Cara Memilih Biji Sawit untuk Dijadikan Bibit yang Berkualitas

Cara Memilih Biji Sawit untuk Dijadikan Bibit yang Berkualitas
cara memilih biji sawit untuk dijadikan bibit

Pemilihan biji sawit yang tepat merupakan langkah awal yang krusial dalam budidaya kelapa sawit. Kualitas bibit akan sangat menentukan produktivitas tanaman di masa mendatang. Cara memilih biji sawit untuk dijadikan bibit yang benar dapat memastikan pertumbuhan optimal dan hasil panen yang maksimal.

Biji sawit berkualitas unggul memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari biji biasa. Pemahaman tentang kriteria seleksi biji sangat penting bagi petani maupun pengusaha perkebunan. Dengan menerapkan cara memilih biji sawit untuk dijadikan bibit yang tepat, investasi perkebunan akan memberikan hasil yang memuaskan.

Menurut Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 26/Kpts/KB.020/05/2021 tentang Pedoman Produksi, Sertifikasi, Peredaran dan Pengawasan Benih Tanaman Kelapa Sawit, benih kelapa sawit yang berkualitas harus berasal dari varietas unggul DxP yang telah dilepas secara resmi dan diproduksi di kebun benih khusus yang sudah disertifikasi.

1. Pengertian dan Pentingnya Pemilihan Biji Sawit Berkualitas

Pengertian dan Pentingnya Pemilihan Biji Sawit Berkualitas (c) Ilustrasi AI

Pemilihan biji sawit untuk dijadikan bibit merupakan proses seleksi benih kelapa sawit berdasarkan kriteria fisik, genetik, dan kualitas tertentu untuk menghasilkan tanaman yang produktif. Proses ini menjadi fondasi utama dalam menentukan keberhasilan perkebunan kelapa sawit di masa depan.

Biji sawit yang berkualitas unggul berasal dari hasil persilangan antara pohon induk Dura (D) sebagai pohon ibu dengan pohon induk Pisifera (P) sebagai pohon bapak yang menghasilkan varietas Tenera (DxP). Varietas ini memiliki keunggulan produktivitas tinggi dengan kandungan minyak yang optimal.

Kualitas biji sawit sangat mempengaruhi hasil dan kualitas tandan buah segar (TBS) yang akan diproduksi. Penggunaan benih unggul merupakan persyaratan utama dalam pengembangan budidaya kelapa sawit yang menguntungkan. Tanaman kelapa sawit umumnya menghasilkan buah sebanyak 20-22 tandan per tahun pada masa produktif optimal.

Pemilihan biji yang tepat akan menghasilkan tanaman dengan pertumbuhan sehat, tahan terhadap penyakit, dan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan. Sebaliknya, penggunaan biji sawit yang tidak berkualitas dapat menyebabkan kontaminasi dura yang akan mengurangi produksi TBS dan CPO hingga 50%, serta rendemen CPO maksimal hanya mencapai 18%.

2. Kriteria Fisik Biji Sawit yang Baik untuk Bibit

Kriteria Fisik Biji Sawit yang Baik untuk Bibit (c) Ilustrasi AI

Cara memilih biji sawit untuk dijadikan bibit yang pertama adalah memperhatikan aspek fisik biji. Biji sawit berkualitas memiliki ciri-ciri visual yang dapat diidentifikasi secara langsung untuk memastikan potensi pertumbuhannya optimal.

Ukuran dan Bentuk Biji

Biji sawit yang baik memiliki ukuran seragam, besar, dan berat. Ukuran biji yang lebih besar cenderung memiliki lebih banyak cadangan makanan yang akan mendukung proses perkecambahan. Biji yang kecil atau cacat bentuknya sering kali memiliki daya tumbuh yang lebih rendah atau bahkan tidak tumbuh sama sekali.

