Kepribadian Orang yang Tidak Merasa Perlu Mengikuti Tren agar Dianggap Sukses

Kepribadian orang yang tidak merasa perlu mengikuti tren agar dianggap sukses. Foto oleh Ilyasick Ph
Kapanlagi.com - Dalam situasi sosial yang kerap menilai kemapanan berdasarkan pola hidup, prestasi, maupun kepemilikan materi, terdapat individu yang memutuskan untuk menjalani keseharian sesuai prinsip pribadinya. Kepribadian orang yang tidak merasa perlu mengikuti tren agar dianggap sukses menunjukkan bahwa seseorang dapat memiliki prinsip hidup sendiri tanpa harus mengikuti standar keberhasilan orang lain.
Bagi kelompok tertentu, pilihan tersebut bukanlah bentuk ketidakpedulian terhadap dinamika zaman, melainkan wujud pemahaman mendalam mengenai prioritas hidup mereka. Kelompok ini biasanya memegang teguh keyakinan personal dan tidak menempatkan validasi masyarakat sebagai parameter tunggal dalam mendefinisikan pencapaian.
Secara psikologis, fenomena ini berhubungan dengan gagasan self-determination theory atau teori determinasi diri yang dirumuskan oleh pakar psikologi Edward Deci dan Richard Ryan. Konsep tersebut menitikberatkan pada krusialnya dorongan internal, yang mencakup keperluan manusia untuk memegang kendali penuh atas keputusan serta tujuan hidupnya masing-masing.
Advertisement
1. Memiliki Prinsip Hidup yang Kuat

Salah satu karakteristik orang yang tidak merasa perlu mengikuti tren agar dianggap sukses adalah memiliki prinsip hidup yang cukup kuat. Mereka paham kalau setiap orang memiliki perbedaan tujuan, kebutuhan, dan kondisi kehidupan sehingga tidak semua standar kesuksesan orang lain harus dijadikan pedoman.
Biasanya, orang dengan karakteristik ini mempertimbangkan manfaat tren sebelum memutuskan mengikutinya. Jika sesuatu tidak sesuai dengan kebutuhan atau nilai pribadinya, mereka tidak merasa harus memaksakan diri hanya supaya terlihat up-to-date.
Sikap tersebut berkaitan dengan konsep otonomi dalam self-determination theory. Menurut Richard Ryan dan Edward Deci, kebutuhan psikologis dasar manusia mencakup otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial. Ketiganya berperan dalam mendukung motivasi dan perkembangan individu.
2. Tidak Bergantung pada Validasi Orang Lain

Dalam mengambil keputusan, orang yang tidak gampang mengikuti tren biasanya tidak menjadikan pendapat orang lain sebagai penentu utama. Mereka tetap bisa menerima masukan, tetapi tidak merasa harus mendapatkan persetujuan semua orang untuk menjalani pilihan hidupnya.
Hal ini terlihat dari cara mereka memandang pencapaian. Dalam psikologi, perilaku yang terlalu bergantung pada pengakuan eksternal dapat berkaitan dengan motivasi yang dikendalikan oleh tekanan dari luar. Richard Ryan dan Edward Deci menjelaskan perbedaan antara motivasi otonom dan motivasi yang dikendalikan dalam wawancara dengan APA.
Edward Deci menjelaskan, perbedaan penting dalam motivasi terletak pada apakah seseorang bertindak atas kemauan sendiri atau karena dorongan dan tekanan dari luar.
3. Lebih Fokus pada Tujuan Pribadi

