Hindari 6 Finishing Kayu Ini agar Kamar Mandi Tetap Terlihat Modern dan Bersih

Hindari 6 Finishing Kayu Ini agar Kamar Mandi Tetap Terlihat Modern dan Bersih
finishing kayu ketinggalan zaman yang bisa dihindari (AI Generated)

Kapanlagi.com - Memilih finishing kayu untuk kamar mandi bukan hanya soal selera, tetapi juga berpengaruh terhadap tampilan keseluruhan ruangan. Warna, tekstur, hingga efek akhir pada permukaan kayu dapat menciptakan kesan luas, hangat, atau justru membuat ruang terlihat berat dan kurang segar.

Seiring berkembangnya tren desain interior, sejumlah jenis finishing kayu yang sempat menjadi favorit mulai ditinggalkan. Selain karena tampilannya dianggap tidak lagi selaras dengan gaya modern, beberapa di antaranya juga dinilai kurang ideal digunakan pada ruangan dengan tingkat kelembapan tinggi seperti kamar mandi.

Jika sedang berencana memperbarui interior kamar mandi, ada beberapa pilihan finishing kayu yang sebaiknya dipertimbangkan kembali. Berikut sembilan jenis finishing yang kini mulai ditinggalkan beserta alasan di balik perubahan tren tersebut.

1. Warna Kayu Gelap Mulai Kehilangan Daya Tarik

Finishing cherry wood atau kayu ceri pernah identik dengan kesan mewah berkat warna merah gelapnya. Kini, tampilan tersebut dinilai terlalu berat sehingga kurang menyatu dengan konsep kamar mandi modern yang cenderung terang dan sederhana.

Ketika dipadukan dengan keramik bermotif atau dinding berwarna cerah, finishing ini dapat menciptakan kontras yang berlebihan sehingga komposisi ruangan terasa kurang seimbang.

Hal serupa juga terjadi pada mahoni gelap dan espresso gelap. Warna yang sangat pekat membuat kamar mandi tampak lebih sempit sekaligus mengurangi kesan terang. Pada finishing espresso, warna gelap bahkan dapat menutupi karakter alami serat kayu yang justru menjadi nilai estetik material tersebut.

2. Gaya Klasik Berlebihan Mulai Ditinggalkan

Finishing kayu imitasi antik sempat menjadi pilihan untuk menghadirkan nuansa klasik. Efek kayu yang sengaja dibuat tampak tua kini justru dianggap berlebihan dan kurang cocok untuk desain interior masa kini.

Kesan "tua buatan" juga membuat kamar mandi terlihat lebih ramai secara visual, sehingga mengurangi nuansa bersih yang biasanya diharapkan dari area ini.

Selain itu, honey oak yang populer pada era 1980-an juga mulai ditinggalkan. Warna kuning keemasannya sering dianggap memberikan kesan kuno dan kurang serasi dengan konsep minimalis modern.

3. Warna Terlalu Dingin atau Terlalu Terang Tidak Lagi Favorit

Finishing kayu putih polos memang mampu menghadirkan kesan bersih. Namun tanpa perpaduan material atau warna lain, tampilannya bisa terasa datar dan minim karakter.

Sementara itu, maple bernuansa oranye juga semakin jarang digunakan. Warna hangat yang terlalu mencolok dinilai kurang alami dan dapat membuat suasana kamar mandi terasa kurang nyaman, terutama pada ruangan berukuran kecil.

Finishing abu-abu juga mengalami penurunan popularitas. Apabila digunakan secara dominan bersama elemen netral lainnya, kamar mandi dapat terlihat terlalu dingin, steril, dan kehilangan kesan hangat.

4. Finishing yang Kurang Ideal untuk Area Lembap

Selain mempertimbangkan estetika, ketahanan material juga menjadi faktor penting di kamar mandi.

Finishing glaze atau glasir memang mampu memberikan efek kedalaman pada permukaan kayu. Namun lapisan ini dinilai kurang ideal untuk ruangan dengan kelembapan tinggi.

Dalam jangka panjang, glasir dapat berubah menjadi kekuningan sehingga furnitur tampak lebih tua. Proses perbaikannya pun relatif lebih rumit dan membutuhkan biaya lebih besar dibanding beberapa jenis finishing lainnya.

5. Finishing Natural Kini Lebih Banyak Dipilih

Perubahan tren membuat banyak desainer interior beralih ke finishing kayu dengan warna yang lebih terang, lembut, dan mendekati warna alami kayu.

Nuansa netral seperti cokelat muda, beige, maupun finishing dengan tampilan matte atau semi-matte dinilai mampu menciptakan kamar mandi yang terasa lebih lapang, bersih, sekaligus tetap hangat.

Pilihan tersebut juga dianggap lebih mudah dipadukan dengan berbagai konsep interior sehingga tampilannya tidak cepat terlihat usang meski tren desain terus berkembang.

6. Mengapa Finishing Lama Mulai Ditinggalkan?

Perubahan tren desain interior membuat banyak pemilik rumah lebih menyukai kamar mandi yang terasa terang, lapang, dan nyaman. Karena itu, finishing kayu dengan warna yang terlalu gelap, terlalu kuning, atau memiliki efek dekoratif berlebihan mulai ditinggalkan.

Selain memengaruhi tampilan visual, beberapa jenis finishing juga kurang cocok untuk lingkungan yang lembap. Lapisan tertentu lebih mudah berubah warna seiring waktu atau memerlukan perawatan ekstra agar tetap terlihat baik.

Atas alasan tersebut, pemilihan finishing kini tidak hanya mempertimbangkan estetika, tetapi juga ketahanan material serta kemudahan perawatan agar tampilannya tetap menarik dalam jangka panjang.

7. Pilihan Finishing Kayu yang Lebih Sesuai untuk Kamar Mandi Modern

Jika ingin menghadirkan nuansa kamar mandi yang lebih mengikuti tren saat ini, banyak desainer menyarankan penggunaan finishing dengan warna kayu alami atau netral. Nuansa seperti cokelat muda, beige, hingga warna kayu natural dinilai lebih fleksibel dipadukan dengan berbagai konsep interior.

Selain pilihan warna, jenis lapisan akhir juga ikut menentukan hasil akhir ruangan. Finishing matte maupun semi-matte kini lebih banyak dipilih karena mampu menampilkan tekstur asli kayu tanpa memberikan efek mengilap yang berlebihan.

Kombinasi warna natural dengan pencahayaan yang baik dapat membuat kamar mandi terasa lebih bersih, hangat, sekaligus memberikan kesan ruang yang lebih luas. Pendekatan ini juga dinilai lebih tahan terhadap perubahan tren dibanding penggunaan warna-warna yang terlalu kuat atau dekoratif.

(kpl/mda)

Rekomendasi

Trending