Bentuk biji yang ideal adalah bulat atau sedikit lonjong dengan kulit biji yang mulus dan bebas dari keretakan. Tempurung pada biji sawit unggul berwarna hitam gelap tanpa mengalami keretakan atau kerusakan. Kondisi fisik yang sempurna ini menunjukkan bahwa biji tersebut memiliki integritas genetik yang baik.

Warna dan Kondisi Permukaan

Warna biji sawit berkualitas umumnya cokelat kemerahan yang merata pada seluruh bagian biji. Biji dengan warna yang pudar atau terdapat bercak hitam bisa menjadi indikasi bahwa biji tersebut telah terkontaminasi oleh jamur atau mengalami kerusakan internal.

Permukaan biji harus bersih, tidak berlumut, dan tidak menunjukkan tanda-tanda pembusukan. Mata tunas pada biji sawit unggul berwarna putih bersih dan normal. Jika mata tunas berwarna kecoklatan atau kehitaman, sebaiknya biji tersebut tidak dipilih karena kemungkinan besar bukan bibit unggul.

Kadar Kelembapan yang Tepat

Kadar kelembapan biji sawit sangat mempengaruhi kualitas bibit yang dihasilkan. Biji yang terlalu lembap dapat menyebabkan pembusukan atau pertumbuhan jamur yang akan menghambat perkecambahan. Sebaliknya, biji yang terlalu kering akan kehilangan cadangan air yang diperlukan untuk proses perkecambahan.

Cara memilih biji sawit untuk dijadikan bibit dengan kadar kelembapan tepat adalah dengan memeriksa kondisi penyimpanan biji. Biji tidak boleh terlalu basah atau terlalu kering saat disentuh. Penyimpanan yang baik akan menjaga kelembapan optimal untuk proses perkecambahan.

3. Aspek Genetik dan Asal Usul Biji Sawit

Aspek Genetik dan Asal Usul Biji Sawit (c) Ilustrasi AI

Selain kriteria fisik, cara memilih biji sawit untuk dijadikan bibit juga harus mempertimbangkan aspek genetik dan asal usul biji. Faktor genetik menentukan potensi produktivitas dan ketahanan tanaman di masa mendatang.

Varietas Unggul Bersertifikat

Biji sawit yang baik harus berasal dari varietas unggul DxP yang telah dilepas secara resmi oleh Menteri Pertanian. Varietas unggul adalah hasil persilangan yang telah melalui proses pemuliaan dan pengujian progeni untuk menemukan kombinasi genetik terbaik dengan karakteristik produktivitas tinggi dan tahan terhadap penyakit.

Benih kelapa sawit yang asli memiliki sertifikasi karena kemurnian genetik terjamin dan perkecambahan benih dilakukan dengan rapi dan sistematis sehingga asal usulnya dapat ditelusuri ke pohon induk. Setiap benih memiliki cap (marker) varietas yang tidak bisa hilang sebagai tanda keaslian.

Menurut informasi dari mmc.kalteng.go.id, benih kelapa sawit harus diproduksi di kebun benih khusus yang sudah disertifikasi dengan cara menyilangkan pohon ibu induk Dura (D) dengan pohon bapak Pisifera (P) yang telah teruji keunggulannya. Proses ini memastikan kualitas genetik yang konsisten.

Sumber Biji yang Terpercaya

Kecambah kelapa sawit dapat dipesan ke perusahaan penyedia sumber benih kelapa sawit resmi yang ditetapkan oleh pemerintah dengan membawa Surat Persetujuan Penyaluran Benih Kelapa Sawit (SP2B-KS) yang diterbitkan oleh Ditjen Perkebunan atau Dinas Perkebunan Provinsi/Kabupaten/Kota. Benih dalam polybag dapat dibeli dari penangkar benih resmi yang memiliki Tanda Registrasi Usaha Perbenihan (TRUP) dan disertifikasi oleh UPTD Perbenihan Tanaman Perkebunan setempat.

