yang secara harfiah berarti virus yang menyebabkan kekurangan kekebalan pada manusia. Virus ini termasuk dalam kelompok retrovirus yang secara khusus menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, terutama sel-sel CD4 atau sel T helper yang berperan penting dalam koordinasi respons imun tubuh.

Ketika seseorang bertanya apa arti HIV, jawaban yang paling tepat adalah bahwa HIV merupakan virus patogen yang dapat menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh seseorang secara progresif. Virus ini tidak dapat bertahan lama di luar tubuh manusia karena sifatnya yang rapuh, namun sangat berbahaya ketika berada di dalam tubuh karena kemampuannya untuk bermutasi dan menghindari sistem kekebalan tubuh.

Penting untuk dipahami bahwa HIV dan AIDS adalah dua kondisi yang berbeda meskipun saling berkaitan. HIV adalah virus penyebabnya, sedangkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah stadium akhir dan paling serius dari infeksi HIV yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah dan tidak mampu melawan infeksi.

Mengutip dari HIV.gov, tubuh manusia tidak dapat menyingkirkan HIV dan belum ada obat yang efektif untuk menyembuhkan HIV. Jadi, sekali seseorang terinfeksi HIV, virus tersebut akan berada dalam tubuhnya seumur hidup. Namun, pengobatan yang efektif dengan obat HIV (disebut terapi antiretroviral atau ART) tersedia dan dapat mengurangi jumlah HIV dalam darah hingga tingkat yang sangat rendah.

2. Cara Penularan dan Penyebaran HIV

Cara Penularan dan Penyebaran HIV (c) Ilustrasi AI

Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi HIV. Cairan tubuh yang dapat menularkan virus ini meliputi darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, dan ASI. Penting untuk dipahami bahwa HIV tidak menular melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, atau sentuhan fisik biasa.

Cara penularan HIV yang paling umum adalah melalui hubungan seksual tanpa pengaman dengan penderita HIV, baik melalui vaginal, anus, atau mulut. Penggunaan jarum suntik yang tidak steril secara bergantian juga merupakan jalur penularan yang signifikan, terutama di kalangan pengguna narkoba suntik.

Penularan dari ibu ke anak dapat terjadi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui pada ibu yang positif HIV. Transfusi darah yang terkontaminasi HIV dan prosedur medis dengan alat yang tidak steril juga dapat menjadi jalur penularan, meskipun risiko ini sudah sangat diminimalkan di fasilitas kesehatan modern.

Menurut data yang dilansir dari Kesejahteraan Rakyat Buleleng, di Indonesia faktor penyebab dan penyebaran virus HIV/AIDS terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu melalui hubungan seks yang tidak aman dan bergantian jarum suntik saat menggunakan narkotika. Sejak pertama kali ditemukannya infeksi HIV pada tahun 1987, HIV telah tersebar di 368 dari 497 kabupaten/kota di seluruh provinsi Indonesia.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko penularan HIV antara lain memiliki pasangan seksual lebih dari satu, berhubungan intim tanpa kondom, menderita penyakit menular seksual lainnya seperti sifilis atau gonore, berbagi jarum suntik, dan bekerja sebagai tenaga kesehatan yang melibatkan kontak langsung dengan cairan tubuh manusia.

3. Gejala dan Tahapan Infeksi HIV

Gejala dan Tahapan Infeksi HIV (c) Ilustrasi AI

Gejala HIV dapat bervariasi tergantung pada tahapan infeksi. Pada beberapa minggu pertama setelah terinfeksi, HIV mungkin tidak menimbulkan gejala sama sekali. Namun, sebagian orang dapat mengalami gejala mirip flu yang berlangsung dalam hitungan hari atau minggu.

