Ibadah Sunnah Saat Haji dan Panduan Lengkap Cara Melaksanakannya
5. Cara Menjalankan Sunnah Sa'i antara Shafa dan Marwah (c) unsplash.com
Kapanlagi.com - Ibadah sunnah saat haji merupakan amalan-amalan yang sangat dianjurkan untuk menyempurnakan rangkaian ibadah haji. Meskipun tidak wajib, amalan-amalan ini memberikan pahala besar dan menjadi wujud keteladanan terhadap Rasulullah SAW.[3]
Dalam pelaksanaan haji, terdapat tiga kategori amalan yaitu rukun, wajib, dan sunnah. Setiap ibadah sunnah saat haji yang dikerjakan akan menambah kesempurnaan ibadah dan mendekatkan jamaah kepada Allah SWT.[1]
Sheikh Muhammad Saleh Al-Munajjid menyatakan, "Rukun-rukun haji ada empat, amalan wajib ada tujuh, dan segala sesuatu selain rukun dan amalan wajib adalah sunnah."[2] Dengan memahami panduan ini secara menyeluruh, jamaah dapat menjalankan setiap ritual haji sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Advertisement
Para ulama menekankan bahwa jamaah dianjurkan untuk tidak meninggalkan amalan-amalan sunnah demi meneladani Nabi, meskipun tidak ada konsekuensi khusus jika meninggalkannya.[8] Memahami pengertian haji beserta rukun dan kewajibannya menjadi langkah awal yang penting sebelum mempelajari sunnah-sunnahnya.
1. Cara Melaksanakan Sunnah Ihram Saat Haji
Ibadah sunnah saat haji dimulai sejak proses ihram, yang merupakan pintu gerbang memasuki rangkaian ibadah haji. Ihram bukan sekadar mengenakan pakaian khusus, tetapi merupakan kondisi spiritual dan lahiriah yang menandai dimulainya ibadah.[3] Beberapa amalan sunnah terkait ihram dapat dilaksanakan untuk menyempurnakan proses ini.
Mandi sunnah sebelum ihram: Lakukan mandi besar (ghusl) untuk membersihkan seluruh badan sebelum mengenakan pakaian ihram. Mandi untuk ihram merupakan sunnah bagi laki-laki dan perempuan, termasuk perempuan yang sedang mengalami haid atau nifas.[9]
Membersihkan diri secara menyeluruh: Potong kuku, rapikan kumis, cabut bulu ketiak, dan cukur bulu kemaluan sebagai bagian dari persiapan diri sebelum memasuki keadaan ihram.[4]
Memakai minyak wangi pada badan: Oleskan minyak wangi atau parfum pada badan (bukan pada pakaian ihram) sebelum berniat ihram. Hal ini dilakukan sesuai contoh Rasulullah SAW yang dianjurkan oleh istri beliau, Aisyah RA.[9]
Mengenakan kain ihram berwarna putih: Bagi laki-laki, kenakan dua lembar kain putih yang tidak dijahit, yaitu izar (kain bawah) dan rida (kain atas). Warna putih dianjurkan karena melambangkan kesucian dan kesetaraan di hadapan Allah SWT.[7]
Shalat sebelum ihram: Lakukan shalat dua rakaat sebelum memulai ihram jika waktunya memungkinkan, kemudian ucapkan niat sesuai jenis haji yang dipilih.[4]
Membaca doa keikhlasan: Setelah berniat, ucapkan doa keikhlasan untuk menjaga niat tetap lurus semata-mata karena Allah SWT.[4]
Baca juga: Cara Menggunakan Kain Ihram untuk Jamaah Haji dan Umrah
2. Cara Mengamalkan Sunnah Talbiyah Selama Ibadah Haji
Membaca talbiyah merupakan salah satu ibadah sunnah saat haji yang paling sering dikumandangkan sepanjang pelaksanaan ibadah. Bacaan talbiyah bukan sekadar ritual verbal, tetapi juga merupakan bentuk pengakuan ketundukan penuh kepada Allah SWT.[3]
Lafalkan talbiyah segera setelah berniat ihram: Ucapkan bacaan talbiyah setelah selesai berniat. Bagi laki-laki, disunnahkan mengeraskan suara, sedangkan perempuan cukup melafalkannya secara pelan.[9]
Perbanyak talbiyah di setiap perubahan waktu dan tempat: Bacaan talbiyah dianjurkan diperbanyak terutama saat naik-turun kendaraan, perpindahan tempat, saat datangnya waktu siang atau malam, dan di setiap kesempatan selama ibadah.[9]
Teruskan talbiyah hingga waktu yang ditentukan: Untuk ibadah haji, talbiyah terus dibaca sejak ihram hingga mulai melempar Jumrah Aqabah pada hari Idul Adha (10 Dzulhijjah).[9]
Iringi talbiyah dengan doa: Selain membaca talbiyah, perbanyak juga doa memohon ridha Allah, surga, dan perlindungan dari siksa neraka.[9]
Salah satu cara mengiringi keberangkatan jamaah adalah dengan mendoakan orang yang berangkat haji menggunakan bacaan doa dalam bahasa Arab.