Hindari membeli biji sawit dari sumber yang tidak jelas atau biji yang dikumpulkan di bawah pohon-pohon kelapa sawit di kebun produksi Tenera (T) atau pohon Dura (D) yang disilangkan secara alami. Biji seperti ini tidak memiliki catatan asal usul yang jelas dan tidak mengikuti standar perkecambahan yang berlaku.

Dokumentasi dan Rekam Jejak

Biji sawit berkualitas memiliki dokumentasi lengkap mulai dari rekaman pembangunan kebun induk termasuk asal usul benih, Surat Keputusan Pelepasan Varietas, hingga rekaman pemeliharaan kebun. Dokumentasi ini penting untuk memastikan bahwa biji berasal dari program pemuliaan yang terencana dan terkontrol.

Produsen benih yang terpercaya juga menyediakan informasi tentang karakteristik varietas, potensi produksi, dan rekomendasi budidaya. Informasi ini sangat membantu dalam menentukan kesesuaian varietas dengan kondisi lahan dan tujuan usaha perkebunan.

4. Proses Seleksi dan Pengujian Biji Sawit

Proses Seleksi dan Pengujian Biji Sawit (c) Ilustrasi AI

Cara memilih biji sawit untuk dijadikan bibit yang profesional melibatkan serangkaian proses seleksi dan pengujian untuk memastikan kualitas optimal. Proses ini dilakukan secara bertahap mulai dari pemilihan buah hingga pengecambahan.

  1. Pemilihan Buah Sawit yang Matang Optimal - Buah sawit yang baik untuk diambil bijinya adalah buah pada tingkat fraksi dua dengan ciri terdapat 5 hingga 10 brondolan di piringan, buah berubah warna dari kuning menjadi oranye, dan sebanyak 25% hingga 75% buah luar membrondol. Buah yang dipanen terlalu muda atau terlalu tua akan menghasilkan biji dengan kualitas rendah.
  2. Ekstraksi dan Pembersihan Biji - Setelah buah dipanen, biji diekstraksi dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan fisik. Biji kemudian dibersihkan dari sisa-sisa daging buah dan kotoran yang menempel. Proses pembersihan yang baik akan mencegah kontaminasi jamur dan bakteri yang dapat menghambat perkecambahan.
  3. Sortasi Berdasarkan Ukuran dan Berat - Biji disortir berdasarkan ukuran dan berat untuk mendapatkan biji yang seragam. Biji yang terlalu kecil atau ringan dipisahkan karena kemungkinan memiliki cadangan makanan yang tidak mencukupi untuk perkecambahan optimal.
  4. Uji Daya Apung - Biji direndam dalam air untuk menguji daya apungnya. Biji yang tenggelam umumnya memiliki kualitas lebih baik karena memiliki kepadatan yang tinggi dan cadangan makanan yang cukup. Biji yang mengapung sebaiknya dibuang karena kemungkinan kosong atau rusak.
  5. Uji Perkecambahan - Sebelum ditanam dalam skala besar, dilakukan uji perkecambahan pada sampel biji untuk mengetahui persentase daya tumbuh. Biji berkualitas baik memiliki persentase perkecambahan minimal 85%. Uji ini juga membantu menentukan waktu yang dibutuhkan untuk perkecambahan.
  6. Perlakuan Pra-Tanam - Biji yang telah lolos seleksi dapat diberi perlakuan pra-tanam seperti perendaman dalam air hangat atau larutan fungisida untuk meningkatkan daya kecambah dan mencegah serangan penyakit. Perlakuan ini harus dilakukan sesuai dengan rekomendasi teknis yang berlaku.

Menurut balaimedan.ditjenbun.pertanian.go.id, proses seleksi pohon induk dari lini-lini terpilih dari hasil pengujian progeni sangat penting untuk memproduksi benih DxP varietas unggul. Seleksi yang ketat memastikan bahwa hanya biji dengan kualitas genetik terbaik yang digunakan untuk pembibitan.