Daripada sibuk mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan, orang dengan karakteristik ini lebih memilih mengalokasikan waktu dan energinya untuk tujuan pribadi, daripada demi memenuhi ekspektasi sosial.
Tujuan tersebut tidak selalu berkaitan dengan pencapaian besar seperti memiliki jabatan tinggi atau kekayaan melimpah. Bagi sebagian orang, kesuksesan bisa berarti mempunyai pekerjaan yang nyaman, kehidupan keluarga yang harmonis, kondisi finansial yang stabil, atau waktu luang untuk menjalani hobi.
Kecenderungan ini sejalan dengan konsep motivasi intrinsik, yaitu dorongan untuk melakukan sesuatu karena aktivitas tersebut memberikan kepuasan atau memiliki makna pribadi. Orang yang memiliki motivasi intrinsik biasanya lebih mempertimbangkan nilai dan manfaat suatu aktivitas daripada sekadar penghargaan yang mungkin diperoleh.
4. Tidak Mudah Terpengaruh Perbandingan Sosial

Melihat pencapaian orang lain, terutama lewat media sosial, terkadang membuat seseorang merasa harus memiliki kehidupan yang sama. Misalnya pekerjaan bergengsi, rumah mewah, atau liburan ke luar negeri sering kali menjadi gambaran kesuksesan yang ditampilkan di ruang digital. Namun, orang yang tidak merasa perlu mengikuti tren biasanya lebih mampu membedakan antara kehidupan orang lain dan kebutuhan pribadinya.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Telematics and Informatics Reports pada 2024 menunjukkan adanya hubungan antara orientasi materialistis, kecenderungan membandingkan diri, penggunaan media sosial, gejala stres, dan tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa kebiasaan membandingkan kepemilikan dan gaya hidup dengan orang lain dapat berkaitan dengan kesejahteraan psikologis.
Karena itu, mereka yang tidak terlalu mengejar tren biasanya lebih memilih mengevaluasi kemajuan berdasarkan kondisi dirinya sendiri. Beberapa hal yang dapat menjadi ukuran keberhasilan pribadi antara lain:
- Kemampuan mencapai target yang sudah direncanakan.
- Perkembangan keterampilan dan pengetahuan.
- Kondisi finansial yang sesuai dengan kebutuhan.
- Hubungan sosial yang sehat dan suportif.
- Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
5. Memahami Perbedaan antara Kebutuhan dan Keinginan

Tidak semua tren harus diikuti, terutama jika hanya didorong oleh keinginan untuk terlihat sukses. Orang yang memiliki pertimbangan matang biasanya mampu membedakan hal yang benar-benar dibutuhkan dengan hal yang hanya menarik karena sedang populer saja.
Sebagai contoh, mereka tidak merasa perlu membeli ponsel baru hanya karena ada keluaran terbaru di pasaran. Selama ponsel yang digunakan masih berfungsi optimal dan mampu menunjang aktivitas sehari-hari, mereka tidak memiliki alasan untuk mengeluarkan uang demi mengikuti tren.
Kebiasaan ini juga membuat seseorang lebih bijak dalam mengatur keuangan. Dana yang seharusnya digunakan untuk memenuhi keinginan sesaat bisa dialokasikan ke hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti menabung, berinvestasi, membiayai pendidikan, atau memenuhi kebutuhan utama.
Hasil meta-analisis dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 2014 menunjukkan bahwa orientasi materialistis berkaitan dengan tingkat kesejahteraan pribadi yang lebih rendah. Artinya, menjadikan harta benda sebagai tolok ukur utama kehidupan tidak selalu membuat seseorang merasa lebih puas.
Dengan mengenali perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, seseorang bisa mengambil keputusan sesuai dengan prioritas hidupnya. Mereka tetap dapat menikmati perkembangan tren, tetapi tidak merasa harus selalu mengikutinya hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya telah berhasil.
6. Memiliki Rasa Percaya Diri yang Tidak Bergantung pada Penampilan