3. Cara Melaksanakan Tawaf Qudum sebagai Ibadah Sunnah Saat Haji
Tawaf qudum adalah tawaf sambutan yang dilakukan saat pertama kali tiba di Makkah, sebagai bentuk penghormatan terhadap Ka'bah. Ibadah sunnah saat haji ini dianjurkan bagi setiap jamaah haji yang bukan penduduk Makkah.[1]
Mandi sebelum memasuki Makkah: Disunnahkan untuk mandi terlebih dahulu sebelum memasuki kota suci Makkah, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.[9]
Masuk Masjidil Haram dengan mendahulukan kaki kanan: Masuki masjid dengan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid, memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.[4]
Lakukan tawaf sebanyak tujuh putaran: Kelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali putaran searah berlawanan jarum jam, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir kembali di Hajar Aswad.[1]
Lakukan raml pada tiga putaran pertama: Berjalanlah dengan langkah cepat dan pendek (raml) pada tiga putaran pertama, kemudian berjalan biasa pada empat putaran sisanya. Amalan ini khusus untuk tawaf qudum.[1]
Lakukan idhtiba' selama tawaf: Buka bahu kanan dengan meletakkan bagian tengah kain rida di bawah ketiak kanan dan menyelempangkan ujungnya di bahu kiri.[1]
Baca juga: Tata Cara Umrah Sesuai Syariat
4. Cara Melaksanakan Sunnah Thawaf dan Shalat di Belakang Maqam Ibrahim
Setelah menyelesaikan tawaf, terdapat beberapa amalan sunnah penting yang berkaitan dengan interaksi jamaah terhadap Ka'bah dan sekitarnya. Rangkaian ibadah sunnah saat haji ini mencakup shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim dan minum air zamzam.
Cium atau usap Hajar Aswad: Jika memungkinkan, cium Hajar Aswad di awal tawaf. Jika tidak memungkinkan karena kepadatan, sentuh dengan tangan, atau cukup memberi isyarat ke arahnya sambil bertakbir.[1]
Usap Rukun Yamani: Saat melewati Rukun Yamani (sudut Ka'bah sebelum Hajar Aswad), usaplah dengan tangan kanan jika memungkinkan tanpa berdesakan.[1]
Berdoa di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad: Bacalah doa "Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina 'adzab an-nar" saat berjalan di antara kedua rukun tersebut.[1]
Shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim: Setelah tawaf selesai, laksanakan shalat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Pada rakaat pertama disunnahkan membaca Surah Al-Kafirun, dan rakaat kedua membaca Surah Al-Ikhlas.[1]
Minum air zamzam: Setelah shalat, minumlah air zamzam sambil berdoa memohon kebaikan kepada Allah SWT, karena air zamzam memiliki keutamaan sesuai niat peminumnya.[4]
Keutamaan air zamzam dan doa ketika meminumnya telah diriwayatkan dalam banyak hadis. Pastikan untuk membedakan air zamzam asli dan palsu saat membawa oleh-oleh.