5. Ciri-Ciri Biji Sawit Palsu yang Harus Dihindari

Ciri-Ciri Biji Sawit Palsu yang Harus Dihindari (c) Ilustrasi AI

Dalam memahami cara memilih biji sawit untuk dijadikan bibit, penting juga mengenali ciri-ciri biji sawit palsu atau ilegal yang beredar di pasaran. Penggunaan biji palsu dapat menimbulkan kerugian besar bagi petani dan pengusaha perkebunan.

Karakteristik Biji Sawit Palsu

Biji sawit palsu biasanya berasal dari buah atau kecambah yang dikumpulkan di bawah pohon-pohon kelapa sawit yang terdapat di kebun produksi Tenera (T) atau pohon Dura (D) yang disilangkan secara alami. Perkecambahan dilakukan secara alami dan asal usul pohonnya tidak jelas serta tidak tercatat dalam sistem dokumentasi resmi.

Biji palsu tidak dapat disertifikasi karena asal usulnya tidak jelas dan proses pengecambahannya tidak mengikuti standar yang berlaku. Biji ini tidak memiliki cap (marker) varietas yang menjadi tanda keaslian dan tidak dilengkapi dengan dokumen sertifikasi dari lembaga berwenang.

Dampak Penggunaan Biji Sawit Palsu

Penggunaan benih ilegal akan menghasilkan kontaminasi dura sehingga akan mengurangi produksi TBS dan CPO secara signifikan. Pengguna benih ilegal akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendapatan yang optimal dan biaya yang dikeluarkan menjadi sia-sia karena produktivitas rendah dengan tingkat produksi TBS hanya 50% dan rendemen CPO maksimal 18%.

Para pekebun akan mengalami kesulitan mengembalikan pinjaman kredit karena produksi yang dihasilkan rendah. Selain itu, akan timbul konflik antara PKS dan kebun pemasok TBS akibat kualitas buah yang tidak memenuhi standar. Penggunaan biji palsu juga merupakan pelanggaran Undang-Undang Nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan Undang-Undang Nomor 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman.

Cara Menghindari Biji Sawit Palsu

Untuk menghindari biji sawit palsu, selalu beli dari sumber resmi yang memiliki izin dan sertifikasi dari pemerintah. Pastikan biji dilengkapi dengan dokumen lengkap termasuk sertifikat benih, label resmi, dan informasi asal usul yang jelas. Jangan tergiur dengan harga murah yang ditawarkan oleh penjual tidak resmi karena kemungkinan besar biji tersebut palsu atau berkualitas rendah.

Jika menemukan praktek peredaran benih kelapa sawit palsu, segera laporkan ke Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang berada di Dinas Perkebunan setempat atau ke Polres setempat. Pelaku pengedaran benih kelapa sawit ilegal dapat dikenakan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 250.000.000 sesuai peraturan yang berlaku.

6. Teknik Penyimpanan Biji Sawit Sebelum Ditanam

Teknik Penyimpanan Biji Sawit Sebelum Ditanam (c) Ilustrasi AI

Setelah memahami cara memilih biji sawit untuk dijadikan bibit, langkah selanjutnya adalah menyimpan biji dengan benar sebelum proses penanaman. Penyimpanan yang tepat akan mempertahankan viabilitas dan kualitas biji hingga saat penanaman.

Biji sawit sebaiknya tidak disimpan terlalu lama setelah ekstraksi dari buah. Keterlambatan penanaman akan mengakibatkan kerusakan atau kelainan pada kecambah, antara lain bakal akar dan daun akan menjadi panjang sehingga mudah patah dan mempersulit penanaman. Kecambah juga akan mengalami kerusakan karena lebih rentan terserang jamur, dan dapat menjadi tidak segar, mati atau kering karena kekurangan air ataupun menjadi busuk pada akar atau daun.