  1. Tahap Infeksi Akut (2-4 minggu setelah terinfeksi): Gejala yang umum terjadi meliputi demam, batuk, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, ruam kulit, sakit tenggorokan, sariawan yang sangat sakit, pembengkakan kelenjar getah bening terutama di leher, diare, dan berkeringat pada malam hari.
  2. Tahap Laten Klinis (dapat berlangsung bertahun-tahun): Pada tahap ini, virus tetap aktif namun berkembang biak dengan sangat lambat. Penderita mungkin tidak mengalami gejala atau hanya gejala ringan, namun tetap dapat menularkan virus kepada orang lain.
  3. Tahap Simptomatik: Ketika virus makin berkembang biak dan menghancurkan sel-sel sistem kekebalan tubuh, gejala dapat bertahan dalam jangka panjang. Penderita dapat mengalami penurunan berat badan dan gangguan kesehatan lain seperti infeksi jamur mulut atau herpes zoster.
  4. Tahap AIDS: Jika tidak diobati, HIV dapat berkembang menjadi AIDS dalam kurun waktu sekitar 8-10 tahun. Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah dan menyebabkan penderita terkena infeksi oportunistik.
  5. Gejala Stadium Lanjut: Meliputi berkeringat terus-menerus, demam berulang, menggigil, diare kronis, bercak putih atau luka yang terus-menerus muncul di lidah atau mulut, sering kelelahan, tubuh terasa lemas, dan berat badan turun drastis.

Mengutip dari buku Pengelolaan Dan Pencegahan Diabetes, diabetes lebih sering terjadi 4 kali lebih banyak pada pasien HIV dibandingkan non-HIV. Risiko diabetes dapat meningkat akibat penggunaan obat ARV golongan protease inhibitor dan nukleosida reverse transcriptase inhibitor.

4. Diagnosis dan Pemeriksaan HIV

Diagnosis HIV hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium yang spesifik. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV adalah dengan melakukan tes HIV yang disertai konseling. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel cairan tubuh pasien, seperti darah atau urine, yang kemudian diteliti di laboratorium.

Jenis skrining untuk mendeteksi HIV meliputi tes antibodi HIV seperti rapid HIV test atau ELISA untuk mendeteksi antibodi HIV dalam darah, tes kombinasi antigen-antibodi untuk mendeteksi protein p24 yang menjadi bagian dari HIV, dan tes asam nukleat untuk mencari keberadaan HIV di dalam tubuh yang dapat dilakukan 10 hari setelah pasien terinfeksi.

Jika hasil tes menunjukkan positif HIV, dokter akan menyarankan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan keparahan infeksi, termasuk tes viral load atau RNA HIV untuk mengukur jumlah virus HIV dalam tubuh, tes CD4 untuk menilai jumlah sel CD4 sebagai indikator kekebalan tubuh, dan tes resistensi obat untuk menentukan apakah jenis virus yang menyebabkan infeksi kebal terhadap obat-obatan tertentu.

Layanan tes HIV dan konseling disebut sebagai VCT (Voluntary Counseling and Testing) atau KTS (Konseling dan Tes HIV Sukarela). Tes ini bersifat sukarela dan rahasia. Sebelum melakukan tes, konseling diberikan terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat risiko infeksi dan pola hidup keseharian, serta membahas cara menghadapi hasil tes HIV jika terbukti positif.

5. Pengobatan dan Penanganan HIV

Pengobatan dan Penanganan HIV (c) Ilustrasi AI

Meskipun belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV sepenuhnya, tersedia pengobatan yang efektif untuk mengendalikan perkembangan virus. Terapi utama untuk HIV adalah pemberian antiretroviral (ARV) yang tidak menghilangkan virus, tetapi dapat menekan perkembangan HIV sehingga sistem imun tetap terjaga.

Pengobatan harus dimulai sesegera mungkin setelah pasien dinyatakan positif HIV dan obat perlu diminum secara teratur seumur hidup. Orang dengan HIV juga membutuhkan pemeriksaan rutin agar dokter dapat memantau kondisi tubuhnya dan efektivitas terapi. Jika diambil sesuai resep, obat HIV dapat mengurangi jumlah HIV dalam darah hingga tingkat yang sangat rendah, yang disebut penekanan viral.

Obat-obatan yang dapat diresepkan dokter untuk mengobati HIV antara lain Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTIs) seperti efavirenz atau rilpivirine, Nucleoside or nucleotide reverse transcriptase inhibitors (NRTIs), Protease inhibitors seperti darunavir atau lopinavir-ritonavir, dan Integrase inhibitors seperti dolutegravir.