5. Cara Menjalankan Sunnah Sa'i antara Shafa dan Marwah
Sa'i merupakan salah satu rangkaian ibadah haji yang di dalamnya juga terdapat beberapa amalan sunnah. Menjalankan ibadah sunnah saat haji dalam sa'i akan memperkaya pengalaman spiritual jamaah saat berjalan antara dua bukit tersebut.[4]
Usap Hajar Aswad sebelum memulai sa'i: Sebelum menuju bukit Shafa, kembali mengusap Hajar Aswad jika memungkinkan, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.[1]
Bacalah ayat Al-Baqarah 158 saat mendekati Shafa: Ketika mendekati bukit Shafa untuk pertama kali, disunnahkan membaca ayat yang menyatakan bahwa Shafa dan Marwah termasuk syiar-syiar Allah.[1]
Naiki bukit Shafa dan berdoa menghadap Kiblat: Naiklah ke bukit Shafa, hadapkan wajah ke arah Ka'bah, kemudian bertakbir tiga kali dan berdoa dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW.[5]
Berlari kecil di antara dua tanda hijau: Bagi laki-laki, berlarilah kecil dengan sungguh-sungguh saat berada di antara dua tanda hijau (bainal milain), kemudian berjalan biasa di luar area tersebut.[4]
Ulangi doa di bukit Marwah: Saat tiba di Marwah, lakukan hal yang sama seperti di Shafa yaitu menghadap Kiblat, bertakbir, dan berdoa.[1]
6. Cara Melaksanakan Ibadah Sunnah Saat Haji di Hari Arafah
Hari Arafah merupakan puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji. Kristiane Backer, penulis buku From MTV to Mecca, menyatakan, "Esensi haji adalah Arafah, pada hari kesembilan bulan haji seluruh jamaah berkumpul di dataran besar Arafah untuk memanjatkan doa terdalam mereka."[6] Terdapat beberapa sunnah penting untuk dilaksanakan di hari Arafah.
Berihram untuk haji pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah): Bagi jamaah yang melaksanakan haji tamattu', kenakan kembali ihram pada tanggal 8 Dzulhijjah dengan melakukan mandi sunnah dan memakai wewangian, sebagaimana saat ihram pertama.[4]
Bermalam di Mina pada malam Arafah: Berangkatlah ke Mina pada sore hari tanggal 8 Dzulhijjah, laksanakan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh di sana.[4]
Berangkat menuju Arafah setelah matahari terbit: Pada tanggal 9 Dzulhijjah setelah matahari terbit, berjalanlah menuju Arafah dengan tenang dan penuh kekhusyukan.[4]
Menjamak shalat Zhuhur dan Ashar di Namirah: Laksanakan shalat Zhuhur dan Ashar secara jamak taqdim dan qashar di Masjid Namirah, sesuai sunnah Rasulullah SAW.[7]
Perbanyak doa dan dzikir di Arafah: Manfaatkan waktu dari setelah Zhuhur hingga terbenam matahari untuk berdoa, berdzikir, dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Menghadaplah ke arah Kiblat saat berdoa di Arafah.[4]
Tidak meninggalkan Arafah sebelum matahari tenggelam: Disunnahkan untuk tetap berada di Arafah hingga matahari benar-benar tenggelam, kemudian baru bergerak menuju Muzdalifah dengan tenang.[3]
Baca juga: Ucapan Lebaran Haji yang Menyentuh Hati
7. Cara Melaksanakan Sunnah Mabit di Muzdalifah
Setelah meninggalkan Arafah, jamaah haji menuju Muzdalifah untuk bermalam. Berikut langkah-langkah yang dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah sunnah saat haji di Muzdalifah.[3]
Bergerak menuju Muzdalifah dengan tenang: Saat meninggalkan Arafah, berjalanlah dengan tenang (sakinah) dan penuh ketenangan batin, tidak terburu-buru atau berdesakan.[4]
Jamak shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah: Setibanya di Muzdalifah, laksanakan shalat Maghrib dan Isya secara jamak ta'khir. Shalat Isya dikerjakan dengan qashar (dua rakaat).[4]
Bermalam di Muzdalifah hingga Subuh: Disunnahkan menetap di Muzdalifah sampai menjelang waktu Subuh. Manfaatkan waktu untuk beristirahat dan mengumpulkan kerikil untuk melempar jumrah.[3]
Shalat Subuh di awal waktu: Laksanakan shalat Subuh di awal waktu di Muzdalifah, kemudian berdoa di Masy'aril Haram menghadap Kiblat hingga langit mulai menerang.[4]
Berangkat menuju Mina sebelum matahari terbit: Setelah shalat Subuh dan berdoa, bergeraklah menuju Mina sebelum matahari terbit untuk melaksanakan rangkaian ibadah selanjutnya.[4]
8. Cara Melaksanakan Sunnah saat Melempar Jumrah Aqabah
Hari ke-10 Dzulhijjah dikenal sebagai Yawm an-Nahr atau Hari Raya Kurban yang merupakan hari terbesar dalam ibadah haji.[7] Pelaksanaan lempar jumrah juga memiliki sejumlah sunnah yang menyempurnakan ibadah sunnah saat haji.