Tempat penyimpanan harus bersih, kering, dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Suhu penyimpanan ideal adalah pada suhu ruang yang stabil, tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Biji disimpan dalam wadah yang memungkinkan pertukaran udara namun tetap melindungi dari kontaminasi hama dan penyakit.

Kelembapan relatif ruang penyimpanan harus dijaga pada kisaran 60-70% untuk mencegah biji menjadi terlalu kering atau terlalu lembap. Biji yang disimpan harus diperiksa secara berkala untuk memastikan tidak ada tanda-tanda pembusukan, pertumbuhan jamur, atau serangan hama. Jika ditemukan biji yang rusak, segera pisahkan untuk mencegah penyebaran kerusakan ke biji lainnya.

7. Persiapan Penanaman Biji Sawit Terpilih

Setelah biji sawit terpilih melalui proses seleksi yang ketat, persiapan penanaman menjadi tahap penting untuk memastikan perkecambahan optimal. Cara memilih biji sawit untuk dijadikan bibit akan sia-sia jika tidak diikuti dengan teknik penanaman yang benar.

Media Tanam yang Tepat

Media tanam untuk perkecambahan biji sawit harus memiliki tekstur gembur, drainase baik, dan kaya akan unsur hara. Campuran tanah top soil dengan kompost atau pupuk organik dalam perbandingan yang tepat akan memberikan kondisi optimal untuk pertumbuhan akar dan tunas. pH media tanam yang ideal adalah 4,0-6,5 sesuai dengan syarat tumbuh kelapa sawit.

Pembibitan kelapa sawit direkomendasikan dilakukan secara dua tahap (double stage) yaitu pembibitan awal (pre nursery) selama minimal 3 bulan pada polybag berukuran kecil, kemudian dipindah ke pembibitan utama (main nursery) dengan polybag berukuran lebih besar minimal 30 cm x 40 cm. Pembibitan dua tahap ini sangat direkomendasikan dan lebih menjamin kualitas bibit yang dihasilkan karena melalui beberapa tahapan seleksi.

Teknik Penanaman yang Benar

Pada saat penanaman perlu diperhatikan posisi dan arah kecambah yaitu bakal daun (plumula) menghadap ke atas dan bakal akar (radikula) menghadap ke bawah. Ciri-ciri bakal daun adalah bentuknya yang agak menajam dan berwarna kuning muda, sedangkan bentuk bakal akar agak tumpul dan berwarna lebih kuning dari bakal daun.

Kecambah kelapa sawit dianjurkan ditanam pada kedalaman 1,5 cm dari permukaan tanah. Penanaman yang terlalu dangkal dapat menyebabkan bibit mudah rebah, sedangkan penanaman terlalu dalam dapat menghambat pertumbuhan tunas. Setelah ditanam, media disiram dengan hati-hati agar tidak membongkar posisi kecambah.

Perawatan Awal Bibit

Volume air yang dibutuhkan untuk tanaman kelapa sawit di pre nursery adalah 300 ml air per batang per hari, sedangkan di main nursery adalah 3 liter air per batang per hari. Penyiraman langsung yang terlalu deras dapat menyebabkan akar benih terbongkar, sehingga sebaiknya menggunakan sprinkler atau gembor dengan lubang halus.

Pemupukan dilakukan berdasarkan jenis, dosis dan jadwal yang direkomendasikan oleh masing-masing pemilik varietas, sehingga tidak dijumpai gejala kekurangan unsur hara pada tanaman. Penggunaan pupuk organik cair seperti POC GDM spesialis tanaman perkebunan dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kelapa sawit karena menghasilkan zat perangsang tumbuh alami.

Jarak tanam antar polybag di main nursery yang dianjurkan adalah minimal 70 cm x 70 cm untuk mencegah etiolasi dan memudahkan sirkulasi udara. Gulma di sekitar polybag harus dikendalikan secara rutin karena dapat bertindak sebagai inang alternatif bagi patogen penyebab penyakit daun pada tanaman kelapa sawit.

8. FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apa ciri-ciri biji sawit yang baik untuk dijadikan bibit?

Biji sawit yang baik memiliki ukuran seragam dan besar, bentuk bulat atau sedikit lonjong, warna cokelat kemerahan merata, tempurung hitam gelap tanpa keretakan, mata tunas berwarna putih bersih, serta berasal dari varietas unggul DxP bersertifikat. Biji juga harus memiliki kadar kelembapan yang tepat, tidak terlalu basah atau kering.

2. Dimana bisa mendapatkan biji sawit berkualitas unggul?

Biji sawit berkualitas dapat dipesan dari perusahaan penyedia sumber benih kelapa sawit resmi yang ditetapkan pemerintah dengan membawa Surat Persetujuan Penyaluran Benih Kelapa Sawit (SP2B-KS). Benih dalam polybag dapat dibeli dari penangkar benih resmi yang memiliki Tanda Registrasi Usaha Perbenihan (TRUP) dan disertifikasi oleh UPTD Perbenihan Tanaman Perkebunan setempat.

3. Bagaimana cara membedakan biji sawit asli dan palsu?

Biji sawit asli memiliki sertifikasi resmi, cap (marker) varietas yang tidak bisa hilang, dokumentasi asal usul yang jelas hingga ke pohon induk, dan berasal dari varietas unggul yang dilepas Menteri Pertanian. Biji palsu tidak memiliki sertifikasi, asal usulnya tidak jelas, dikumpulkan dari bawah pohon di kebun produksi, dan tidak memiliki cap varietas resmi.

4. Berapa lama biji sawit dapat disimpan sebelum ditanam?

Biji sawit sebaiknya tidak disimpan terlalu lama setelah ekstraksi dari buah. Keterlambatan penanaman akan mengakibatkan kerusakan pada kecambah seperti bakal akar dan daun menjadi panjang dan mudah patah, rentan terserang jamur, atau menjadi tidak segar. Idealnya biji segera ditanam atau dikecambahkan setelah proses seleksi selesai dengan penyimpanan sementara pada kondisi optimal.

5. Apa dampak menggunakan biji sawit yang tidak berkualitas?

Penggunaan biji sawit tidak berkualitas akan menghasilkan kontaminasi dura yang mengurangi produksi TBS dan CPO hingga 50%, rendemen CPO maksimal hanya 18%, produktivitas rendah, kesulitan mengembalikan kredit, konflik dengan PKS, serta kerugian finansial karena investasi tidak optimal. Tanaman juga lebih rentan terhadap penyakit dan memiliki umur produktif yang lebih pendek.

6. Apakah pembibitan kelapa sawit harus dilakukan dua tahap?

Pembibitan kelapa sawit sangat direkomendasikan dilakukan dua tahap (double stage) yaitu pre nursery minimal 3 bulan kemudian main nursery. Pembibitan satu tahap hanya direkomendasikan untuk bibit kurang dari 2.000 batang. Pembibitan dua tahap lebih menjamin kualitas bibit karena melalui beberapa tahapan seleksi dan menghasilkan bibit yang lebih sehat dan produktif.

7. Bagaimana cara merawat biji sawit setelah ditanam?

Perawatan biji sawit setelah ditanam meliputi penyiraman teratur dengan volume 300 ml per batang per hari di pre nursery dan 3 liter per batang per hari di main nursery, pemupukan sesuai rekomendasi varietas, pengendalian gulma secara rutin, pengaturan jarak tanam minimal 70 cm x 70 cm di main nursery, serta pemantauan berkala terhadap serangan hama dan penyakit. Bibit juga harus mendapat perlindungan dari sinar matahari langsung pada fase awal pertumbuhan.

```

(kpl/fed)

Rekomendasi
Trending