Seseorang yang tidak mudah terbawa tren biasanya memahami bahwa nilai diri tidak bergantung pada penampilan maupun barang yang dimiliki. Mereka tidak merasa harus mengenakan pakaian keluaran terbaru, memakai aksesoris mahal, atau menjalani gaya hidup tertentu agar bisa merasa percaya diri.
Pandangan tersebut membuat mereka lebih leluasa dalam menentukan pilihan hidup. Mereka tidak merasa perlu mengubah penampilan atau perilaku hanya demi memperoleh pengakuan dan penerimaan dari orang lain.
Dalam self-determination theory, kompetensi dan otonomi merupakan dua kebutuhan psikologis yang berperan dalam perkembangan individu. Perasaan mampu serta kebebasan untuk menentukan keputusan sendiri dapat membantu meningkatkan motivasi dan mendukung kesejahteraan psikologis.
Meski begitu, tidak mengikuti tren bukan berarti menutup diri dari perubahan. Mereka tetap terbuka untuk mencoba gaya, teknologi, atau kebiasaan baru selama hal tersebut sesuai dengan kebutuhan, minat, dan preferensi pribadi.
7. Menghargai Proses daripada Sekadar Pengakuan

Ciri lainnya adalah lebih mengutamakan perjalanan dan usaha yang dilakukan daripada sekadar pencapaian yang bisa dilihat orang lain. Mereka menyadari bahwa kesuksesan membutuhkan waktu, ketekunan, dan konsistensi yang tidak selalu terlihat di media sosial.
Sebagai contoh, seseorang mungkin sedang merintis usaha kecil, meningkatkan kemampuan diri, atau menata keuangan secara bertahap. Meski hasilnya belum terlihat besar di mata orang lain, mereka tetap menganggap setiap kemajuan sebagai bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Sikap ini berhubungan dengan motivasi otonom, yaitu dorongan untuk melakukan sesuatu karena memiliki tujuan dan alasan yang dianggap bermakna secara pribadi. Dalam teori yang dikembangkan Ryan dan Deci, motivasi yang didasari pilihan serta nilai pribadi dapat membantu seseorang tetap konsisten menjalani aktivitasnya.
Pada dasarnya, orang yang tidak merasa perlu mengikuti tren bukan berarti kehilangan ambisi untuk berkembang. Mereka hanya memilih menentukan tujuan, menghargai setiap proses, dan mengukur kesuksesan berdasarkan standar pribadi tanpa harus mengikuti ukuran keberhasilan yang sedang populer.
Pertanyaan seputar kepribadian orang yang tidak merasa perlu mengikuti tren agar dianggap sukses
Apakah orang yang tidak mengikuti tren berarti kurang memiliki ambisi?
Tidak. Tidak mengikuti tren bukan berarti seseorang tidak memiliki ambisi. Mereka mungkin memiliki tujuan hidup yang berbeda dan lebih memilih memusatkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting bagi dirinya. Alih-alih mengejar pengakuan orang lain, mereka cenderung fokus mengembangkan kemampuan dan mencapai target pribadi.
Apakah seseorang bisa tetap sukses meskipun tidak mengikuti standar kesuksesan masyarakat?
Tentu saja. Kesuksesan tidak selalu harus mengikuti standar yang ditetapkan masyarakat, seperti memiliki jabatan tinggi, rumah mewah, atau penghasilan besar. Setiap orang memiliki prioritas dan tujuan hidup yang berbeda.
Seseorang tetap bisa dianggap sukses ketika mampu mencapai target pribadinya, memiliki kehidupan yang seimbang, serta merasa puas dengan proses yang dijalani. Selama tidak merugikan orang lain dan tetap bertanggung jawab atas pilihannya, kesuksesan dapat memiliki makna yang berbeda bagi setiap individu.
Apakah orang yang tidak mengejar pengakuan sosial cenderung lebih mengenal dirinya sendiri?
Bisa jadi. Orang yang tidak terlalu bergantung pada penilaian orang lain biasanya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan, keinginan, dan nilai-nilai pribadinya.
Mereka cenderung mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan sendiri, bukan sekadar mengikuti ekspektasi lingkungan. Hal ini membantu mereka menjalani hidup dengan lebih terarah.
(kpl/sfz)
Advertisement









