Hentikan bacaan talbiyah: Berhenti membaca talbiyah saat mulai melempar Jumrah Aqabah, karena talbiyah telah berakhir saat dimulainya ritual ini.[9]
Lempar tujuh kerikil sambil bertakbir: Lemparkan tujuh kerikil secara berurutan ke Jumrah Aqabah. Setiap lemparan diiringi dengan ucapan takbir "Allahu Akbar".[9]
Gunakan tangan kanan saat melempar: Disunnahkan menggunakan tangan kanan untuk melempar kerikil, dengan ukuran kerikil sebesar biji kacang atau kerikil kecil.[5]
Urutkan ritual Hari Kurban: Setelah melempar Jumrah Aqabah, lakukan penyembelihan hewan kurban, kemudian mencukur atau memotong rambut, lalu tawaf ifadhah. Urutan ini sesuai sunnah Rasulullah SAW.[4]
9. Cara Melaksanakan Sunnah Mabit di Mina pada Hari Tasyrik
Hari-hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) merupakan waktu bagi jamaah untuk bermalam di Mina dan melanjutkan rangkaian lempar jumrah. Mabit di Mina termasuk amalan yang memiliki makna spiritual tinggi dan merupakan bagian penting dari ibadah sunnah saat haji.[3]
Bermalam di Mina selama hari Tasyrik: Setelah kembali dari tawaf ifadhah, kembalilah ke Mina untuk bermalam selama hari Tasyrik. Jamaah menginap di tenda-tenda yang telah disediakan.[9]
Lempar tiga jumrah setiap hari setelah waktu Zhuhur: Pada hari ke-11 dan ke-12 Dzulhijjah, lempar tiga jumrah berturut-turut mulai dari Jumrah Ula (terjauh dari Makkah), kemudian Jumrah Wustha, dan terakhir Jumrah Aqabah. Masing-masing dilempar dengan tujuh kerikil.[9]
Berdoa setelah melempar jumrah pertama dan kedua: Setelah melempar Jumrah Ula dan Wustha, berdirilah menghadap Kiblat dan berdoa. Ini merupakan waktu yang mustajab untuk bermunajat.[9]
Pilih nafar awal atau nafar tsani: Jamaah boleh meninggalkan Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah (nafar awal) setelah selesai melempar jumrah. Namun, untuk lebih sempurna, disunnahkan bermalam hingga tanggal 13 Dzulhijjah (nafar tsani).[3]
Baca juga: Bacaan Niat Haji Lengkap dengan Artinya
10. Cara Melaksanakan Tawaf Wada' sebagai Penutup Ibadah Haji
Tawaf wada' atau tawaf perpisahan merupakan amalan sunnah penutup dari seluruh rangkaian haji. Disunnahkan untuk menjadikan tawaf ini sebagai amalan terakhir sebelum meninggalkan Makkah, sebagai penghormatan terakhir terhadap Baitullah.[1]
Laksanakan tawaf wada' sebelum meninggalkan Makkah: Tawaf perpisahan dilakukan sebanyak tujuh putaran mengelilingi Ka'bah sebagai penutup ibadah haji.[3]
Jadikan tawaf wada' sebagai amalan terakhir di Makkah: Setelah tawaf wada', disunnahkan untuk langsung meninggalkan Makkah tanpa berlama-lama, sehingga ibadah terakhir di kota suci adalah tawaf.[1]
Shalat dua rakaat setelah tawaf: Seperti pada tawaf lainnya, setelah tawaf wada' laksanakan shalat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim atau di mana saja di area Masjidil Haram.[1]
Berdoa dengan khusyuk: Manfaatkan momen terakhir di Masjidil Haram untuk berdoa memohon agar ibadah haji diterima dan menjadi haji mabrur yang diampuni segala dosanya.[6]
Setelah pulang dari Tanah Suci, keluarga dan kerabat biasanya memberikan ucapan selamat kepada jamaah yang pulang dari ibadah sebagai bentuk ukhuwah islamiyah.