Dengan diagnosis HIV dini dan penanganan yang efektif, pengidap HIV tidak akan berubah menjadi AIDS. Orang dengan HIV yang mengonsumsi obat HIV sesuai resep dan mendapatkan serta mempertahankan viral load yang tidak terdeteksi dapat hidup panjang dan sehat serta tidak akan menularkan HIV kepada pasangan HIV-negatif mereka melalui hubungan seks.

6. Pencegahan dan Upaya Pengendalian

Pencegahan dan Upaya Pengendalian (c) Ilustrasi AI

Pencegahan HIV merupakan aspek yang sangat penting dalam pengendalian penyebaran virus ini. Berbagai upaya pencegahan dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan HIV, baik pada tingkat individu maupun masyarakat.

Upaya pencegahan primer meliputi tidak berganti-ganti pasangan seksual, menggunakan kondom setiap berhubungan intim, menjalani sunat, memastikan pasangan tidak menderita penyakit menular seksual termasuk HIV, tidak berbagi penggunaan jarum suntik atau alat tajam lain, dan melakukan pemeriksaan HIV secara rutin terutama untuk individu yang berisiko.

Selain itu, tersedia metode pencegahan yang efektif seperti pre-exposure prophylaxis (PrEP), yaitu obat yang diminum oleh orang yang berisiko terkena HIV untuk mencegah infeksi melalui hubungan seks atau penggunaan narkoba suntik, dan post-exposure prophylaxis (PEP), yaitu obat HIV yang diminum dalam waktu 72 jam setelah kemungkinan terpapar untuk mencegah virus berkembang.

Untuk ibu hamil yang positif HIV, tersedia program pencegahan penularan dari ibu ke anak (PPIA) yang meliputi pemberian obat ARV selama kehamilan, persalinan dengan metode yang aman, dan pemberian susu formula sebagai pengganti ASI untuk mencegah penularan kepada bayi.

Edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat juga merupakan komponen penting dalam pencegahan HIV. Pemahaman yang benar tentang apa arti HIV, cara penularan, dan metode pencegahan dapat membantu masyarakat membuat keputusan yang tepat untuk melindungi diri mereka sendiri dan orang lain.

7. FAQ (Frequently Asked Questions)

FAQ (Frequently Asked Questions) (c) Ilustrasi AI

1. Apa arti HIV secara lengkap?

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4, sehingga membuat tubuh rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit.

2. Apakah HIV sama dengan AIDS?

HIV dan AIDS adalah dua kondisi yang berbeda. HIV adalah virus penyebabnya, sedangkan AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV ketika sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah dan tidak mampu melawan infeksi.

3. Bagaimana cara penularan HIV yang paling umum?

Penularan HIV paling umum terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman dengan penderita HIV, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi secara bergantian, dan penularan dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.

4. Apakah HIV bisa disembuhkan?

Saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV sepenuhnya. Namun, tersedia terapi antiretroviral (ARV) yang sangat efektif untuk mengendalikan perkembangan virus dan memungkinkan penderita hidup normal dengan harapan hidup yang panjang.

5. Berapa lama waktu yang dibutuhkan HIV untuk berkembang menjadi AIDS?

Tanpa pengobatan, HIV dapat berkembang menjadi AIDS dalam kurun waktu sekitar 8-10 tahun. Namun, dengan pengobatan ARV yang tepat dan teratur, perkembangan ini dapat dicegah sepenuhnya.

6. Apa saja gejala awal infeksi HIV?

Gejala awal HIV mirip dengan flu, meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, ruam kulit, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan berkeringat pada malam hari. Namun, beberapa orang mungkin tidak mengalami gejala sama sekali pada tahap awal.

7. Bagaimana cara mencegah penularan HIV?

Pencegahan HIV dapat dilakukan dengan tidak berganti-ganti pasangan seksual, menggunakan kondom saat berhubungan intim, tidak berbagi jarum suntik, melakukan tes HIV secara rutin, dan menggunakan metode pencegahan seperti PrEP untuk individu berisiko tinggi.

(kpl/fed)

Rekomendasi
Trending