11. Perbedaan Rukun, Wajib, dan Sunnah dalam Ibadah Haji
Memahami perbedaan antara rukun, wajib, dan sunnah merupakan fondasi penting agar jamaah dapat menjalankan ibadah haji dengan tepat dan benar. Para ulama membagi seluruh amalan haji ke dalam tiga kategori utama yang masing-masing memiliki konsekuensi berbeda.[3]
Rukun Haji (Arkaan): Merupakan amalan yang paling kritis dan tidak boleh ditinggalkan. Jika salah satu rukun tidak dikerjakan, maka ibadah haji menjadi tidak sah dan tidak dapat diganti dengan denda apapun. Rukun haji terdiri dari ihram, wukuf di Arafah, tawaf ifadhah, dan sa'i antara Shafa dan Marwah.[2]
Wajib Haji (Wajibaat): Amalan yang harus dilaksanakan, namun jika tertinggal, ibadah haji tetap sah dengan syarat jamaah membayar dam (denda berupa penyembelihan hewan kurban). Wajib haji meliputi ihram dari miqat, melempar jumrah, menginap di Muzdalifah, menginap di Mina, tawaf wada', dan mencukur atau memotong rambut.[2]
Sunnah Haji (Sunan): Amalan yang sangat dianjurkan namun tidak wajib. Meninggalkan sunnah tidak memengaruhi keabsahan haji dan tidak memerlukan pembayaran denda. Namun, jamaah yang meninggalkannya kehilangan pahala besar dan keutamaan meneladani Rasulullah SAW.[2]
Untuk memahami lebih lanjut mengenai rukun haji dan kewajibannya, jamaah perlu mempelajari setiap amalan secara mendetail sebelum keberangkatan. Persiapan dimulai jauh sebelum berangkat, termasuk memahami cara mendaftar haji reguler di Indonesia.
12. Hikmah dan Makna Spiritual di Balik Ibadah Sunnah Saat Haji
Setiap ibadah sunnah saat haji bukan sekadar ritual fisik, tetapi juga mengandung dimensi spiritual yang sangat mendalam. Haji digambarkan sebagai perjalanan transformatif yang menyatukan jutaan umat Muslim dari beragam latar belakang dalam satu tujuan bersama, yaitu kedekatan kepada Allah SWT.[6] Kristiane Backer merenungkan, "Di antara pelajaran yang saya petik dari haji adalah bahwa saya perlu senantiasa menjaga kesadaran dan koneksi batin dengan Tuhan."[6]
Secara historis, ritual-ritual haji merupakan pengulangan kembali (re-enactment) dari pengalaman para nabi terdahulu. Jamaah secara simbolis menghidupkan kembali pengalaman pengasingan dan penebusan dosa yang dialami Nabi Adam dan Hawa, serta perjuangan Hajar mencari air untuk putranya Ismail di antara bukit Shafa dan Marwah.[6] Pemahaman ini memberikan kedalaman makna pada setiap langkah ibadah yang dilakukan.
Pesan spiritual penting lainnya dari haji adalah kerendahan hati di hadapan Allah SWT dan kesadaran bahwa semua manusia adalah setara. Pakaian ihram yang sederhana dan seragam menghapus perbedaan status sosial, kekayaan, dan ras di antara jamaah.[7] Faisal Kutty, pengajar hukum komparatif, menekankan bahwa "hasil dari haji yang sukses adalah kedamaian batin yang mendalam, yang terwujud secara lahiriah dalam nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan kasih sayang."[6]
Makna spiritual haji juga dirasakan oleh jamaah Indonesia yang setiap tahunnya menunaikan ibadah haji di berbagai usia. Pengalaman spiritual ini sering diungkapkan melalui refleksi mendalam tentang makna ibadah haji yang terus membekas sepanjang hidup.
13. Amalan Sunnah Tambahan yang Sering Terlupakan Saat Haji
Selain amalan-amalan utama yang telah dibahas, terdapat sejumlah ibadah sunnah saat haji yang sering luput dari perhatian jamaah. Amalan-amalan ini merupakan pelengkap yang memperkaya pengalaman spiritual selama di Tanah Suci.[4]
Iltizam di Ka'bah: Menempelkan dada, wajah, dan lengan pada dinding Ka'bah di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, sambil berdoa memohon ampunan dan kebaikan kepada Allah SWT.[1]
Memperbanyak dzikir dan istighfar: Senantiasa mengingat Allah dengan membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar di setiap kesempatan selama berada di Tanah Suci.[4]
Membaca Al-Quran: Meningkatkan ibadah dengan membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Quran, terutama di waktu-waktu luang selama menunggu pelaksanaan ritual.[4]
Bersedekah dan berbuat baik: Memperbanyak sedekah kepada fakir miskin dan sesama jamaah sebagai bentuk latihan keikhlasan dan kepedulian sosial.[4]
Menjaga akhlak dan kesabaran: Menghindari perkataan dan perbuatan buruk selama ibadah haji, karena sebagaimana diriwayatkan dalam hadis shahih, "Barangsiapa yang menunaikan haji karena Allah dan tidak berkata keji serta tidak berbuat fasik, maka ia kembali dalam keadaan bersih dari dosa seperti baru dilahirkan."[5]
Bertahmid, bertasbih, dan bertakbir sebelum memulai ihram: Perbanyak membaca kalimat-kalimat pujian kepada Allah sebelum resmi memasuki keadaan ihram.[1]
Berihram menghadap Kiblat: Saat mengucapkan niat ihram, disunnahkan untuk menghadap ke arah Kiblat, mengikuti sunnah Rasulullah SAW.[1]
Berbagai amalan sunnah ini juga berlaku saat melaksanakan umrah. Bagi yang ingin memahami lebih lanjut, bisa mempelajari doa untuk orang yang berangkat ibadah umroh sebagai referensi tambahan.
14. FAQ
Apa yang dimaksud dengan ibadah sunnah saat haji?
Ibadah sunnah saat haji adalah amalan-amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW selama pelaksanaan haji. Amalan ini tidak wajib dikerjakan, namun jika dilaksanakan akan mendapatkan pahala dan menyempurnakan ibadah haji. Meninggalkannya tidak membatalkan haji dan tidak memerlukan pembayaran denda.[2]
Apa saja sunnah haji yang paling utama?
Beberapa sunnah haji yang paling utama meliputi mandi sebelum ihram, memakai wewangian sebelum ihram, membaca talbiyah dengan suara lantang, melaksanakan tawaf qudum, shalat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, minum air zamzam, dan bermalam di Mina pada malam Arafah. Setiap sunnah ini memiliki dasar dari praktik Rasulullah SAW.[1]
Apakah meninggalkan sunnah haji akan membatalkan ibadah haji?
Tidak. Meninggalkan ibadah sunnah saat haji tidak membatalkan ibadah haji dan tidak memerlukan pembayaran denda. Namun, jamaah yang meninggalkannya akan kehilangan keutamaan dan pahala dari meneladani Rasulullah SAW. Oleh karena itu, para ulama tetap menganjurkan agar sunnah tidak ditinggalkan.[2]
Apa perbedaan sunnah haji dan wajib haji?
Wajib haji adalah amalan yang harus dilaksanakan, dan jika tertinggal maka jamaah wajib membayar dam berupa penyembelihan hewan kurban, tetapi hajinya tetap sah. Sementara sunnah haji tidak memiliki konsekuensi apapun jika tidak dikerjakan, hanya saja jamaah kehilangan pahala tambahan dan keutamaan meneladani Nabi.[2] Memahami perbedaan ini penting bagi setiap jamaah maupun petugas haji.
Bagaimana cara membaca talbiyah yang benar saat haji?
Talbiyah dibaca dengan lafal "Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, la syarika lak." Bagi laki-laki, disunnahkan membacanya dengan suara lantang, sedangkan perempuan cukup membacanya dengan suara pelan. Talbiyah dibaca terus-menerus sejak ihram hingga mulai melempar Jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah.[9]
Apakah sunnah haji berbeda untuk laki-laki dan perempuan?
Secara umum, ibadah sunnah saat haji berlaku sama bagi laki-laki dan perempuan. Perbedaan utamanya terletak pada pakaian ihram, volume suara talbiyah, serta beberapa detail seperti tidak disyariatkannya raml (berlari kecil) dalam tawaf dan sa'i bagi perempuan. Untuk pemotongan rambut, perempuan cukup memotong ujung rambut sepanjang ujung jari.[4]
Kapan waktu terbaik untuk berdoa selama ibadah haji?
Waktu-waktu terbaik untuk berdoa selama ibadah haji antara lain saat wukuf di Arafah (dari siang hingga matahari terbenam), setelah melempar jumrah pertama dan kedua, di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad saat tawaf, serta saat berada di bukit Shafa dan Marwah. Hari Arafah secara khusus dianggap sebagai waktu paling utama untuk berdoa dalam seluruh rangkaian haji.[5] Bagi keluarga di rumah, mendoakan jamaah melalui doa yang tulus juga menjadi amalan yang dianjurkan.
Daftar Referensi
- IslamQA.info. Obligatory Acts of Hajj. Diakses pada 24 April 2026, dari https://islamqa.info/en/answers/223333/obligatory-acts-of-hajj
- AboutIslam.net. Essential, Obligatory, and Sunnah Actions of Hajj. Diakses pada 24 April 2026, dari https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/hajj/what-actions-of-hajj-are-essential-obligatory-and-sunnah/
- AlMaghrib Institute. The Simple Guide to Hajj: Step-by-Step. Diakses pada 24 April 2026, dari https://www.almaghrib.org/2025/05/16/the-simple-guide-to-hajj-step-by-step/
- Explore-Islam.com. What Are Sunnah Acts of Hajj? Full Guide. Diakses pada 24 April 2026, dari https://explore-islam.com/sunnah-acts-of-hajj/
- Sunnah.com. Hajj (Pilgrimage) – Sahih al-Bukhari, Book 25. Diakses pada 24 April 2026, dari https://sunnah.com/bukhari/25
- WhyIslam.org. Exploring the Significance of Hajj: A Spiritual Journey. Diakses pada 24 April 2026, dari https://www.whyislam.org/universal-lessons-of-hajj/
- Wikipedia. Hajj. Diakses pada 24 April 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Hajj
- IslamWeb.net. Pillars of Hajj, Its Obligatory Acts and Sunnah Acts. Diakses pada 24 April 2026, dari https://www.islamweb.net/en/article/147886/pillars-of-hajj-its-obligatory-acts-and-sunnah-acts
- Princeton University. How to Perform Hajj – Umrah Guide. Diakses pada 24 April 2026, dari https://www.princeton.edu/~humcomp/hajjguide.html
(kpl/psp)
Advertisement
D Academy 8
-
Dangdut Academy Mila Nurwanti Sebut April Sebagai Pesaing Terberat di D'Academy